KISAH NYATA, CERITA CINTA DARI ORANG YANG SUDAH MENINGGAL ...

Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Kisah ini merupakan kisah nyata yang saya alami, saya punya pacar ketika saya Kuliah semester pertama di bangku kuliahku teknik arsitektur, kami begitu dekat, dia seorang yang sangat baik.

Seorang wanita yang sangat saya sayangi, begitu juga dia kepada saya, berselang 2 Tahun kemudian, ketika diperjalanan menuju sebuah kota, dia pergi sendirian menggunakan motor bebek yang sering dia pakai kemana-mana.



Sebelum berangkat dia sempat sms "aku pergi ya, jaga diri baik-baik" nanti aku kabarin kalo udah sampe sana, ternyata hari itu dan sms itu merupakan sms terakhir dia untuk saya.

Hari naas itu terjadi pada dirinya, tidak lama dari berangkat sekitar 30 menit diperjalanan dirinya kecelakaan, sebuah mobil melaju kencang menyerempet, dia terseret sekitar 10 meter dan terdapat luka besar dibagian kepala, saya pun tidak tau itu terjadi, dengan tenangnya saya masih sempat sms dia setelah kecelakaan, dengan bercanda, "iya aku tunggu kamu sampai, hati-hati dan baik, jangan lupa kasih kabar ya".

Sudah larut malam tidak ada kabar sedikitpun dari dirinya, saya bingung harus melakukan apa, saya coba main belakang, itu karena rasa prustasi saya yang sudah berlebihan.

Keesokan harinya saya mencoba menelponnya pagi-pagi buta, handphonenya masih saja tidak aktif, saya pasrah kemudian saya berpikir mungkin chargenya tertinggal.

Dia yang waktu itu sudah dibawa kerumah sakit terdekat blom sadarkan diri, disaat saya bertanya dimanakah dia ?

Siang itu menjelang, saya mencoba jalan-jalan untuk refreshing, tidak lama kemudian ada suara sms di handphoneku, yang berisikan "adik imam, reina sudah pergi",. itu merupakan sms dari kakaknya yang sudah akrab dengan saya.

saya pun menjawab sms itu dengan simple "iya mbak aku sudah tau kok, kemeren kan dia pergi".

disaat saya sedang duduk bersama teman teman, tidak lama handphone kembali bersuara, ada sms balesan dari kakaknya, "imam reina sudah pergi, dan dia pergi untuk selamanya". saya kemudian lemas dengan harapan kalo pergi untuk selamanya bukan meninggal melainkan pindah rumah.

saya langsung menelpon, ketika diangkat tidak ada sedikitpun percakapan, selain saya mendengar raung tangisan yang sejadi jadinya. tidak lama saya pingsan.

saya pun sudah sadar ketika saya sudah dirumah, saya tidak tau apa yang terjadi, yang saya tau hanya saya ingin bertemu reina, saya langsung pergi kerumahnya malam itu, saya melihat sudah ramai orang orang berpeci, saya masih sempat bingung apa yang terjadi, ketika saya masuk, saya melihat sebujur mayat di tengah tengah ruangan tamu rumah itu.

Saya terhenyak, dan saya dengan sekejab mendekat,saya bertanya kepada orang-orang, siapa yang

meninggal, dan mereka mengatakn reina,saya berteriak sejadi-jadinya, saya melihat wajah reina yang terdapat goresan-goresan luka, saya tidak bisa membayangkan lemahnya saya saat itu.

Seseorang yang sudah sangat lama saya kenal pergi untuk selamanya,saya sadar kematian bisa kepada siapapun, saya, anda dan siapapun, sesuai kehendak dan waktunya.

3 Tahun berselang, saya berulang kali mimpi tentang dirinya, terakhir 5 hari yang lalu tepat tanggal 15 oktober saya kembali bermimpi, mimpi yang menyadarkan saya betapa sayang dia kepada saya, dan menyadarkan saya bahwa apa yang harus kita lakukan di dunia ini lebih baik.

dalam mimpi itu, saya bermimpi seperti nyata dan benar-benar terlihat nya, kami bertemu di depan kampus, saya bercerita-cerita, didalam mimpi itu saya sadar bahwa dirinya sudah meninggal, saya bilang sudah lama kita tidak bertemu ya, "iya sudah hampir 3 tahun ini" jawabnya, saya kangen kamu timpal kembali jawaban saya.

Saya bertanya, selama 3 tahun didalam kubur apa yang kamu lakukan, Dia menjawab dengan santai, tapi ternyata ini adalah peringatan besar untuk saya, dan anda, jawabannya sangat sederhana " mam kalo saya ceritakan apa yang terjadi kepada saya selama 3 tahun didalam kuburan, tidak akan ada lagi kejahatan di dunia".

Siksaan dan hukuman yang tidak pernah dibayangkan orang yang masih hidup, dan kamu berbuat sebaik mungkin sebelum ajal dan meninggal seperti aku.
Aku pengen hidup sehari saja untuk memperbaiki semua kesalahan aku.
itu kalimat ucapan reina yang membuat jantung saya langsung berdetak.

Tidak lama dalam mimpi itu dia mau pamit dan pergi, dan yang saya sangat herankan seperti sebuah kenyataan, ini seperti reka ulang 3 tahun yang lalu, dia pamit seperti disaat saat kematiannya, dia bilang baik-baik ya, jaga diri, dia pergi menggunakan motor dan pakaian yang sama pada saat kecelakaan, aku bilang, aku mau ikut, aku tidak mau kamu pergi, gak usah ikut aku. tidak lama dia pergi, aku kejar dan dia telah menghilang.

saya tersadar dari tidur dan disaat saya tersadar, tubuh langsung merinding, tapi sangat segar tidak seperti biasanya, saya berpikir mungkin mimpi itu membawa saya kedalam alam lain, karena konon 1 hari di dunia, perbandingannya sekian kali lipat di alam sana.

Sampai saat ini saya masih saya masih sangat terpikir dengan pesan-pesannya, bahwa betapa menyesalnya kita bila kita tidak berbuat sebaik mungkin di dunia, karena kita tidak tau ketika kita sudah meninggal, apa yang akan terjadi dialam sana, semoga dengan cerita saya ini bisa menggugah kita.

Mari kita menabung amal ibadah kita dari sekarang, karena ketika kita mati sudah tidak ada kesempatan lagi.


Wallahua’lam bish Shawwab...


Kisah Nyata :SEMUA MENINGGALKAN-KU SETELAH AKU BERHIJAB (JILBAB)

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... "Ya Allah, akhirnya dengan hijab ini aku dapat merasakan lezatnya nikmat iman."

Diakui atau tidak, baik atau buruknya perilaku seseorang itu, juga tergantung dengan siapa ia bergaul. Ketika sahabatnya adalah orang-orang yang memiliki akhlakul karimah (akhlak yang mulia), maka, secara tidak langsung ia telah ikut merasakan langkah sahabat-sahabatnya yang mulia.

