Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Menulis dan Peradaban

Waktu terus berjalan. Detik demi detik bergulir bersemayam dalam hembusan angin, melanglang Buana menjelajah semesta. Zaman telah lama berganti. Masa - masa keemasan yang dulu pernah menghiasi daratan eropa, hilang bagai dongeng tak berbekas. Hilang ditelan dinginnya tangan - tangan kapitalis. Peradaban islam, apakah hanya sekedar dongeng sebelum tidur?

Seperti itulah, sepenggal kisah yang diwasiatkan kepada diri penulis. Kisah pertama yang membuat penulis menenggelamkan diri di ruangan sunyi. Sebuah ruangan yang menjadi tempat berdiamnya sosok muda penuh semangat, penimang diri penulis.

Buku adalah harta yang tak ternilai harganya. Tempat bersemayamnya ilmu - ilmu yang menghiasi gelapnya malam. Buku adalah guruku,  kata beliau. Buku - buku inilah yang telah mendidikku,  dan akan mendidikmu kelak. Dari buku - buku inilah kita mengenal masa lalu, mengenal masa - masa kejayaan islam, mengenal betapa megahnya sebuah zaman keemasan.

Eropa, benua biru itu, tidak disangka, disanalah tempat bersemayamnya peradaban itu, di sana pula tempat terkuburnya peradaban itu. Persia, Yunani, dan Romawi. Tempat lahirnya karya - karya masterpiece yang menelurkan begitu banyak ilmuwan - ilmuwan di masa lalu.

Lalu apa yang menyebabkan peradaban itu hilang bak dongeng belaka? Apa yang terjadi sehingga terjadi kemunduran yang dahsyat itu? Salah satu penyebab mendasar adalah menghilangnya tradisi membaca dan menulis. Tradisi yang dahulu begitu populer di zamannya. Tradisi yang populer oleh ulama - ulama kita, kini hilang, lenyap tak berbekas. Bahkan telah terjadi perpindahan tradisi yang merubah kiblat ilmu, menjadi simbol kebanggaan orang - orang barat.

Hilangnya tradisi menulis dari umat islam, hilanglah peradabannya. Yang kita lihat kini, sejarah - sejarah hanya menjadi candu, hanya menjadi kenangan nostalgia, hanya menjadi gemerlap sinar di malam hari yang hilang di siang hari.

Buku adalah faktor kemajuan. Darinya, menetaslah pola pikir kritis, nalar yang cerdas. Menjadi pondasi bangunan yang kokoh.

Ingatkah kalian dengan kejayaan - kejayaan islam? Apakah kalian hanya akan menjadi penonton saja? Apakah kalian akan akan membiarkan sejarah hanya sebatas dongeng saja? Relakah kalian hidup dalam kekosongan? Dimana semangatmu wahai pemuda - pemudi islam?

Tidak malukah kita terhadap ulama - ulama kita? Siang malam ulama - ulama kita menghabiskan waktunya untuk mengkaji dan mengkaji ilmu. Membaca dan menulis puluhan bahkan ratusan buku.

Dimana peranmu? Sesibuk apakah dirimu? Akankah kita akan membiarkan ilmu - ilmu itu hilang ditelan zaman? 

Kencangkan ikat pinggangmu, genggam penamu, buka bukumu, buka matamu, buka hati dan fikiranmu. Kembalikan peradaban yang hilang.

