Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Kebakaran Besar di Masa Sayidina Umar r.a. (Maulana Rumi)



Sebuah kebakaran besar terjadi di masa
kekhalifahan Sayidina Umar r.a: kobarannya menelan bebatuan layaknya api menghancurkan kayu kering.

Api menelan rumah dan bangunan,
melonjak tinggi sampai mengancam burung-burung dan sarang mereka.

Separuh kota tertelan api; air bagai
gentar dan gagap menghadapinya.
Mereka yang masih bisa berfikir terus
menyiramkan air, bahkan cuka untuk memadamkannya.

Sungguhpun demikian, kobaran api
malah meningkat, sampai datang bantuan dari yang Tunggal,
yang tak-Terbatas.

Orang-orang bergegas mendatangi Umar r.a, sambil berkata,
"api itu sama sekali tidak dapat
dipadamkan dengan air."

Beliau r.a. menjawab, "api itu adalah
salah satu tanda dari Allah:
itu adalah kobaran dari api kejahatanmu.

Berhentilah menyiramkan air,
bagikanlah roti,
tinggalkanlah kerakusan,
jika kalian memang pengikutku."

Orang-orang itu menjawab, "Pintu-pintu
rumah kami selalu terbuka,
kami berbaik-hati dan pemurah.

Beliau r.a. berkata, "Kalian memberikan
roti hanya karena aturan dan kebiasaan, tidaklah tangan-tangan kalian terbuka bagi-Nya semata;

(Kalian bertindak) hanya untuk saling
membanggakan diri,
bermegahan dan pamer; bukannya
karena takut kepada-Nya,
pensucian diri dan permohonan ampun."

Kekayaan itu hendaklah ditanamkan,
bukannya sembarangan
ditebar di atas tanah bergaram,
janganlah meletakkan pedang ke tangan pembegal.

Bedakanlah antara kaum penjunjung ad-
Diin dengan musuh-musuh-Nya:
carilah Lelaki yang bersama dengan-Nya, dan sertailah dia.

Setiap orang berjasa kepada yang
sekaum dengannya:
orang bodoh, yang berjasa kepada kaum
tak-berpengetahuan,
merasa mereka sungguh-sungguh telah
beramal saleh untuk agamanya. [1]

(Rumi: Matsnavi, I no 3707- 3720,
terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Nicholson)
Catatan: [1] QS [2]: 11


syukron : pak hamdi akhsan

akhukum fillah arif zainurrohman

Tempatnya di dalam Kehangatan Dada (Maulana Rumi)



Syair-syairiku bagaikan roti dari Mesir:
boleh jadi seseorang jadi melewatkannya begitu saja,
dan engkau tidak dapat mengunyahnya lebih banyak lagi.

Karenanya, telanlah sekarang,
manakala dia masih segar,
sebelum debu dunia ini hinggap diatasnya.

Tempat yang tepat bagi puisi adalah di sini:
di dalam kehangatan dada,
di dunia luar sana, dia mati kedinginan.

Perhatikanlah seekor ikan,
taruhlah di atas tanah yang kering,
dia menggelepar beberapa menit,
setelah itu dia terdiam.

Bahkan jika engkau menelan puisi-puisiku sewaktu mereka masih segar,
engkau masih harus menghadirkan sendiri berbagai khayal.

Sesungguhnya, sahabatku,
yang engkau telan adalah khayal-mu sendiri.
Ini bukanlah sekumpulan peribahasa usang.


syukron : pak hamdi akhsan

akhukum fillah arif zainurrohman

Harapan telah Menyingsing (Maulana Rumi)

Harapan telah Menyingsing (Maulana Rumi)

Wahai jiwaku, jangan berputus-asa,
harapan mulai mengejawantah;
apa yang dinanti setiap jiwa
telah menyingsing dari semesta gaib.
Jangan berputus-asa,
walau Siti Maryam telah
meninggalkanmu,
tapi cahaya yang mengangkat Isa ke
langit telah muncul.

Jangan berputus-asa, wahai jiwaku,
dalam kegelapan penjaramu ini,
sang Raja yang membebaskan Jusuf-mu telah tiba.

Ya'qub telah muncul dari balik hijab
kebuntuan,
Yusuf yang kan menyibak hijab
Zulaikha telah tampil.

Wahai engkau,
yang sejak malam hingga fajar
memohonkan, "Yaa Rabb,"
Yang Maha Rahman mendengar
rintihanmu,
dan telah datang.

Wahai sakit yang telah menua: sembuh lah,
obatmu telah sampai;
wahai gerbang kukuh: terbuka lah,
karena kuncimu telah ditemukan.