Begitu pula sebaliknya, ketika yang mejadi teman gaul itu adalah sekelompok orang yang jauh dari cahaya Allah, kita pun akan mengikuti mereka sedikit demi sedikit. Sebab itu, kita perlu mewas diri dengan siapa kita bersahabat, sehingga tidak menyesal di kemudian hari.



Mungkin, karena kecerobohan saya dalam memilih teman itulah, yang telah menjerumuskanku ke jalan yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam.

Dua puluh tahun lalu, tahun 90-an, mengamen di kampus-kampus, terminal-terminal, telah menjadi pilihan gaya hidupku. Padahal, di lain pihak, orangtuaku termasuk orang yang berada (berkecukupan), untuk membiayai kuliah, kos dan sanguku.

Bahkan, beliau termasuk pengurus salah satu organisasi Masyarakat Islam terbesar di Indonesia, yang mana, jam terbang dakwahnya cukup tinggi. Namun, sekali lagi, karena salah pergaulan, justru jalan setan inilah yang menjadi pijakanku, sebelum akhirnya hidayah merasuk ke dalam sanubari.

Pengalaman buruk itu bermula dari aku menjadi mahasiswi di sebuah universitas di Malang. Aku sendiri lahir dari Sidoarjo. Karena jauhnya lokasi rumah dan kampus, maka saya lebih memilih untuk mengekos di lokasi yang tidak jauh dari kampus.

Terus terang, sejatinya aku menjalani proses perkuliahan itu dengan setengah hati. Tidak ada keseriusan di dalamnya. Oleh karenanya, untuk mencari hiburan, aku mendaftarkan diri untuk masuk group theater. Di sini, meskipun tidak sering, kami kadang-kadang diundang untuk mengisi beberapa acara.

Seiring dengan terus berjalannya waktu, tumbuh keinginan untuk mengikuti profesi beberapa temanku, yaitu mengamen. Bedanya, kalau mereka mengamen untuk memenuhi biaya hidup, sedangkan aku, menjalaninya hanya untuk mencari kepuasan dan kesenangan diri semata.

Gayung bersambut, ternyata teman-temanku itu sangat responsif terhadap keinginanku tersebut. Sejak itulah, karir sebagai penyanyi jalanan di mulai.

Kampus-kampus terbesar di Malang seperti; IAIN (yang kini berubah menjadi UIN), IKIP, UNIBRAW, adalah diantara target kami. Namun, tidak jarang juga kami melebarkan sayap jangkauan kami, ke daerah Batu, karena memang di sini tempat para wisatawan luar negeri, yang mana jika mereka memberi, relatif lebih besar dari pada orang-orang pribumi.

Dari hari ke hari, aku benar-benar dimabuk cinta oleh aktivitas baruku ini. bisa dibilang saat itu aku sudah 'gila', 'gila' ngamen.

Bayangkan, meskipun statusku sebagai mahasiswi, namun, intensitas dalam mengamen, dan jauhnya jangkauan yang harus ditempuh, bisa dibilang, mengalah-ngalahi, mereka yang memang berprofesi sebagai pengamen sejati, sekalipun mereka itu cowok. Aku dan beberapa teman tidak lagi mengamen di kampus-kampus, namun juga sudah menuju terminal-terminal.

Disergap Satpol PP ...

Pernah pada suatu hari, ketika sedang asik melantunkan sebuah lagu di terminal Arjosari, Malang, kami disergap oleh Satpol PP Karena kelihaian kami bersilat lidah, akhirnya, kami dilepaskan, "Pak, kita ini para mahasiswi yang sedang praktek lapangn, yang meneliti tentang kehidupan para pengamen," jelas kami waktu itu yang langsung dipercayai.

Tapi pengalaman itu rupanya tak pernah menyurutkan ku menghentikan kebiasaan gila ini.

Tak puas hanya berkutat di daerah Malang saja, akhirnya kami beranikan diri untuk memperluas daerah jangkauan. Tidak tanggung-tanggung, daerah yang kami tuju adalah Lumajang, bahkan, karena saking kuatnya tekat untuk mengamen, kami berani mengamen hingga ke Madura, Banyuwangi, bahkan Bali sekali pun. (Astaghfirullaha 'Adziim, semoga Allah mengampuni masa laluku).

Aktivitas yang demikian ini, terus aku jalani hingga aku duduk di semester enam. Meskipun demikian liarnya pergaulanku saat itu, orang tuaku tidak pernah mengetahuinya. Dan Alhamdulillah-nya, meskipun tidak terlalu baik, setiap kali ujian semester, aku selalu lulus. -mungkin- hal inilah, yang membuat orang tuaku tidak curiga dengan aktivitas saya.

Tapi memang di balik itu semua, terlihat keinginan mereka agar aku bisa memperbaiki kostum pakaianku. Memang pada saat itu, baju yang ketat dengan bawahan seperti jeans, menjadi pakaian favoritku. Ditambah lagi dengan rambut yang terurai bebas.

Datangnya Hidayah ....

Senikmat apapun hidup di tengah kegelapan cahaya Allah, tetaplah itu semua kenikmatan semu, yang tidak akan pernah mencapai kenikmatan hakiki yang mengarah kepada ketenangan jiwa, dan kesejukan hati.

Semakin hawa nafsu itu dituruti, sejatinya jiwa ini semakin haus, rindu akan siraman ketenangan. Namun, karena hawa nafsu begitu dominan, yang terjadi hanyalah pengingkaran, pengingkaran jeritan hati. Sehingga, meskipun ia terluka, mulut masih bisah tetap tertawa dengan sumringahnya.

Begitu pula dengan diriku. Sejatinya hatiku menjerit, mengakui kekeliruan jalur yang aku pilih. Hingga terjadilah suatu pristiwa, yang cukup menggugah diriku, yang kemudian menjadi titik awal kembalinya saya ke fithrah
Ilahiyah.

Hari itu (akhir dari tahun 1993), tersebutlah salah satu teman kosku yang baru saja menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Pada dasarnya, ia juga termasuk tipe orang yang kurang memperhatikan hijab, termasuk aurat (jilbab).

Tapi, karena tempat PKL-nya di sekolah Muhammadiyah, maka ia pun "terpaksa" menggunakan hijab tersebut. Di tengah-tengah ia merapihkan pakaiannya, saya tertegun melihat jilbab yang sedang ia lipat.

Seketika itu saya memberanikan diri untuk memintanya, "Mbak, jilbabnya saya ambil aja yah," ujarku kala itu. "Untuk apa?" timbalnya "Ya, mungkin suatu hari nanti aku akan memakainya. Sekalian buat kenang-kenangan. Mbak kan sudah mau selesai kuliahnya," ujarku. Akhirnya jilbab itu ia berikan juga.