Pekerja Keras

Mengutip tulisan akh ghifar :
"Sepanik apakah dirimu ?  Hingga idealismu dalam agama ini hilang sejenak ? Tenangkan dirimu, tidakkah kau ingat rabbmu ?"
Dalam sebuah diskusi ringan beberapa waktu lalu, terdapat seorang teman yang menceritakan tentang seseorang yang memiliki banyak konstribusi. Yang menjadi poin diskusi adalah semangat dan konstribusi. Seseorang dengan semangat yang tinggi telah memberikan beberapa konstribusi. (Kata orang)
Namun sayang sekali, sebuah pekerjaan yang mulia hanya akan dilakukan dengan cara - cara yang mulia dan hanya dilakukan oleh orang - orang yang mulia. Timbul beberapa pertanyaan dalam diskusi tersebut. Apakah hanya hasil yang ada difikirannya ? Apakah ia tidak memperhatikan proses dan niatnya ? Apakah prosesnya hanya menjadi sebuah jembatan untuk mencapai tujuannya ? Tidakkah ia berusaha untuk menikmati dan memperbaiki ketika melewati jembatan itu ? Dan apakah hasil yang telah ia capai sekarang ini benar - benar hasil dari apa yang diniatkannya dahulu kala ? Apakah ia menikmati hasilnya sekarang ? Maniskah buah dari hasil pekerjannya ?
Sebuah hasil adalah bentuk perwujudan dari sebuah niat yang konsisten dalam setiap proses. Konsiten antara niat dan hasil yang dijaga dalam setiap proses menjadi tantangan tersendiri.
Sebagaimana siklus air, diawali dengan air yang kemudian menjadi air kembali. Pemanasan air laut oleh matahari, kemudian berevaporasi, dan jatuh lagi  sebagai presipitasi dalam bentuk hujan,  salju,  hujan es,  dan salju.  Semua kembali menjadi air. Siapakah yang tetap menjaga siklus air tersebut? Siapa yang dapat menjaga niat agar tetap konsisten dengan perkataan dan perbuatan?
Dakwah adalah perbuatan yang mulia, awalilah dengan niat yang mulia, lakukan dengan cara - cara yang mulia, dan capailah hasil dakwah yang mulia.
Buanglah jauh - jauh tujuan - tujuan pribadi, jangan kotori dakwah dengan pemikiran - pemikiran menyimpang. Konsistensikan niat dalam setiap perkataan dan perbuatan untuk mencapai hasil yang baik.
Bilalah seseorang semangat dan banyak berkontribusi, jujur dalam hal keuangan, namun melanggar prosedur dan memiliki tujuan pribadi serta berakhlak tercela,  maka ia tak ubahnya seperti sebuah tannaman berduri penghias taman. Fungsinya hanya sebatas pelengkap keanekaragaman tanaman. Tampak kecil dipandangan mata namun menyakiti bila didekati.
Qultu :
"Pelaku kerja keras tanpa mempertimbangkan niat dan proses, hanya sebatas berfikir untuk tujuannya,  tak lebih dari sekedar "pekerja keras" saja. Tak ada manfaat yang dapat diambil darinya."
Apakah rela kau jual agamamu untuk tujuan - tujuan pribadimu ? Semoga Allah Ta'ala menjauhkan diri ini dari benalu - benalu agama.
Perbaikilah niat, perbaikilah proses, untuk mencapai hasil yang bermanfaat.
Nas'alullah as-salamah wal 'afiyah
Akhukumfillah arifzainurrohman
Ibu kota , 6 Desember 2016