Wahai diri yang berpuasa, menahan-
diri
dari hidangan di Meja Terhormat,
berbuka lah dengan gembira,
karena hari raya pertama telah dimulai.

Kini, hening lah, hening lah:
karena kebajikan dari perintah "kun,"
telah membuat hening ketakjuban
mengatasi semua pembicaraan.

Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 631.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A. J. Arberry


syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Apa yang akan Terjadi? (Maulana Rumi)

Apa yang akan Terjadi? (Maulana Rumi)

Jika bercerai engkau,
dengan keruwetan pikiranmu,
walau hanya satu jam saja;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Jika kau biarkan dirimu tenggelam,
bagaikan seekor ikan kedalam lautan cinta kami;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Engkau hanyalah sepotong jerami;
dan Kami Nyala Abadi.

Jika melompat engkau keluar,
dari gubugmu yang hina
untuk bersatu dengan nyala;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Telah ratusan kali kau nyatakan janji
untuk berhenti membesar-besarkan diri,
untuk merendah bagaikan Bumi.
Jika sekali saja,engkau patuhi janjimu sendiri;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Engkau bagaikan permata berharga,
terkubur, tersembunyi di dalam kubangan lumpur.

Jika engkau basuh semua ketidak-murnian dari wajahmu,
yang sejatinya sangat elok;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Jika sebentar saja engkau tinggalkan
keakuan dan kerakusanmu,
kau pecahkan tamengmu sendiri,
bangkit dalam sebuah pencarian
untuk menyatu dengan yang Ilahiah;
menurutmu, apa yang kan terjadi?

Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 844
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Nader Khalili, dalam Rumi: Fountain of Fire, Cal-Earth Press, 1994.

syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7


akhukum fillah arif zainurrohman

TENTANG DIAM (MAULANA RUMI)



Jika berita datang dari wajah Syamsuddin,
matahari di Langit Keempat menyembunyikan diri karena malu.
Sejak namanya hadir ke dalam hidupku,
harus aku sampaikan isyarat karunianya itu.

Jiwaku merenggut jubahku: ia menangkap parfum gamisnya Yusuf.
Ia berkata: ”Demi persahabatan kita
yang telah bertahun-tahun, ceritakanlah
salah satu dari kegembiraan yang luar
biasa,

Agar bumi dan langit dapat tertawa
dengan gembira, supaya akal dan ruh
serta penglihatan dapat meningkat
seratus kali.”

Aku berkata: ”Janganlah meletakkan
tugas kepadaku, karena aku telah hilang
dari diriku (fana); kepandaianku
tumpul, aku tak tahu bagaimana memuji.

Adalah tak pantas, apabila seseorang
yang belum kembali ke kesadaran
memaksakan diri untuk berperan
sebagai pembual.

Bagaimana aku dapat – tanpa sadar –
melukiskan Sang Teman yang tanpa
tolak bandingnya itu?

Penggambaran tentang luka hati yang
sepi ini sebaiknya kutunda hingga lain
waktu,”
Ia menyahut: ”Berilah aku makanan,
karena aku lapar, dan cepatlah, karena
waktu (waqt) adalah sebilah pedang
yang tajam.

Sufi adalah anak sang ’waktu’ (ibnul-
waqt), Wahai teman: bukan cara
kebiasaannya untuk berkata besok.

Maka, apakah engkau bukan seorang
Sufi? Apa yang ada di tangan jadi habis
berkurang karena tertundanya
pembayaran?

Aku berkata kepadanya: ”Lebih baik
rahasia Teman tetap tersamar:
dengarkanlah karena ia termasuk dalam isi cerita.
Lebih baik rahasia para pencinta
diceritakan dalam pembicaraan orang lain.”

Ia berseru: ”Ceritakanlah dengan jelas
dan terus terang tanpa kebohongan:
jangan membuatku menunggu, O orang
yang lalai!

Angkatlah selubung dan bicaralah terus
terang.
Aku tak berpakaian ketika tidur
bersama Yang Maha Terpuji.”
Aku berkata: ”Apabila Dia harus
telanjang dalam pandanganmu, takkan
tahan dada dan pinggangmu.

Mintalah, tapi mintalah secara wajar:
sehelai jerami takkan dapat menyangga
sebuah gunung.

Jika Matahari, yang menyebabkan
dunia ini bersinar,
lebih dekat sedikit saja,
semua yang ada akan terbakar.