Setelah ia menyerahkan jilbab itu, saya langsung menjoba mengenakannya. "Wah mbak cantik juga kalau pakek jilbab," ujar beberapa teman mengomentari ulahku. Ada rasa nyesss, tatkala aku bercermin dan melihat penampilanku berjilbab saat itu. Sepertinya setes embun telah membasahi hatiku. Rasanya sejuk sekali. Maka mulailah aku berfikir untuk menggunakan jilbab.

Meski demikian, masih terngiang dengan jelas di benakku, bagimana reaksi kedua orangtuaku nanti? Diam-diam aku pulang dengan penampilan baru, berjilbab. Tapi tetap saja, itu hanya bagian atas. Sebab, pakaian bawah, masih standar jahiliyah, menggunakan jeans.

"Nah, beginilah nak seharusnya seorang muslimah berbusana," puji orangtuaku dalam raut wajah cukup kaget dan linangan air mata. Mungkin karena suka nya, mereka mengajakku memborong pakaiaan muslimah. Alhamdulillah, sejak saat itu, tekad ku menggunakan jilbab semakin kuat.

Terror dari Segala Penjuru ....

Namun, perjalanan ini rupanya tak semulus yang aku kira. Yang ada justru jalan terjal, lagi berbatuan. Akan tetapi, justru jalan yang demikian inilah, yang kemudian hari akan menghantarkan seseorang merasakan manisnya perjuangan, indahnya keimanan.

Setibanya di kampus aku diselimuti keraguan untuk menggunakan jilbab. Penyebabnya, tentusaja mempertimbangkan reaksi teman-temanku, yang sepertinya mereka fobia terhadap jilbab. Maka, untuk menghindari itu semua, aku pun 'kucing-kucingan' bersama mereka.

Kalau kuliah malam hari, saya mengenakan jilbab, kalau siang, akupun melucutinya alias bongkar-pasang. Pekerjaan ini berjalan hingga lima bulan. Tapi, lama-kelamaan, aku sendiri tidak kuat dengan permainan ini. Sebab itu, aku beranikan diri untuk berkata jujur kepada mereka, bahwa aku ada aku yang sudah dengan penampilan baru.

Apa yang saya kuatirkan sebelumnya benar-benar terjadi. Teman-temanku mencemooh dan mengkerdilkanku, "Apa kamu ingin menjadi pocong dengan pakai jilbab!". "Kalau kamu pakai jilbab, kamu tidak akan bebas.Kamu akan selalu terkekang," ujar yang lain. Semua itu, sangat mengiris-iris hatiku.

Tidak cukup dengan omongan saja mereka berperilaku buruk (yang sebelumnya sangat-sangat akrab), mereka juga dengan serempak menjauhiku. Seorang memboikot penampilanku, mereka hilang satu-persatu.

Jadilah aku "sebatang kara". Melihat kondisi kampus yang tidak kondusif ini, saya bermusyawarah dengan orangtua mengenai permasalahanku. Akhirnya diputuskan, pulang-pergi sebagai alternatifnya, sekalipun itu sangat jauh Malang-Sidoarjo.

Ternyata harapan untuk menggunakan hijab dengan mudah di rumah sendiri, tidak semudah membalik telapak tangan. Di sini pun aku dikucilkan oleh beberapa saudara.

"Perilaku masih kayak gitu kok pakai jilbab."

"Nanti saja makai jilbabnya. Kamu itu masih belum menikah. Entar gak laku melihat penampilanmu yang aneh ini," ujar sebagian dari mereka.

Akan tetapi, sebesar apapun angin dan badai hinaan menghantam, aku telah bulatkan niat untuk tetap menggunakan jilbab. Agar pengetahuan agamaku semakin bertambah, maka, akupun melahap buku-buku agama, yang aku beli di toko-toko buku.

Karena membaca pengalaman betapa sukarnya berjalan di jalur yang diridhai Allah, setiap kali melaksanakan shalat, aku senantiasa berdo'a kepada-Nya.

"Ya Allah, sudilah kiranya Engka memberikanku pendamping hidup yang mendukung apa yang aku yakini sebagai kebenaran ini," begitu doaku.

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do'a-do'a hambanya. Melalui perantara kedua orangtuaku, aku akhirnya dijodohkan dengan seorang aktivis dakwah yang sebelumnya tak pernah aku kenal.

Aku sangat bersyukur berdampingan dengannya. Selain ia sebagai figur suami yang baik, ia juga merupakan sosok pembimbing yang senantiasa mengarahkan ke pada jalan yang benar, yang diridhai oleh Allah. Yang sangat membahagiakanku, ia adalah seorang yang sangat mengerti agama dan seorang dai.

Saat ini, kami telah dianugerahi dua putra dan dua putri. Selain sibuk mengurusi rumah tangga dan mendidik anak-anak, aku juga aktif di organisasi muslimah yang berada di bawah naungan salah satu harakah Islam.

"Ya Allah, kini akhirnya aku dapat merasakan lezatnya nikmat iman ini."

"Wahai para Muslimah, gunakanlah hijab sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh agama (Islam) yang indah dan mulia ini. Dengan hijab itu identitas kalian akan lebih jelas. Tanpanya, bukan hanya keimanan kita saja yang kurang nampak, namun, keislaman kitapun patut dipertanyakan."

[kisah ini diceritakan langsung oleh Ibu Fina kepada hidayatullah.com/Robin Sah/hidayatullah/dg sedikit perubahan]


Terpaksa Menikah

     Berikut adalah sebersit cerita dari seseorang , lebih tepatnya perbincangan atau sharing antara laki laki dengan laki laki . Semoga bermanfaat, bisa diambil hikmahnya/pelajarana. aamiin

siswa : assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

guru  : waalaikum salam warahmatullah wa barakatuh

siswa : saya mau tanya lagi pak
           ada seorang lelaki yang sudah beristri dan punya anak
           hidup mreka bahagia dari semua segi
           materi/agama dll
           kemudian di hadapkan pada 1 perempuan yg begitu mencintai laki - laki itu
           sang istri ikhlas di madu
           tapi laki" itu gk mau
           dya nikah hanya karena permintaan sang istri
           tapi lelaki itu memberi nafkah perempuan itu
           tapi gk pernah berduaan
          gk pernah berhubungan badan
           pernikahan seperti itu gmn hukumnya ?

guru  : ya.... kalo istri sudah masuk masa dimana seks bukan kebutuhannya... ya ... artinya ga buth itu...ya                gpp, tapi kalo istrinya butuh yaa... harusnya suaminya berusaha untuk memenuhi...