Performance : Yang Ditampakkan dan Yang Disembunyikan

Oleh :
arifzainurrohman
Masih ingat dengan peristiwa akbar di bumi pertiwi ini? Negeri yang penduduknya memiliki sifat ramah dan santun.  Negeri yang penduduknya memegang Teguh akan ajaran - ajaran lembut dari pada pendahulunya.  Negeri yang tenang dan damai.  Negeri yang penduduknya menjunjung tinggi nilai - nilai adab dan norma. Negeri yang dihiasi dengan senyum,  canda,  dan tawa.
Tapi apa yang terjadi? Kedamaian itu sontak terguncang dengan perilaku seseorang yang sama sekali tidak diwariskan oleh para pendahulu kami. Tidak pula dicontohkan oleh ustadz - ustadz dan guru - guru kami. Dengan pongahnya dia melakukan hal yang tercela itu. Siapa ia? Mengapa ia berbuat demikian? Mengatasnamakan nama orang lain untuk ambisinya. Menjual nama orang lain untuk menjalankan ambisinya. Mengkritisi apa - apa yang seharusnya bukan menjadi kewajiban dan haknya. Apa ambisinya?
Telah banyak kebohongan bertebaran memekikkan telinga. Telah banyak perilaku yang merusak pandangan mata. Merusak stabilitas lingkungan. Seseorang yang lebih dahulu mengenyam kehidupan seharusnya memberikan contoh atau teladan yang baik bagi yang lebih muda. Tidak layak bagi seorang kakak tingkat membohongi adik tingkatnya. Menghasut dan menebar fitnah di dalam bangunan yang suci itu.
Bagi kami, kalau kalian bekerja keras dan mengikuti peraturan atau prosedur dengan baik (termasuk kejujuran dalam hal keuangan)  pastilah perfomance kalian Bagus,  seperti para profesional di tempat - tempat megah, tapi sayang,  itu hanya sebatas kerja keras saja, bukan orang yang patut untuk diteladani atau dihormati.
Pada kenyatannya untuk sekarang ini, anda hanya sebatas pekerja keras saja,  bukan suri tauladan. Dan yang paling menyedihkan adalah kerja keras yang anda lakukan kian sirna dan hina dihadapan dunia.
Wallahu a'lam bish-showab
#junjungtinggikejujuran
#junjungtinggikeikhlasan
#junjungtingginilainilaiislam
#janganlemparkotorankaliankewajahkami
Akhukumfillah arifzainurrohman
Ibu kota 5 desember 2016

Menapaki keramik setapak demi setapak


Oleh :
Arif Zainurrohman
     Seperti biasa hari ini matahari masih terbit dari timur, langit masih berwarna biru, awan berwarna putih, dan angin berhembus sepoi sepoi bak mengabarkan bahwa hari ini akan terjadi sesuatu yang baik. Burung – burung berterbangan ke sana ke mari, lompat ke atas dan ke bawah seolah olah sedang menunjukkan sebuah pertunjukkan pada diri ini, memanjakan mata, seolah – olah mengabarkan bahwa mereka sehat dan bahagia.
      Kuangkat wajahku menatap langit, kupejamkan mataku, kubuka lebar – lebar telingaku mendengar suara – suara yang bergemuruh di sekelilingku, kurasakan hembusan angin dengan kulit – kulitku, kulepaskan semua kegundahan hati pada saat itu juga. Perlahan namun pasti gundahku mulai memudar seiring dengan perginya angin yang menerpa kulit – kulitku. Sungguh damai perasaan ini, andailah dapat kualami peristiwa ini setiap detiknya.
     Tiba – tiba saja ada sesuatu yang menganggu kedamaian ini, kulihat beberapa anak kecil berlarian tertawa riang, entah apalah yang sedang mereka tertawakan. Tanpa sadar akupun tersenyum melihat tingkah polah mereka. Lalu kulihat ke arah yang lain kulihat pula seorang anak kecil berjalan dengan khusyunya. Setelah kuperhatikan ternyata ia sedang berjalan menapaki keramik – keramik kecil di pinggir jalan setapak demi setapak.
    Melihat anak itu membangkitkan memori lama, memori masa kanak – kanakku, masa yang indah dimana tidak ada pemrograman, tidak ada bahasa inggris, tidak ada integral, tidak ada turunan, dan hal – hal yang membuatku gundah seperti sekarang ini. Masa dimana tidak ada pertengkaran karena masalah hubungan laki – laki dan perempuan.
     Teringat bahwa dahulu ketika pulang sekolah jalanan itu pula lah yang sering ku lewati, menapaki keramik setapak demi setapak, walau terasa lama namun entah kenapa rasa bahagia itu datang, meringankan beban di kepala. Melupakan sederetan rumus – rumus yang ku tak tahu asal muasalnya.
    Sungguh indah masa kanak – kanak, Tapi tentulah waktu terus bergulir, setiap insan akan menjadi tua, semakin bertambah pula perkara – perkara yang harus dihadapinya.
       Walaupun perkara – perkara itu semakin bertambah bukan berarti insan itu tidak dapat bahagia. Terkadang diri ini selalu menginginkan waktu bergulir kebelakang kembali ke masa kanak – kanak yang bahagia, ke masa dimana diri ini menjadi “raja”, namun tentulah pemikiran itu tidak baik. Menginginkan kebahagiaan bukan berarti dengan menginginkan waktu berhenti pada peristiwa dimana kita sedang bahagia. Bahagia bukanlah sesuatu hal yang cukup sulit untuk di dapatkan.
       Dengan melihat insan lain bahagia terkadang kita dapat ikut berbahagia, dengan melihat orang lain tertawa terkadang kita dapat ikut tertawa.
“Rasa itu bagaikan penyakit menular, jika ingin tertular rasa, maka dekatilah orang yang memiliki rasa yang kita inginkan, insya allah rasa itu akan menular ke kita, sebagaimana penyakit menular ke insan lain”
AZ
     Dengan melihat anak – anak kecil bermain tertawa riang, menumbuhkan rasa bahagia yang hampir terlupa oleh diri ini. Bukankah bahagia itu sederhana, mungkin akan terasa sulit bagi setiap insan untuk memahaminya, karena perbedaan atmosfer dan lingkungan kehidupan yang kita jalani.
Demikian cerita dari kehidupan sang fakir ilmu wa fakir amal ini, ana tutup dengan firman Allah Ta'ala :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.[QS:2:286]”