Janganlah mencari kesulitan dan
kerusuhan serta pertumpahan darah:
janganlah bicara lagi tentang Matahari
dari Tabriz!”



syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

KESATUAN RUH (MAULANA RUMI)

KESATUAN RUH (MAULANA RUMI)

Jika mawar telah layu dan taman bunga pun telah musnah, 
kemanakah kita akan mencari
harumnya mawar? Dalam air-mawar.

Karena Tuhan tak dapat dilihat, maka
Dia mengutus para Nabi sebagai
khalifah-Nya.

Janganlah menyalahkan aku! Adalah
salah untuk beranggapan bahwa
khalifah dan Dia yang mengutusnya
adalah dua.
Bagi pemuja bentuk mereka adalah dua;
apabila engkau melepaskan diri dari
kesadaran bentuk, mereka adalah Satu.

Selama engkau perhatikan bentuk,
kegandaaanlah yang engkau lihat:
pandanglah, bukan pada mata, namun
pada cahaya yang memancar dari
keduanya.

Engkau takkan dapat membedakan
cahaya dari sepuluh lampu yang
dinyalakan secara serentak, sejauh
engkau hadapkan wajahmu pada
cahaya semata.
Dalam hal ruhani tiada pemilihan, tiada
bilangan, tiada kesaling-sendirian.?

Betapa indahnya kesatuan Sahabat
dengan para sahabat-Nya! Kejarlah ruh
itu dan dekaplah dalam dadamu.

Permalukanlah sikap yang suka
memberontak sampai ia punah:
temukanlah harta benda Yang Maha
Esa!

Singkatnya, dulu kita dan segala sesuatu
adalah satu esensi: kita adalah
gumpalan bersih seperti air.

Ketika Cahaya yang mempesona
mengambil bentuk, ia menjadi
bermacam-macam, laksana bayang-
bayang bentuk benteng.

Bongkarlah benteng gelap itu, sehingga
seluruh perbedaan akan hilang dari
tengah-tengah bentuk yang banyak.



syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Pengetahuan dan Jiwa (Maulana Rumi)



Hanya dengan “pengetahuan” saja, jiwa tidak dapat diuji;
Pengetahuan berlimpah, jiwa yang lebih agung pun abadi

Jiwa kita melampaui milik si bukan-insani;
Sebab, kian pengetahuan, ia makin dipahami.
Meski malaikat meyandang jiwa yang lebih mulia;
Sebab mereka serba kamil nan tak memendam rasa.

Penguasa snubari tetap punya jiwa;
Lampaui milik para malaikat! Tinggalkan amalan hina!
Itulah mengapa Adam pantas beroleh hormat
malaikat;
Jiwanya, telah Tuhan tinggikan, ungguli jiwa mereka.

Sebab, bagaimana mungkin Tuhan yang Arif berfirman palsu:
Yang lebih tinggi hormati yang rendah?
Tidakkah Keadilan dan Kasih Tuhan menentang.
Seutas onak tanpa harkat dipuja sekuntum mawar?
Apakah jiwa itu? Kesadaran akan baik buruk,
tak suka kerusakan, gandrung kebaikan.

Dan, sebab hakikat jiwa damba kesadaran,
Yang lebih sadar, lebih agung jiwanya.
Sepotong jiwa agung menembusi segala batas,
Semua jiwa lain memuja dan menaatinya.

Jiwa manusia dan malaikat, burung dan ikan;
Sebab jiwanya mengangkas sedang jiwa lain merana.
Dan karena kesadaran-ia damba,
Dan ini tidak mencipta kesan kecuali pada wilayahnya.

Jiwa yang lebih sadar, lebih kemilau;
Dan lebih karib mereka akan Tuhan, ilahi.
Sebab jiwa itu suatu keseluruhan yang bisa dikenali;
Mereka yang tanpa wawasan tanpa jiwa.


syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Orang Mukmin itu Satu (Maulana Rumi)



Orang-orang Mu’min itu banyak,
namun Iman itu hanya satu; 
tubuh mereka itu beraneka-ragam, 
namun jiwa mereka hanya satu.
Selain pengertian dan jiwa yang juga
dimiliki sapi dan keledai.

Manusia memiliki akal pikiran dan jiwa
lain.
Lagi pula, pada diri pemilik nafas Ilahi,
ada jiwa lain yang lain dari jiwa manusia.

Jiwa bintang tak
memiliki kesatuan:
jangan pula mencari kesatuan dari ruh halus itu.

Jika pemiliknya memakan roti,
tetangganya tak merasa kenyang;
tetangganya pun tak merasa terbebani,
jika dia memikul beban;
Bahkan senang atas kematian
tetangganya dan mati lantaran iri melihat
tetangganya sejahtera.