siswa : masalah seks
           kalau hanya menyatukan badan saja
           tanpa cinta
           tanpa ikhlas
           apakah tidak apa"

guru  : cinta itu kan urusan hati, ya... setahu saya ga ada sangkutannya sama syrat sah-nya nikah...
        menurut saya nikahnya tetap sah... tetapi kurang toyyib aja, karena ada unsur keterpaksaan didalamnya

siswa : tapi bukannya itu malah menyakiti sang istri kedua sekaligus sang suami
           mungkin memang istri pertama berserah diri
           istri kedua selalu berharap dapat kasih sayang
            tapi yg ada malah sikap sinis
            sang suami juga jadi mulai pudar rasanya sama istri pertama
            blom lagi kalau sang suami sama istri kedua depresi
            akhirnya jadi alkoholic
            apa itu yg di inginkan dengan sang istri ke 2 ?
             itukah cinta yang di harapkannya ?
            sang istri pertama mungkin dengan yakinnya akan mendapat surga
            apakah akan benar bgtu ?
            saya pikir mudharatnya jauh lbih byk dri pada manfaatnya
            masalah cinta masalah hati
            masalah hati itu masalah kejiwaan
            bgtulah pemikiran saya mengenai kemungkinan" yg mungkin terjadi

guru  : intinya sbetulnya motivasi awalnya yang salah. Krena keterpaksaannya itu. Sedangkan nikah, juga                 perlu kerelaan.

siswa : lalu haruskah itu terjadi pak ?
           bagai mana kalau peristiwa ini terjadi pada saya / bapak / teman kita / org" yg kita kenal ?
           apakah kita kurang bersyukur ?

guru  : yang pertama dilakukan ya... mendu'akan....

siswa : kalau yg terjadi adalah kematian pada sang suami akibat depresi ?
           saya rasa istri pertamanya ntah akan sesakit apa
            kemudian yg istri kedua
            trus anak"

guru  : hehe... panjang amt nak (nama disamaran) ... ntar atau besok lagi deh, pas saya senggang... skr lagi               kerja

siswa : ia
            jazakallah pak

guru  : Jazakallah aidhon



akhukum fillah arif zainurrohman

Harapan itu.. keajaiban itu.. dan. Luka itu..

“Aaaaaaaaaaaa..... Pangeran Ramdanku, tolong selamatkan aku...”. Genggaman tanganku pada ranting kayu itu semakin melemah. Dibawah sana, buaya – buaya yang lapar sedang membuka mulut lebar – lebar untuk menyambut makananya.
“Iya Putri Ochaku, aku akan menyelamatkanmu.. Cepat genggam tanganku erat – erat..!!”. Kata sang pengeran sambil mengulurkan tangannya pada sang putri.
“Tidak pangeran aku takut”.
“Ayo cepat putri, genggam tanganku.. !!”. Pangeran terus berusaha untuk meraih tangan sang putri.
“Tidak pangeran.. A... a.... aaaaaaaaaaaaaaaa”. Aku tidak berhasil meraih tangannya dan...
Gdubrakkkkkkkkkk..
“Arghhh.. sakit.. hmm.. lagi - lagi mimpi tentang dia. Kenapa sih?? Hakh..” Ujarku sambil memegang jidatku dan berusaha untuk naik ke tempat tidur lagi.
‘Sepertinya kepalaku benjol’ Gerutuku dalam hati.
“Ocha.. Ayo bangun.. Shalat dulu.. ” Panggilan bunda terkasih memalingkanku dari mimpi aneh itu.
“Iya bunda..”
‘ hemm.. jam berapa sekarang?? Hakh.. udah jam lima.. aduh.. bentar lagi waktu subuh lewat.. o.. tidak bisa.. aku harus bergegas’. Ucapku dalam hati sambil mengambil handuk yang tergantung di pintu dan bergegas menuju ke kamar mandi.

Pukul enam tepat. Suasana jalan raya masih hening seperti biasanya. Baru ada beberapa orang yang memulai aktifitasnya. Aku memalingkan pandanganku ke sebelah kanan jalan. Disana ada Bu Prapti, seorang tukang bersih – bersih jalan yang sedang mulai menyapu dan memungut sampah di pinggir jalan. Dia adalah seorang perempuan yang sebaya dengan Bundaku. Dia seorang janda yang memiliki tiga anak yang masih kecil – kecil. Di tengah kerasnya kehidupan ibu kota ini, tentu saja ia harus bekerja dengan keras agar dapat memenuhi kebutuhannya dan ketiga anaknya.
“Kak Ochaaaaa....” Sebuah suara anak kecil memalingkanku dari bayanganku tentang bu Prapti itu.
“Halo Jajang.. Sedang apa kamu di sini?” Ucapku pada anak yang aku kira berusia tujuh tahun itu.
“Ini kak, saya sedang membantu ibu saya membersihkan jalan. Kak, nanti sore kakak akan mangajarkan saya dan teman – teman membaca dan menulis lagi kan? Iya ya kak, mau ya?”. Ucap anak itu, sambil tangannya yang hitam dan kasar menarik – narik tanganku. Wajahnya yang chubby, lucu dan menggemaskan membuatku iba dan gemas ingin mencubitnya. Dia adalah salah satu anak bu Prapti yang paling besar.
“Iya dik.. insya Allah kalau kakak tidak ada halangan, kakak pasti datang ke tempat biasa”. Kataku padanya.
“Hore.. terimakasih ya kak.. saya dan teman – teman pasti akan mengharapkan kedatangan kakak”. Katanya sambil meloncat – loncat kegirangan.
“Iya insya Allah.. Kalau begitu, kakak berangkat sekolah dulu ya.. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam.. ditunggu ya kak.. hati – hati di jalan..”
Aku tersenyum padanya sambil berlalu untuk kembali melanjutkan perjalananku ke sekolah.

Suasana SMKN 1 Jakarta masih hening. Rupanya belum ada yang datang. Akupun duduk di balkon depan kelas sambil menghirup segarnya udara di sekolahku tercinta, yang sudah dua tahun lebih aku menimba ilmu di sini. Suasananya nyaman, asri dan selalu bersih karena peraturannya sangat ketat yang memerintahkan siswanya untuk peduli terhadap lingkungan. Hijaunya pepohonan di depan kelas, membuat hatiku tenang.
“Ekhmm..” Suara seseorang yang sudah tidak asing lagi ku dengar mengagetkanku.
“Eh, kirain siapa. Tumben jam segini udah dateng? Biasanya juga lima menit mau bel baru keliatan.” Kataku aneh.
“Ya.. kan mau latihan dulu buat nyanyi. Hehe..” Jawabnya asal seperti biasa.
“Heh.. ada juga aku lah yang latihan dulu.” Kataku dengan alis naik sebelah.
“Yey.. kamu kan ngikutin aku dari dulu juga.” Katanya sambil menunjuk – nunjuk hidungku.
“O.. tidak bisa.. kamu yang ngikutin aku.” Jawabku sengit.
“Ya bisa lah.. kan aku guru kamu.” Dia semakin menjadi – jadi.
“Yeh.. aku yang guru kamu. Kan dari kelas satu juga kamu yang ngikutin aku. Mulai dari penyanyi favorit, jenis musik, sampe cara nyanyi juga ngikutin aku. Huh.. dasar..” Kataku lebih sengit.
“Enggak lah.. kamu yang ngikutin aku..” Dia tetap bersikeras.
“Hemmm.. udah lah.. gini caranya gak akan pernah selese..” Jawabku sambil pergi ke obade.
“Hahaha.. huh.. kalah ya....” Katanya sambil meledek.