Ibu Kota, 27 Mei 2015

akhukumfillah arifzainurrohman

Menapaki Kembali Hikmah yang Terlupa


Oleh :
Arif Zainurrohman
 
      Manusia adalah makhluk yang diciptakan secara sempurna dan diciptakan dengan sebaik – baiknya.
Surat At-Tin [95]: 1 -4, "Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalom bentuk yang sebaik-baiknya." Kemudian ia melanjutkan, "
     Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih cantik daripada manusia karena ia diciptakan sebaik-baiknya."
     Ya itulah salah satu pelajaran yang merasuk hati dalam perkuliahan ini. Bahwa manusia itu makhluk yang paling sempurna, memiliki akal, memiliki hawa nafsu. Namun dengan kesempurnaan itu terkadang diri ini lupa bahwa diri ini adalah makhluk. Terkadang diri ini tidak sabar, sehingga terlalu tergesa – gesa, terkadang lupa akan arti keikhlasan. Selalu menginginkan sesuatu hal yang besar tetapi ingin terlaksana dengan cepat atau instan. Lupa bahwa semua butuh proses, lupa akan niat, bahwa niat itu haruslah Lillahi Ta'ala.
     Seperti yang terjadi pada pengalaman sekarang ini, menginginkan agar orang lain semangat dalam belajar. Lupa bahwa dalam mengajar dan belajar itu butuh kesabaran. Tidaklah dengan nafsu agar orang – orang mau belajar, menginginkan mereka untuk selalu datang dalam setiap pertemuan, memaksa mereka untuk rajin. Lupa bahwa setiap insan memiliki kepentingannya masing – masing.
Diceritakan bahwa :
“Mewariskan ilmu itu tidak sulit, yang sulit itu menumbuhkan rasa semangat dan mewariskan semangat kepada kalian”
      Dilanjutkan bahwa mengajar tidaklah sulit mudah, cukup membertahukan apa yang ingin diberitahukan namun menumbuhkan semangat kalian, menumbuhkan motivasi kalian itu tidaklah mudah. Terkadang saya inginkan kalian melebihi semangat saya dalam belajar, sehingga kalian tidak sulit untuk menerima ilmu – ilmu yang saya ajarkan. Bahwa kalian kelak akan mengajar, menggantikan saya dan guru – guru yang lain. Saya ini sudah tua, mungkin saya tidak memiliki kesempatan mengajarkan ilmu – ilmu pada anak cucu saya kelak. Jadi saya berdo'a agar kalianlah yang mengajarkan pada anak cucu saya kelak tentang ilmu – ilmu yang pernah saya ajarkan atau ilmu – ilmu yang kalian pernah pelajari.
     Dari cerita itulah menguatkan azam diri ini untuk tetap sabar dalam menuntut ilmu. Bahwa menuntut ilmu itu tidaklah mudah. Ada banyak godaan, dimana syaitan – syaitan selalu bersemangat dan giat sekali mengajak insan pada hal – hal yang buruk.
        Berkata Al-Imam As-Syaafi’i dalam bait sya’ir beliau:
“Hendaknya engkau bersabar atas pahitnya perangai kasar sang guru, karena melekatnya ilmu senantiasa menyertainya. Siapa yang tidak merasakan kehinaan belajar barang sesaat, sungguh ia akan meneguk hinanya kebodohan seumur hidupnya...
Maka siapa yang tidak mau belajar di masa mudanya, hendaklah ia bertakbir sebanyak empat kali atas kematiannya...
Demi Allah, hidupnya seorang pemuda bergantung dengan ilmu dan taqwa. Jika keduanya sirna, maka tiada lagi jati dirinya...” (Abyaat Fi Thalabil ‘Ilmi)
      Demikian sekelumit hikmah dari perkuliahan yang terjadi pada diri ini, semoga yang sedikit ini bermanfaat.