Jiwa serigala dan anjing bercerai-berai;
jiwa Singa-singa Tuhan berpadu
menjadi satu.

Jiwa yang kubicarakan
tentu saja jiwa mereka yang banyak,
karena Jiwa yang tunggal itu ratusan kali banyaknya kalau dihubungkan dengan badan.

Sama seperti tunggalnya cahaya matahari di langit,
menjadi ratusan kali banyaknya bila
menyentuh halaman rumah yang
disinarinya;

Namun apabila kau pindahkan dinding-
dinding,
seluruh cahaya yang berpendar itu satu dan sama juga.
Apabila rumah jasmani tak memiliki
fondasi yang tersisa,
Orang- orang Mu’min tetap satu jiwa.

JALALUDIN RUMI, Masnawi. IV, 408


syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

SAJAK-SAJAK FAKHRUDIN `IRAQI


terjemah : Abdul Hadi W. M.

DUNIA CINTA
Mana ada hati yang tak menyemburkan luka bila tertusuk cinta
Mereka yang tak pernah merasakan sakit cinta
Adalah lumpur yang tak berjiwa
Palingkan dirimu dari dunia,
belokkan kaki kelanamu dari sana
Songsong kerajaan cinta dan rasakan lezatnya

HATI NANAR
Lagi hati nanarku mengambil anggur cinta
Dan bersandar di dada cinta:
Lagi jiwaku menyerahkan diri padanya
Tenteram dalam buaian cinta
Ke dalam otak yang gundah anggur dituang
Buih mendidih berkat puji-pujian:
Beri aku anggur, sebab sekali lagi
Akan kutunjukkan kepala murungnya
Dalam pesona wajah-Mu molek
Sampailah jiwaku, masuklah kalbuku
Dalam hatiku, cinta yang lain tak punya
Tempat lagi, riang sudah datang
Burung cinta melayang ke dalam hatiku
Menyampaikan pesan Pencintaku
Dengan senang aku pun mati untuk-Nya
Dan hidup kekal bersama-Nya

HATI YANG RINDU
Hatiku yang rindu telah hampir pada-Mu
Tulang belulangku jauh di dalam penjara:
Mengapa Kau sembunyikan wajah-Mu dariku?
Namun cinta tak kenal rintangan
Kau lintah, aku sakitnya
Kau sedih, aku senang:
Kilau kencana-Mu, bagaikan anak panah
Tembus menusuk kalbuku
Walau anggur tak pernah nyentuh bibirku
Oleh rindu aku pun mabuk;
Di laut pedih-pedihmu
Kapal hidup dan harapku karam
O Kau yang senantiasa
Menyinarkan matahari baru di langit
Dalam gurun cinta-Mu
Aku tinggal dan mengembara

MANUSIA SEMPURNA DALAM CINTA
O Musafir, nyanyikan lagu keluh kesahmu
Kuingin nada lembutmu menyentuh jiwaku:
Bagi sembilan rupa cinta yang lembut
Tunjukkan rahasia hati pencinta ini
Sejenak tercerai dari Sahabat, aku mati:
Bangkitkan kembali kalbuku dengan gelombang hidupmu
Biar aku dapat menjejakkan kaki dalam lingkaranpara pencinta

Dan kucium cincinnya. Sejenak
Biar kulupa dunia, sejenak saja
Tak kuacuhkan nafsuku: hapus
Dan biar aku pindah segera
Ke dunia mabuk dan seperti mabuk
Akan kucipta tari, bangkit menjeritkan
Cinta penuh damba – sungguh akan kujeritkan
Cinta pada Kekasihku – dan berdiri tegak akudi puncak luhur cita.
Sayap kukepakkan
Seperti burung suci, terbang
Dari lamunan hampa ke hakekat murni
Kemudian, akan kuceritakan satu persatu
Keindahan Sahabat, cinta para pencinta.

(Terjemahan Abdul Hadi W. M.)


syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Heninglah di tengah Perdebatan (Maulana Rumi)

Heninglah di tengah Perdebatan (Maulana Rumi)

Ke tujuh-puluh dua golongan umat akan tetap ada di alam dunia ini sampai Hari Kebangkitan
Dunia ini alam yang berisikan
kegelapan dan pemberhalaan:

Bumi ini tempatnya bayang-bayang.
Ke tujuh-puluh dua golongan itu
akan tetap ada sampai Hari kebangkitan:
bantahan dan alasan orang bid'ah
akan tetap keras.
Banyaknya kunci atas harta-simpanan
menunjukkan ketinggian nilainya.