Dukkk.. Jantungku bergetar. Entah kenapa setiap dekat dengannya, jantungku selalu berdegup dengan kencangnya. Tapi tak bisa dipungkiri, dua tahun terakhir ini aku selalu dekat dengan dia, dan aku selalu merasa senang. Ya, walaupun selalu memperdebatkan hal yang tidak penting, tapi itulah yang mendekatkan aku dengan dia.
Dia adalah Ramdani. Teman sekelasku sejak kelas satu SMK. Kami sama – sama suka bernyanyi kapanpun dan dimanapun kami berada. ‘Duo fals’ itulah julukan kami berdua. Di setiap guru tidak hadir dan tidak memberi tugas, dia selalu mandekati bangkuku dan mengajaku untuk bernyanyi. Dia juga orang yang tadi malam hadir di mimpiku. Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Entahlah sepertinya iya. Selama dua tahun ini aku tidak pernah menceritakan perasaanku ini pada siapapun.
Teeeeeeeeeeettttt... Waktu istirahat pertama. Siswa – siswi berhamburan keluar untuk beristirahat. Ada yang menuju katin, ada yang menuju mesjid untuk shalat dhuha, ada juga yang tetap diam di kelas. Kalau aku lebih memilih memanfaatkan waktu istirahat pertama ini untuk shalat dhuha. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional. Untuk itu, disamping belajar lebih giat, aku juga harus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Agar aku mendapatkan yang terbaik.
“Jul, Ikut aku bentar yuk.. Kamu lagi syaum kan?” Ucapku sambil menarik tangan July yang baru selesai melipat mukena.
“Mau kemana? Iya insya Allah. Tapi bentar, aku mau nyimpen mukena ini dulu”.
“Aku mau curhat nih.. Sini biar aku simpen sekalian”. Kataku sambil mengambil mukena mesjid dari tangan july dan meletakannya di lemari mesjid bersama dengan mukena – mukena yang lainnya.
“Disini aja yuk cha.. lumayan sepi ko”. Kata July sambil duduk di teras mesjid.
“Hemm.. Jul, kamu pernah ngerasa dek – dekan gak kalo lagi deket sama seseorang?”. Ucapku sambil duduk di samping July.
“Ya pernah dong.. Itu namanya kamu lagi jatuh cinta. Hayo.. kamu pasti lagi jatuh cinta ya? Sama siapa cha? hehe”. Kata July menggodaku.
“Mmmm.. tapi kamu harus janji ya.. jangan cerita ke siapa – siapa. Soalnya ini bener – bener rahasia”.
“Iya cha Insya Allah aku bisa dipercaya ko.. Siapa dong? cepet.. aku penasaran”.
“Hemmhh Sini aku bisikin..”. Kataku sambil mendekatkan mulutku ke telinga July.
“Haaaaaaaaaa??? Beneran Cha? Masa? Sejak kapan?”. Kata July sambil berteriak kaget.
“Sutttttt.. jangan rame gitu dong... akh... hmm sebenernya sejak dari kelas satu”. Ujarku sambil membungkam mulut nya.
“Haha.. oke.. oke.. tapi ko selama ini aku kan liat kamu deket banget sama dia, terus kamu bersikap biasa aja ko sama dia”. Ucap July aneh.
“Ya itulah aku tidak bisa menampakannya. Kalau ditampakkan, nanti bisa heboh dong seantero jagad raya SMK kita. Hehe”.
“Huekkk.. Lebeh.. Kayaknya Ramdan juga suka lho sama kamu”. Ucap July menggoda.
“Hmm.. Gak mungkin akh.. Eh Jul, janji ya jangan bilang siapa - siapa”.
“Siph.. Insya Allah.. Hehe.. Mulutku di kunci..”. Kata Juli sambil tangannya menirukan retsleting.
Tetttttttttttt.... Waktu istirahat pertama habis. “Ya udah kita masuk kelas yuk..”. Ucap July sambil menggamit tanganku untuk masuk ke kelas tercinta.
***
Bau busuk di pembuangan sampah terakhir Bantar Gebang merebak masuk ke hidungku. Membuat makanan di perutku berlomba – lomba untuk menyelamatkan diri dari lambung, dan air mataku berdesakan untuk membuncah dari kelopak. Aku mendekap hidungku rapat – rapat dengan kerudungku untuk mengurangi kemungkinanku untuk muntah. Tapi hal ini tidak menggoyahkan semangatku untuk mengajarkan anak – anak pemulung disini. Mereka adalah anak – anak dari keluarga miskin yang tidak mampu untuk bersekolah. Setiap harinya mereka memungut sampah di Bantar Gebang. Mereka memungut sampah yang laku untuk di jual. Seperti sampah pelastik, karton, logam, atau kaca. Alhamdulillah Kegiatan kami sudah berjalan hampir genap satu bulan. Walaupun tidak mendapatkan keuntungan, tapi insya Allah aku ikhlas.
“Assalamu’alaikum...” Ucapku sambil memasuki sebuah gubuk derita yang hanya dibangun dari kardus bekas oleh ku dan lima anak – anak baik ini, untuk kami jadikan sebagai ruangan kelas. Biarpun bau busuk sampah itu juga ikut masuk dan belajar. Tapi itu tidak mengurungkan semangat mereka untuk menimba ilmu di gubuk ini.
“Wa’alaikumussalam kak Ocha....”. Jawab mereka serentak.
“Halo adik – adik.. bagaimana kabar kalian?”.
“Alhamdulillah kak masih bisa melihat, mendengar, berjalan, dan mencium bau busuknya sampah – sampah”. “Hahahahahahha”. Jawab seorang anak kurus kering. Rambutnya gimbal tak terurus, pakaiannya lusuh seperti tak dicuci berbulan – bulan. Namanya Joko.
“Kak Ocha, apa kami bisa seperti anak – anak di film Laskar Pelangi itu? Sepertinya kami mulai putus asa untuk meraih cita – cita kami. Sepertinya mimpi kami ini terlalu tinggi untuk diraih”. Ucap salah seorang muridku yang perempuan, mengheningkan suasana yang tadinya ramai.
“Hei.. kalian tidak boleh berfikiran seperti itu. Sekarang ini yang perlu kalian lakukan adalah, belajar dan berdo’alah dengan sungguh – sungguh. Hidup kita ini berawal dari mimpi. Gantungkanlah yang tinggi agar semua terjadi. Allah SWT. Pasti sudah merancang rencana yang indah untuk kita semua. Yang wajib kita lakukan hanyalah terus berusaha tanpa henti. You can, if you think you can. Kamu pasti bisa jika kamu berfikir kamu bisa. Oke adik – adik? Are you ready? ”. Ujarku untuk memberi semangat pada mereka.