Ibu Kota, 27 Mei 2015

akhukumfillah arifzainurrohman


Menata serpihan serpihan azam yang mulai menghilang


Oleh :
Arif Zainurrohman

       Hari ini entah apa yang terjadi tiba tiba saja muncul kegelisahan dalam hati. Ada apalah dengan diri ini sehingga tiba tiba saja menjadi gelisah. Mungkiinkah terjadi sesuatu di luar sana atau mungkinkah akan terjadi sesuatu yang besar pada diri ini. Apa ini yang namanya gundah ? Ah tentu tidak mungkin seorang apatis seperti diri ini mengalami hal seperti itu. Dekat dengan perempuan saja tidak , mana mungkin gundah haha.
       Detik demi detik pun terlewati dengan keadaan hati yang tak menentu. Bahkan rutinitas sehari hari pun tak dapat menghilangkan kegelisahaan dalam hati. Apa yang salah ? Apakah ada ketidak ikhlasan dalam diri dalam menjalani kehidupan ? Ataukah akan ada seseorang yang kukenal akan pergi jauh ?. Tapi aku berfikir tak perlu risau karena dahulu pernah melewati fase ini.
Dahulu oh dahulu, gundahku kini mengingatkan sakitnya hati ini pada peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Kenapa ? Apakah akan ada hikmah yang akan diajarkan pada diri ini ketika telah berhasil melewatinya seperti dahulu ? Ataukah diri ini akan terpuruk dengan tidak kunjung hadir solusi untuk masalah ini ? Ya rabb hanya padamu aku menyembah dan hanya padamu aku mohon pertolongan.
           Ah sudahlah mungkin gundah ini sama saja seperti yang dahulu dan akan datang solusinya. Apa yang terjadi pada kegundahan dahulu kala ? Memori itu benar benar melekat erat dalam fikiran ini. Seorang guru yang begitu diri ini hormati harus pergi , pergi ketempat yang jauh entah kapan diri ini dapat menggapainya. Disaat diri ini menemukan sesosok manusia yang dapat dicontoh, dengan tiba tiba kehendak rabb untuk memisahkan kami.
“Bayang bayangmu yang dulu meneduhkan hati , menguatkan azam diri ini dalam belajar , kini telah hadir kembali , namun lagi dan lagi bayanganmu itu mulai menjauh dan memudar”
AZ
        Diri ini yang memiliki sifat apatis bisa bisanya memiliki empati padamu. Apa yang membuatmu begitu berbeda dan istimewa dalam pandangan diri ini ? Sungguh diri ini tak mengerti , mungkinkah dirimu dapat memberitahu pada diri ini apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah diri ini belum dapat mengerti arti dari perjumpaan dan perpisahan. Walaupun mungkin diri ini tak mengerti , setidaknya pernah mengalaminya dan seharusnya dapat mengatasinya.
       Kini diri ini dipertemukan lagi dengan sesosok yang sangat mirip dengan dirimu guru, namun pada akhirnya akan sama seperti dengan hari hari denganmu. Seperti ada jarak yang menghalangi diri ini untuk dekat dengannya. Dan yang terjadi hanyalah menghormati dan mendoakannya tanpa terjadi keakraban , sama halnya seperti diri ini dan dirimu. Sungguh tak dapat dimengerti apa yang membuat lidah ini begitu kelu untuk sekedar mengucap salam padanya.
       Kebodohan yang tak kunjung hilang ini benar benar membuat hidup menjadi sulit. Apakah ada makhluk lain yang sengaja menjauhkan kami ataukah ada dosa pada diri ini yang membuat jarak dan rasa segan. Walau hanya sekedar berbincang rasanya sungguh sulit. Diri ini selalu berdoa agar selalu dapat dekat dan selalu mejaga hubungan baik dengan guru guru diri ini agar ilmu ilmu yang mereka sampaikan tumbuh subur di dalam hati. 