Jalan yang berliku-liku,
lintasan curam pendakian gunung,
tebing-jurang di kanan-kiri,
banyaknya penyamun menghadang,
semuanya petunjuk agungnya tujuan sang pencari.

Kebesaran Ka'bah dan tempat thawaf,
ditunjukkan oleh hadangan penyamun,
dan luasnya gurun yang harus dilintasi
ketika pergi berhaji.
Setiap ajaran palsu itu bagaikan
lintasan jalan di gunung:

curam, bertebing, berpenyamun.
Semua ajaran berhadapan,
dan menjadi lawan yang keras,
dari ajaran lainnya:
setiap pengikut masing-masing ajaran
menjadi bingung.

Karena dilihatnya semua lawan bersikukuh
pada doktrin masing-masing: setiap
golongan berbangga-diri akan kelompoknya.

Jika sudah tak punya jawaban lagi,
para pengikut akan berpegangan erat,
sampai Hari Kebangkitan,
kepada rumusan baku ini:
"para pemuka, leluhur golongan kami
tahu jawaban terhadap pertanyaanmu itu,
hanya itu masih belum kami pahami."

Hanya Cinta yang dapat menyelamatkanmu dari keraguan;
tiada hal lain yang dapat menghentikanmu dari godaan perberbantahan.
Jadilah seorang pencinta,
ringankan lah langkah pencarianmu,
bagai pemburu aliran air,
menjelajah dari sungai ke sungai.

Takkan pernah kau dapatkan air pembasuh jiwamu,
dari pihak yang mengeringkannya darimu.
Takkan kau pahami kebenaran
dari pihak yang menyedot pemahaman kebenaranmu.

Dalam Cinta yang agung dan berlimpah,
akan kau jumpai jenis-jenis kecerdasan,
yang berbeda dengan kecerdasan biasa.
Allah lah Pemilik berbagai kecerdasan,
yang berbeda dengan jenis kecerdasanmu;
kecerdasan yang mengatur makhluk makhluk di langit.

Kecerdasanmu itu hanya suatu jenis,
gunanya hanya untuk
mencari penghidupan di Bumi; (tak kau ketahui) terdapat jenis-jenis kecerdasan lain,
suatu Akal Sejati,
yang membuat susunan langit bagaikan bentangan karpet di bawah kakimu.

Ketika engkau mengorbankan akalmu,
dalam cinta kepada Rabb,
Dia menggantinya sepuluh kali lipat,
atau tujuh-ratus kali.

Ketika para perempuan ningrat Mesir saat itu,
mengorbankan akal mereka,
bergegas mereka ke harapan akan cinta
Yusuf.

Cinta: juru-minuman kehidupan,
menghabisi akal mereka dalam sekali
teguk; lalu sepanjang hidup,
mereka minum bagian hikmah masing-masing Keindahan Yang Maha Agung adalah sumber dari seratus Yusuf,
wahai pejalan fakir abdikan hidupmu
pada keindahan itu.

Wahai jiwa,
hanya Cinta yang dapat mengakhiri sengketa,
hanya Cinta saja yang datang menghampirimu
ketika engkau menjerit minta tolong
agar diselamatkan dari tengah perdebatan.

Kefasihan membisu di hadapan Cinta:
takkan ia berani bertengkar.
Karena sang pencinta takut,
jika ia membantah,
maka mutiara mistiknya akan terjatuh melalui mulutnya.

Ditutupnya mulutnya rapat-rapat
jangan sampai terpancing membantah,
dijaganya mutiara berharga itu
jangan sampai jatuh dan lalu hilang.

Ini seperti cerita para sahabat,
"Ketika sang Nabi membacakan ayat
dari al-Qur'an,
maka dalam saat penuh rahmat itu,
Rasulullah meminta kami
memperhatikan dengan penuh takzim."

Itu seolah-olah ada seekor burung langka
hinggap di atas kepalamu, dan engkau
gemetaran-takut mengagetkannya.
Engkau tak berani bergerak,
takut burung indah itu terbang.

Kau tahan nafasmu, kau tahan batukmu,
supaya burung itu tak pergi.
Apabila ada yang mengajakmu bicara,
kau letakkan jari di depan bibirmu,
artinya: "Hush, diam!"

Seperti itu lah ketakjuban:
ia membuatmu diam,
ia meletakkan tutup di atas cerek,
dan mengisimu dengan cinta yang
menggelegak.

Sumber:
Rumi: Matsnavi V: 3119 - 3250
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Nicholson.


Didapat : https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Saksi Terkasih itu (Maulana Rumi)

Saksi Terkasih itu (Maulana Rumi)

Muhammad (saw) itu pemberi syafa'at
atas segala jenis aib,
karena tatapannya tak pernah teralihkan
pada hal lain: senantiasa tertuju pada wajah Rabb.