“Yes i am..” Kata mereka serentak.
***
Matahari mulai memasuki singgasananya kembali untuk beristirahat setelah seharian menyinari semua makhluk di bumi ini. Sambil menunggu adzan maghrib tiba, aku membuka
diaryku dan mulai mencoret – coret di atasnya.
‘Di atas kefanaan dunia kini aku berpijak. Di tengah kemolekan rasa kini aku berdiri dalam diam. Diam yang memiliki beribu makna yang tak dapat diungkapkan dengan kata – kata. Diam itu mulai mendesak dan bertanya – tanya. Namun, pertanyaan itu tidak dapat ku jawab sendiri. Kini aku mulai bertanya pada -Nya. Ya Allah.. haramkah aku bila aku jatuh cinta ? Bolehkah aku mencintai ? salahkah aku jika aku terus memikirkan seseorang yang bukan mahramku untuk menjadi mahram?
Aku hanya ingin cinta yang halal Ya Rabb.. di mata dunia juga di mata –Mu. Biarpun aku sakit, hampa, dan dikatakan basi oleh orang lain, tapi aku tahu engkau selalu menyayangiku.
Ya Allah.. Jika aku jatuh cinta, tolong jatuhkanlah cintaku pada Ikhwan yang juga melabuhkan cintanya pada –Mu. Ya Rabb.. Jika aku jatuh hati, tolong biarkanlah aku mengetuk pintu hati yang jalannya menuju kepada keridhaanmu. Kini aku menyerahkan cinta tulusku ini kepada takdirku yang pasti telah –Kau atur dengan pantas’.
***
Connection failed.. Huh, maklum Facebook gratisan. Jadi harus berkali – kali login agar bisa masuk. Alhamdulillah.. Akhirnya bisa masuk juga. Aku ketik namanya di form pencarian. ‘Ramdani’. Duk.. dadaku terasa sangat sesak ketika aku melihat dindingnya. Dia sedang saling mengirim pesan dinding dengan seseorang. Kulihat profil orang itu. ‘Nana Kinara Nurazizah’ namanya. ‘SMKN 1 Jakarta’10’. O.. Rupanya dia anak kelas satu. Dadaku terus terasa semakin sesak. Tapi aku lihat dia seperti merasa gembira. Aku terus berusaha untuk ikhlas dan menata perasaanku agar tidak terus tercabik – cabik. Entah kenapa aku ikut merasa senang karena melihatnya bahagia. Inikah ketulusan? Semoga hatiku bisa menerima.
Suasana kelas riuh seperti biasanya. Guru – guru sedang rapat untuk mempersiapkan ulangan semester ganjil. Ketika Ramdan menghampiri tempat dudukku.
“Heh ocha.. Ada lagu baru gak?? Aku pengen nyanyi nih..” Katanya sambil mengacak – acak isi binder laguku.
“Ada tuh.. bukan lagu baru sih.. tapi kata aku sih enak didenger..” Kataku sambil menyeruput sisa es jerukku.
“Yang mana gitu? Lagunya kakaku bukan” sambil terus mengacak – acak.
“Heem.. Noh yang Cemburu menguras hati” Kataku malas.
“O”.
“Heh.. O.. O.. terus..”.
“He,”.
“Ramdan...!!! Hufttt.. sini aku nyanyiin”. Kataku mulai kesal, sambil merebut binderku yang sudah habis diacak – acak oleh dia.
Dan kamipun mulai bernyanyi seperti biasa. Aku tidak pernah berani menatap matanya karena aku tidak mampu menata perasaanku disetiap ada dia. Tapi jujur, aku sudah cukup senang dengan keadaan seperti ini. Walaupun dia tidak tahu perasaanku, tapi aku bahagia karena setiap saat dia selalu ada di dekatku.
Setelah shalat ashar, aku meluruskan kakiku sejenak di rumah –Nya yang indah ini. Di seberang sana aku melihat dia sedang berbincang – bincang dengan siswi kelas satu. Sepertinya, itu gadis yang ada di FB. Dadaku kembali terasa sesak. Tapi aku terus mencoba untuk mengubur rasa sesakku ini dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. Dari tatapannya, sepertinya dia tertarik pada gadis itu. Pria mana yang tidak akan tertarik jika didekati lebih dulu oleh wanita. Aku tahu seperti apa Ramdan itu. Dia tidak akan mendekati lebih dulu, jika tidak ada yang lebih dahulu mendekatinya. Hei.. Ocha sudahlah...
“Cha, kamu udah tahu belom? Si Ramdan lagi deket sama anak kelas satu?”. Kata July mengagetkanku dari rintihan hatiku.
“Iya Jul, aku udah tahu semuanya. Seisi sekolah termasuk guru – guru juga udah rame ngegosipin mereka”.
“Sabar ya Cha..”.
“Iya Jul, kamu tenang aja. Aku udah biasa sakit ko dari dulu”.
“Ocha...”. Ucap July memelukku.
“Lihat Pak.. tuh si Ramdan lagi pacaran tuh Pak”. Teriak salah seorang teman sekelasku pada guruku yang paling humoris.
“Wah Ramdan sudah besar rupanya.. ah.. dia itu kasmarannya telat.. Ayo kita kepung mereka”. Kata guruku konyol seperti biasanya. Namanya Pak Sukma. Dia adalah guru komputer di Jurusanku. Dia juga adalah pelatih di eskul paduan suara. Selain lihai di bidang komputer, beliau juga pandai bermain keyboard. Suatu saat aku ingin sepertinya.
Mendengar kekonyolan Pak Sukma, Ramdan dan Nana langsung berhenti berbincang -  bincang dan kabur. Semua tertawa melihat kekonyolan itu. Sepertinya hanya aku yang tertawa dalam rintihan.
“Cha, Bapak lihat kamu kemarin sedang mangajar anak – anak pemulung ya di Bantar Gebang?”. Ujar Pak Sukma seraya duduk disebelahku.
“Iya Pak, Alhamdulillah sudah satu bulan”.
“Kenapa kamu tidak masukan mereka ke SD saja Cha?”.
“Wah Pak, Saya belum mampu kalau harus membiayai mereka semua”.
“Kamu belum tau cha? Kan sekarang sudah ada program BOS (Biaya Operasional Sekolah), semua biayanya ditanggung oleh pemerintah. Jadi kamu hanya tinggal membelikan mereka seragam. Dan kalau untuk seragam, kamu bisa meminta bantuan kepada siswa – siswi dan guru – guru di sini untuk menyumbangkan sebagian rizkinya”. Papar Pak Sukma panjang lebar.
“O, iya ya Pak.. Nanti sore saya akan coba bicarakan pada mereka. Dan kalau mereka mau, Bapak bersedia kan untuk membantu saya memasukan mereka ke sekolah ?”. Ujarku penuh harap.
“Iya Cha, Insya Allah Bapak akan membantu kamu”.