Ibu Kota, 27 Mei 2015

akhukumfillah arifzainurrohman

Kisah Nyata : Ipar Itu Maut

Khalid duduk di ruang kerjanya dengan pikiran yang diliputi kesedihan dan kegalauan. Shaleh, kawannya, memperhatikan kegalauan dan kesedihan itu di wajahnya. Ia berdiri dari mejanya dan mendekati Khalid, lalu berkata padanya:

“Khalid, kita ini berteman layaknya bersaudara sejak sebelum kita sama-sama bekerja. Aku perhatikan sejak seminggu ini selalu termenung, tidak konsentrasi. Engkau kelihatan begitu galau dan bersedih…”

Khalid terdiam sejenak. Kemudian ia berkata:

“Terima kasih atas kepedulianmu, Shaleh…Aku merasa memang membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan masalah dan kegelisahanku, barangkali itu bisa membantuku untuk mencari jalan keluarnya…”

Khalid memperbaiki duduknya, lalu menuangkan segelas teh kepada kawannya, Shaleh. Kemudian ia berkata lagi:

 “Masalahnya, wahai Shaleh, seperti yang engkau tahu aku sejak menikah 8 bulan lalu, aku dan istriku tinggal sendiri di sebuah rumah. Namun masalahnya adikku yang paling kecil, Hamd, yang berusia 20 tahun baru saja menyelesaikan SMA-nya dan diterima di salah satu universitas di sini. Dia akan datang satu atau dua minggu lagi untuk memulai kuliahnya. Ayah dan ibuku memintaku bahkan mendesakku agar Hamd dapat tinggal bersamaku di rumahku daripada ia harus tinggal di asrama mahasiswa bersama teman-temannya. Mereka takut nanti dia terseret mengikuti kawan-kawannya!

Aku menolak hal itu, karena kamu tahu kan bagaimana seorang pemuda yang sedang puber seperti itu. Keberadaannya di rumahku akan menjadi bahaya besar. Kita semua sudah melewati masa remaja seperti itu. Kita tahu betul bagaimana kondisinya. Apalagi aku terkadang keluar dari rumah, sementara ia akan tetap berada di kamarnya. Mungkin juga aku pergi untuk beberapa hari untuk urusan pekerjaan…dan banyak lagi…

Aku harus pula sampaikan padamu bahwa aku sudah menanyakan kepada salah seorang Syekh terkait masalah ini, dan beliau mengingatkanku untuk tidak mengizinkan siapapun, meski itu saudaraku sendiri untuk tinggal bersamaku dan bersama istriku di rumah. Beliau mengingatkanku tentang sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Ipar itu adalah maut.”

Maksudnya bahwa hal paling berbahaya bagi seorang istri adalah kerabat-kerabat dekat sang suami, seperti saudara dan pamannya, karena mereka biasanya dengan mudah masuk ke dalam rumah. Dan tidak ada yang meragukan bahwa fitnah yang sangat besar dan berbahaya dapat terjadi di sini.