Di tengah kegelapan malam alam dunia ini,
dimana matahari al-Haqq terhijab,
dia menatap Rabb,
dan meletakkan harapannya kepada-Nya.
Pandangannya senantiasa disegarkan
oleh makna sejati "bukankah telah Kami lapangkan dadamu?" [1]

Dilihatnya hal-hal yang tak mampu Jibril tatap.

Sang yatim, yang
kepadanya Rabb limpahkan
kesegaran pandangan,
menjadi mutiara yatim tunggal,
yang dianugerahi panduan Ilahiah.

Cemerlang cahayanya mengatasti mutiara lain,
karena yang dikehendakinya adalah kehendak yang paling mulia.
Seluruh kedudukan ruhaniah para abdi Allah
jelas belaka bagi sang Nabi,
karena Rabb menggelarinya: sang Saksi. [2]

Senjata sang Saksi adalah lisan yang
tulus dan pandangan yang tajam--
yang dari penjagaan malamnya--
tak ada rahasia yang dapat menghindar.

Walau pun ribuan saksi palsu
mengangkat kepala mereka,
sang Hakim mengarahkan telinganya
kepada sang Saksi.

Inilah yang dilakukan hakim
ketika menegakkan keadilan:
baginya saksi yang benar itu
bagaikan sepasang mata yang jernih.

Pernyataan sang Saksi selaras
dengan penglihatannya yang jernih,
karena dia telah melihat rahasia kebenaran,
dengan mata yang tak tercemari oleh kepentingan pribadi.

Saksi palsu telah melihatnya pula,
tapi tercemari kepentingan pribadi;
ini lah yang menjadi hijab,
yang menutupi mata-hati.

Adalah menjadi kehendak-Nya
agar engkau menjadi seorang asketik,zahid,
agar kau tanggalkan kepentingan
pribadi dan menjadi seorang Saksi, Syahid.

Aneka macam alasan dibalik kepentingan pribadi
menghijab mata, menghalangi penglihatan.

Orang yang penuh kepentingan pribadi
takkan dapat melihat keseluruhan sosok
persoalan: cinta pada ciptaan
membuat buta dan tuli.

Ketika Matahari Ilahiah menyematkan
cahaya di qalb sang Saksi, maka surut peran
bintang-bintang baginya.

Sejak itu dia menatap rahasia-rahasia
tanpa hijab dilihatnya perjalanan jiwa kaum
beriman dan kaum kufur.

Tidak lah Tuhan mencipta,
di Bumi atau di Langit yang tinggi,
sesuatu yang lebih gaib daripada ruh insan.

Telah Dia singkapkan rahasia segala sesuatu,
baik yang basah maupun yang kering,
namun Dia menutup rahasia ruh,
"katakanlah, ia termasuk urusan Tuhan-ku.[1]

Karena penglihatan saksi yang mulia
melihat ruh itu, maka sia-sia lah
tetap bersembunyi darinya.

Tuhan disebut Yang Maha Adil ,
dan saksi itu milik-Nya: saksi yang adil
adalah mata Sang Kekasih.

Sasaran pandangan mata Tuhan
di kedua dunia adalah kesucian hati:
tatapan Sang Raja tertuju pada orang yang terkasih.

Rahasia cinta-kasih-Nya,
yang bermain-main dengan kekasih-Nya
adalah sumber dari seluruh tabir
yang telah Dia ciptakan.

Oleh karena itu Rabb Maha Pengasih
berfirman pada sang Nabi di malam mi'raj,
"Jika bukan karena engkau,
niscaya takkan Kuciptakan alam."

Catatan:
[1] "Alam nasyhrah laka shadraka"
QS al-Insyirah [94]: 1
[2] "... agar Rasul menjadi saksi atas dirimu,
dan agar kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia..." QS al-Hajj [22]: 78
[3] "... qulir-rruuhu min amri rabbii ..."
QS al-Isra [17]: 85

Sumber:
Rumi: Matsnavi VI: 2861 - 2884
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Nicholson.



Didapat : https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Ambang-batas Dua Alam (Maulana Rumi)

Ambang-batas Dua Alam (Maulana Rumi)

Wahai para pecinta,
genderang langit telah memanggilku,
dan berseru: sudah saatnya kau
tinggalkan dunia ini.

Lihatlah!
Sang penunggang unta telah bangkit,
kafilah ini segera bertolak.
Dia berkata, “maafkan aku membangunkanmu,
tapi, wahai peziarah, mengapa kau tertidur?