Akhirnya semua anak – anak didikku bisa masuk sekolah seperti anak – anak lain pada umumnya. Dengan bantuan Pak Sukma, mereka bisa masuk ke SDN Bantar Gebang. Dengan bantuan teman – teman, mereka bisa memakai seragam yang pantas. Pagi – pagi sampai siang hari mereka bisa belajar di sekolah. Sore harinya mereka bisa tetap memulung seperti biasa, untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
“Kak, terimakasih ya selama ini sudah mengajari kami. Sekarang kami bisa sekolah juga karena Kakak”. Ucap Shanty.
“Hei.. kalian gak boleh bicara begitu. Sesama muslim, harus saling tolong – menolong bukan? Ini juga berkat bantuan Pak Sukma. Ayo bilang terimakasih sama Pak Sukma”.
“Terimakasih Pak Sukma”. Ucap Anak – anak itu serentak.
“Ah.. tidak juga.. kebetulan saja Bapak tahu, dan bisa menolong”. Kata Pak Sukma merendah.
Alhamdulillah.. Sekarang aku tidak perlu mencemaskan mereka lagi, dan aku bisa lebih fokus untuk menghadapi Ujian Nasionalku.

Kegiatan Pengayaan sudah dimulai. Pihak sekolahpun terus menggalakan kepada siswanya agar terus semangat belajar. Untuk itu ditambahlah kegiatan baru, yaitu mentoring siswa. Karena itu kami semua harus rela walaupun harus pulang sore. Aku baru selesai merapikan bukuku sore itu ketika July menarik tanganku.
“Cha, cepetan sini ikut aku ! Kayaknya Ramdan tadi pergi sama Nono”. Kata July tegang.
“Memangnya kenapa? Nono itu siapa?”. Kataku bingung.
“Nono itu Pacarnya si Nana yang ngedeketin si Ramdan. Kayaknya si Nono marah soalnya dia nganggep kalo Ramdan yang ngedeketin Nana duluan. Padahal kan sebenernya Nana yang ngedeketin Ramdan duluan. Udah deh, cepeten ayo. Aku takut Ramdan dipukul sama Nono”. Kata July tergesa dan akupun diseret – seret olehnya.
Ternyata benar dugaan July, wajah Ramdan sudah lebam dipukul oleh Nono. Kancing bajunyapun terlihat lepas. Ketika aku dan teman – teman sekelas menggerebek mereka, mereka langsung kabur begitu saja. Hatiku seketika membara melihat keadaan Ramdan. Ingin rasanya aku membalas pukulan yang dilayangkan Nono pada Ramdan.
“Ram, kamu gak papa?”. Kataku khawatir.
“Enggak ko, gak papa udah kalian gak usah khawatir. Dan aku harap, gak boleh ada orang lain lagi yang tahu hal ini”. Ucap Ramdan sambil berlalu pergi.
Setelah kejadian itu, aku melihat Ramdhan tidak seceria biasanya. Dia lebih sering terlihat murung. Tapi untungnya dalam belajar dia masih tetap semangat. Kami selalu belajar bersama untuk manghadapi UN. Dia sering memberikan soal padaku dan kamipun berlomba untuk mengerjakan soal itu.
Alhamdulillah.. Semua rangkaian ujian telah selesai. Dimulai dari Ujian Praktek, Ujikom, dan terakhir ditutup dengan Ujian Nasional. Dan kini kami tinggal menunggu hasil. Dalam penantian yang lamanya satu bulan itu, kami gunakan untuk membebaskan diri dari kekangan. Kami berleha – leha, menonton film bersama, atau main game.
                                
27 April 2011. Setelah shalat maghrib, akupun meraih ponselku. Apa yang anda pikirkan? Aku lalu mengetik di form status untuk meluapkan perasaanku.
“Hufttt.. baru latihan tadi, eh sekarang udah lupa lagi.. hehe”. Ketiku.
‘Ramdani mengomentari starus anda‘. Terlihat link pemberitahuan di dindingku.
“Ikutan dong..”. Komentarnya.
“Hem.. boleh.. eh jadi gug duet wat perpisahan teh?”. Aku menunggu komentarnya kembali. Tapi tidak muncul juga. Tapi setelah sekian lama aku menunggu, ternyata dia malah mengirimiku SMS.
“Lagu apa ya?? Gimana kalo Bunga – Bunga Cinta??”. SMSnya.
“Haha.. boleh.. boleh... tapi awas lho.. jangan tegang.. kan ini baru pertama kamu nyanyi di depan khalayak banyak.. hehe”. Balasku.
“Haha.. semoga bisa.. eh aku mau ngomong sesuatu”. Dia kembali membalas SMSku.
“Aminn.. Mau ngomong apa?”.
“Mmm... 3 tahun sudah berjalan dan kita telah lalui bersama suka maupun duka... Awalnya ku anggap engkau sahabat tapi seiring waktu berjalan aku mulai merasa ada yang berbeda setiap dekat kamu... ternyata aku mulai menyukaimu....”.
Bagaikan ada bom yang meledak di atas kepalaku. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku menceritakan hal ini pada July. Satu – satunya orang yang mengetahui perasaanku saat ini. Dia mencoba menenangkanku. Aku hanya mampu mengetik..
“Maksudnya?”  Lalu dia membalas..
“Mmm.. Aku suka ma kamu... mau gak taarufan ma aku... untuk mengenal satu sama lain lebih dekat lagi... mungkin caranya kurang jentel mengatakan hal ini lewat kata-kata”
Akupun semakin bingung, karena aku sangat kaget dengan keajaiban yang baru saja menimpaku. Aku memang selalu berdoa pada Allah SWT. Jika dia memang jodohku semoga kami didekatkan sedekat – dekatnya dan jika bukan maka jauhkanlah kami berdua. Dan kini Allah mendekatkan kami. Dan aku menanyakan pendapat July. Tapi aku masih tetap bingung. Diapun mengirimkan sms itu lagi dan lagi. Akhirnya aku hanya mampu mengetik dua kata...
“Insya Allah” Ya hanya itu.. dan diapun membalas..
“Aku hanya ingin kamu tau perasaan aku ke kamu bagaimana... takutnya gak bisa ketemu lagi.. jadi gimana taarufannya??”
Aku semakin bingung disini. Aku tidak bisa menutupi perasaanku. Aku juga sangat menyukainya dari dulu. Dan aku paling tidak bisa melihat dia sakit. Dan aku juga tau bahwa dia baru sembuh dari sakitnya. Walaupun ragu, tapi akhirnya aku manjawab...
“Ya makasih kamu udah suka sama aku. Walaupun aku merasa banyak kekurangan... kalau Allah mengidzinkan... apapun bisa terjadi”
Ya.. kata-kata itu secara halus telah menjelaskan kalau aku mau taarufan dengannya. Walau sebenarnya aku takut harus bagaimana besok jika bertemu dengannya. Aku takut akan jauh dan canggung jika aku mau. Tapi aku kesampingkan perasaanku asalkan dia bahagia. Kebahagiaannya juga kebahagiaanku. Siapa tahu aku bisa mengobati rasa sakitnya.