Karena di depan maupun di belakangmu
bel unta nyaring berbunyi.
Saatnya untuk berangkat.”
Pada setiap saat,
berangkat suatu jiwa mencari dirinya sendiri.

Dari arah gemintang,
yang menggantung bagaikan rangkaian lilin,
dari lengkung biru langit:
turun lah jiwa-jiwa nan cantik;
dan Yang Tersembunyi menyingkapkan Diri.

Selama ini,
semesta dunia yang melengkung,
berputar-berayun,
telah menina-bobokkanmu.
Waspadailah hidup yang menggantung ini,
waspadailah dengkurmu yang berat.

Wahai qalb, carilah Sang Raja Qalb
Wahai awliya, carilah Sang Wali Abadi.
Wahai Sang Penjaga, selalulah waspada
seluruh negeri ini bisa terkalahkan,
jika engkau tertidur.

Malam ini,
ditingkahi hiruk-pikuk kota,
di tengah cahaya lilin dan obor;
Malam ini,
alam yang fana ini akan melahirkan keabadian.

Dahulu engkau debu,
kini engkau Ruh.
Semula engkau jahil,
kini engkau bijak.

Tokoh yang membawamu kesini,
akan terus memandumu ke depan.
Apa yang menyakitimu
akan menjadi nikmat bagimu,
ketika Dia menarikmu kepada-Nya.

Jangan gentar,
nyalanya sejuk bagai air segar.
Menghidupkan jiwamu adalah tugas suci-Nya.
Mematahkan rantai pengikatmu adalah misi-Nya.

Wahai boneka dungu,
yang melompat dari kotakmu,
tentang dunia ini engkau menyeru
nyaring:
milikku, milikku!

Tak hentinya engkau melompat-lompat
gaduh.
Jika itu tak menyebabkan lehermu patah,
Dia yang akan mematahkannya.
Engkau hina makhluk lain,
dan kau tebar jaring tipu-daya.

Wahai pemalsu,
apakah menurutmu Rabb itu suatu mainan?
Wahai keledai,
tempatmu bersama jerami.

Wahai tungku,
sepantasnya engkau hitam-legam.
Wahai yang terbuang,
memang pantas engkau tinggal di dasar sumur.
“Dalam diriku ada kekuatan suatu lain
yang melontarkan kata-kata tajam ini.

Cairan yang mendidih itu
disebabkan oleh api, bukan air.”
Tanganku tak menggenggam batu,
aku tak bermusuhan dengan seorang pun.

Tak kurendahkan siapa pun,
sebenarnya aku selembut kelopak mawar.
Sumber Tertinggi bicara melaluiku.

Engkau telah diberi sebuah isyarat--
cukuplah itu.
Kini aku duduk diam disini,
di ambang-batas ke dua alam.
Tenggelam dalam keelokan kesunyian.

Sumber:
Rumi, Kulliyat-e Shams, Ghazal no 1789
Badi-uz Zaman Furuzanfar (ed.)
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Jonathan Star, dalam Rumi, In the Arms of the Beloved, hal 61.


Didapat : https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7


akhukum fillah arif zainurrohman

Fajar Harapan telah Menyingsing (Maulana Rumi)

Fajar Harapan telah Menyingsing (Maulana Rumi)

Wahai jiwaku, jangan berputus-asa,
harapan mulai mengejawantah;
apa yang dinanti setiap jiwa
telah menyingsing dari semesta gaib.

Jangan berputus-asa,
walau Siti Maryam telah meninggalkanmu,
tapi cahaya yang mengangkat Isa ke
langit telah muncul.

Jangan berputus-asa, wahai jiwaku,
dalam kegelapan penjaramu ini,
sang Raja yang membebaskan Jusuf-mu
telah tiba.

Ya'qub telah muncul dari balik hijab kebuntuan,
Yusuf yang kan menyibak hijab Zulaikha telah tampil.

Wahai engkau,
yang sejak malam hingga fajar memohonkan, "Yaa Rabb,"
Yang Maha Rahman mendengar rintihanmu,
dan telah datang.

Wahai sakit yang telah menua: sembuhlah,
obatmu telah sampai;
wahai gerbang kukuh: terbuka lah,
karena kuncimu telah ditemukan.

Wahai diri yang berpuasa, menahan-diri
dari hidangan di Meja Terhormat,
berbuka lah dengan gembira,
karena hari raya pertama telah dimulai.

Kini, heninglah, heninglah:
karena kebajikan dari perintah "kun,"
telah membuat hening ketakjuban
mengatasi semua pembicaraan.

Sumber:
Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 631.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A. J.
Arberry


Didapat : https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Sang Khalilullah Menyembelih Merak, Unggas ke Dua Pengganggu Perjalanan (Maulana Rumi)

Sang Khalilullah Menyembelih Merak,
Unggas ke Dua Pengganggu Perjalanan (Maulana Rumi)

Sekarang saatnya kita bahas merak,
unggas yang memiliki dua warna bulunya,
karena dia berwajah-ganda,
senang pamer diri,
haus nama-besar dan kemasyhuran.

Hasratnya adalah untuk mendapat pengikut,
tak peduli benar atau salah,
tak peduli akibat dan nasib pengikutnya.

Ia menangkap sembarang pengikut,
seperti jebakan, yang tak mengerti
apa tujuan tindakannya.
Asal tangkap saja,
tak berpengetahuan soal manfaat
atau mudharat menangkap pengikut.

Ia bisa habis-habisan memuji kawan-kawannya,
lalu meninggalkan mereka.
Seperti itu kebiasaannya sejak dulu,
menjebak orang dengan cinta palsu.

Wahai, apa yang kau harapkan
dari kebiasanmu mencari pengikut
dan bergerombol, lalu saling
membanggakan dan mementingkan diri?
Lihat dan buktikanlah sendiri!

Umurmu nyaris habis,
hari telah senja,
masih saja engkau sibuk
mengejar manusia.
Terus menerus mengejar seseorang
sambil melepaskan orang lain.
Seperti permainan anak kecil saja.

Sampai malam datang,
dan tiada buruan berharga dalam jebakanmu:
jebakan itu tak lebih daripada penyebab
deritamu dan rantai pengikatmu.

Jadi sebenarnya engkau menangkap
dirimu sendiri dalam jebakan itu,
karena engkau tertipu dan terpenjara oleh hasratmu sendiri.

Apa ada penjebak binatang di dunia ini
yang lebih dungu daripada kita,
berupaya menangkap diri sendiri?
Memburu hal yang rendah itu seperti berburu babi: sangat melelahkan
dan dagingnya haram dimakan, walau cuma sekerat.

Yang pantas diburu itu hanya Cinta saja:
bagaimana mungkin menangkap Cinta dalam jebakan kita?
Yang mungkin terjadi adalah jika engkau
menjadi buruan-Nya; tinggalkan
jebakanmu dan masuklah kedalam jebakan-Nya.

Yang tercinta berbisik sangat halus
ke telingaku:
"Menjadi buruan itu lebih baik daripada menjadi pemburu.
Jadikanlah dirimu tolol untuk-Ku,
dan seperti dungu: tinggalkan kedudukan
tinggi seperti matahari, jadilah debu.

Tinggalkan tempat tinggalmu
dan menggelandanglah di pintu-Ku:
jangan bersikap seperti lilin jadilah ngengat.
Sampai kau rasakan cita-rasa Hidup,
dan memahami kedaulatan yang
tersembunyi dibalik penghambaan."

Pahamilah bahwa tampilan di alam-
dunia ini terbalik-balik: gelar "raja" disematkan
pada orang-orang yang sebenarnya tawanan.
Banyak orang yang pantas digantung
diagung-agungkan masa bagaikan pemakai jubah kaisar.

Mereka seperti kuburan kaum kufur,
yang tampak bagaikan jubah al-Jannah,
sementara didalamnya berlangsung murka dari Dia yang Maha Agung, Maha Kuasa.

Pecinta dunia telah disemen bagai kuburan,
hijab bangga-diri rapat membungkus.

Makhluk malang itu menghias diri dengan kebajikan palsu,
seperti pohon kelapa tanpa memiliki daun atau berbuah.

Catatan:
Puisi tentang 'merak,' unggas ke dua dari empat
u
Sumber:
Rumi: Matsnavi V 395 - 419.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson



Didapat : https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Seseorang Yang Tak Akan Tergantikan

Luka itu terasa lagi. Tiap malam aku selalu berharap langit terbelah dan kamu turun dari surga dan bilang kalau kamu hanya bercanda. Aku tak bisa melupakan kejadian hari itu. Aku ingat bagaimana senyum lebarmu tiba-tiba langsung berganti jadi kesakitan. Semuanya dirampas dariku dalam hitungan detik. Aku tak bisa, aku benar-benar tak bisa melupakanmu. Aku rindu sekali padanyamu. Kamu sangat sehat hari itu, sangat sehat, semuanya tak ada yang berbeda, semuanya sama seperti biasa, lalu dalam sekejap…


akhukum fillah arif zainurrohman