Satu bulan hampir berlalu. Ta’arufan kami berjalan baik. Hanya beberapa orang yang menetahui hubungan kami berdua. Tapi ternyata kekhawatiranku benar terjadi. Kami malah canggung jika bertemu dan semakin jauh. Aku merasa lebih baik seperti dulu. Biarpun aku tidak memiliki hatinya, tapi aku bisa tetap dekat dengan dia. Duet kami di perpisahan juga aku batalkan karena pasti sangat sulit untuk kami latihan. Karena pasti akan sangat canggung. Akhirnya kamipun bernyanyi sendiri – sendiri. Pada malam perpisahan itu aku merasa sangat dekat dengannya. Aku terus menenangkannya agar tidak nervous saat bernyanyi nanti. Dia menyanyikan lagu Bukan Cinta Biasa – Afgan. Ketika temanku menyanyikan lagu Bukan Cinta Biasa – Siti Nurhaliza, dia ikut bernyanyi dan sambil melihat kearahku yang ada di belakang panggung. Mungkin tanpa ia sadari sebenarnya aku juga sedang menatap kearahnya. Terlintas dibenaku..
‘Ya Rabb.. seandainya waktu dapat berhenti, aku ingin engkau menghentikannya sekarang juga’. Kata hatiku sambil meneteskan air mata. Tapi waktu tidak mungkin bisa dihentikan.

25 Mei 2011. Seharian dia tidak memberi kabar apapun padaku. Akhirnya ku tinggalkan ponselku di kamar, lalu asyik menonton TV bersama keluargaku. Pukul 14.00. Aku melirik ke arah ponselku. Ternyata sudah ada 3 pesan masuk darinya. Dia mengabari bahwa dia sedang sibuk mempersiapkan syarat – syarat untuk beasiswanya. Tapi aku menanggapinya dengan bercanda seperti biasa. Aku tidak tahu kalau dia sedang serius. Dan dia lalu mengatakan hal yang tidak aku duga sebelumnya..
“Cha, sebentar lagi kita akan berpisah. Sepertinya kita akan sulit untuk berkomunikasi lagi. Sepertinya aku juga pengen sendiri dulu. Aku harap kamu gak kecewa dengan keputusan aku ini dan bisa tetap jadi sahabat”.
“Iya aku juga ngerasa sama ko.. lebih baik kita fokus dulu meraih cita – cita kita.. :)”.
“ :’) ”.
“Kenapa? Gak usah sedih gitu dong..”.
“Iya hehe.. Nanti kita juga bisa ketemu lagi kan..”. Balasnya.
“Insya Allah...”. Jemariku bergetar ketika mengetik kalimat terakhir.
Awalnya aku juga memang merasa hal yang sama dengan dia. Tapi entah mengapa tiba – tiba air mataku menetes dengan sendirinya. Aku merasa ada bagian jiwaku yang hilang. Sahabatku menceritakan padaku kalau sesungguhnya dia takut menyakiti aku kalau ta’arufannya dilanjutkan. Dan sahabatku juga bilang kalau Ramdan itu ingin balas dendam dengan Nana, atas semua yang telah dilakukan Nana padanya, tapi dia takut aku sakit jika kami masih berTa’aruf. Tapi hatiku tetap terasa sakit sampai saat ini. Dan sepertinya tidak akan pernah sembuh sampai kapanpun. Karena aku sudah jatuh berkali – kali karena harapanku padanya. Tapi semoga aku bisa cepat sembuh.
‘Setahun.. Dua tahun.. ?? Tidak !! Lebih dari itu. Ya, bertahun – tahun harapan itu telah bersarang di hatiku. Awalnya hanya setitik harapan itu. Tapi, detik demi detik mengiringi langkah asaku. Titik itu terus melebar hingga seluas samudera. Bahkan lebih luas dari itu. Ya, entah seluas apa. Aku tidak dapat mengungkapkannya. Aku sempat bertanya.. Apakah harapan itu mungkin ku raih? Batinku berkata.. Kemungkinan itu hanyalah setitik dari samudera harapan yang telah kau ukir.. Hanya setitik! Tapi entah mengapa bodohnya aku terus mengharapkan setitik kemungkinan itu. Padahal titik itu sedikit demi sedikit terus menyayat – nyayat hatiku hingga hatiku telah koyak karenanya. Tapi aku terus mencoba menjahit koyakan itu dengan senyuman harapanku yang terus ada di dekatku walaupun aku tidak dapat menggenggamnya. Ya, harapanku tersenyum dalam genggaman tangan lain. Sesungguhnya hatiku merintih.. tapi rintihan itu telah aku kubur dengan senyuman itu.. bahagia itu.. Ketika harapanku menangis, jahitan hatikupun ikut terlepas oleh tangisan itu. Setiap hari dalam sujudku, aku terus berdo’a agar harapanku bisa terus tersenyum. Karena senyumannya bisa membuat hatiku tersenyum juga meski dalam rintihan.
Suatu malam di tahun terakhir aku bersama harapanku.. Hatiku bergetar hebat.. darahku berdesir dengan derasnya.. jantungku terus berdebar hebat tanpa henti. Keajaiban datang menghampiriku. Membawa harapanku selama ini. Yang diantar oleh alunan do’a yang kupanjatkan bertahun-tahun lamanya. Bahagia.. aku bahagia.. lukaku seketika mengering malam iu.. ya hanya malam itu saja. Ternyata hal itu tidak sesuai bayanganku. Harapan itu telah ku genggam, namun genggamanku semakin menjauh.. Dan samudera harapan itu ternyata lebih mencabik-cabik hatiku hingga membuat hatiku hancur berkeping-keping.
Kini samuadera harapan yang sempat pasang itu telah surut tak berbekas, membawa hatiku bersamanya hingga tak tersisa lagi sekepingpun. Membuat aku jera akan harapan. Trauma aku akan harapan !! Dan kini aku tidak akan lagi mencari dan menghampiri harapan itu sebelum ada harapan yang datang menghampiriku dan membawa hatiku seutuhnya tanpa luka setitikpun’.





sumber : http://jeritanhatiseorangwanita.blogspot.com/


akhukum fillah arif zainurrohman