Lagi pula, engkau pasti tahu, wahai Shaleh, kita seringkali ingin berdua saja dengan istri di rumah agar kita bisa beristirahat bersamanya dengan selapang-lapangnya. Dan ini sudah pasti tidak bisa terwujud jika adikku, Hamd, tinggal bersama kami di rumah…”

Khalid terdiam sejenak. Ia meneguk teh yang ada di depannya. Kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya:

“Aku sudah menjelaskan semuanya kepada ayah dan ibuku. Bahkan aku bersumpah bahwa yang aku inginkan adalah kebaikan untuk adikku, Hamd. Namun mereka justru marah kepadaku, mereka menyerangku di depan semua keluarga, menganggapku sudah durhaka, bahkan menyebutku berprasangka buruk kepada adikku, padahal ia menganggap istriku seperti kakaknya sendiri. Mereka mengira aku dengki pada adikku karena aku tidak menghendaki ia melanjutkan pendidikan tingginya…”

“Yang lebih berat dari itu semua, wahai Shaleh, adalah karena ayahku telah mengancamku dengan mengatakan bahwa ini akan menjadi citra buruk dan aib besar di tengah keluarga, karena bagaimana adikku bisa tinggal bersama orang lain sementara rumahku ada. Ayahku mengatakan: ‘Demi Allah, jika Hamd tidak tinggal bersamamu, aku dan ibumu akan marah padamu hingga kami mati. Kami tidak pernah mengenalmu sejak hari ini, dan kami akan berlepas diri darimu di dunia sebelum di akhirat…”

Khalid menundukkan kepalanya sejenak, lalu kembali berujar:

“Sekarang aku sungguh bingung tidak tahu berbuat apa. Dari satu sisi, aku ingin menyenangkan hati ayah dan ibuku, tapi di sisi lain aku tidak ingin mengorbankan kebahagiaan keluargaku. Nah, sekarang bagaimana pandanganmu, wahai Shaleh, terhadap masalah yang sangat berat ini?”

Shaleh memperbaiki duduknya. Ia kemudian mengatakan:

“Tentu engkau ingin mendengarkan pendapatku sejelas-jelasnya dalam masalah ini, bukan? Karenanya izinkan aku untuk mengatakan kepadamu, wahai Khalid, bahwa engkau benar-benar seorang peragu dan bimbang. Sebab jika tidak begitu, untuk apa semua persoalan dan masalah ini terjadi bersama kedua orang tuamu? Bukankah engkau tahu bahwa ridha Allah itu bergantung pada ridha kedua orang tua, begitu pula kemurkaan-Nya bergantung pada kemurkaan mereka berdua? Lagi pula jika adikmu tinggal serumah denganmu, ia akan membantumu menyelesaikan urusan rumah. Dan ketika engkau tidak ada di rumah untuk suatu urusan, ia akan menjaga rumahmu selama engkau pergi.

Shaleh sengaja diam sebentar. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Shaleh terhadap apa yang diucapkannya. Kemudian ia melanjutkan dengan mengatakan:

“Lagi pula aku ingin bertanya padamu: mengapa engkau berburuk sangka pada adikmu sendiri? Apa kamu lupa Allah melarang kita berburuk sangka kepada orang lain? Coba katakan padaku: bukankah engkau percaya dengan istrimu? Bukankah engkau percaya kepada adikmu?”

Khalid segera memotongnya:

“Aku percaya kepada istriku dan juga adikku, tapi…”

 “Kita kembali lagi menjadi ragu dan percaya pada praduga-praduga…,” potong Shaleh. “Percayalah, wahai Khalid, adikmu Hamd akan menjadi penjaga yang amanah untuk rumahmu, baik ketika engkau ada ataupun tidak. Ia tidak mungkin akan mengganggu istri kakaknya karena ia sudah menganggapnya seperti kakaknya. Dan coba tanyakan pada dirimu sendiri, wahai Khalid, jika adikmu Hamd kelak menikah, apakah engkau sempat berpikir untuk mengganggu istrinya? Aku yakin jawabnya tidak, bukan?

Lalu kenapa engkau harus kehilangan ayahmu, ibumu dan saudaramu? Keluargamu akan berpecah hanya karena praduga-praduga seperti itu? Gunakanlah akal sehatmu. Buatlah ayah dan ibumu ridha agar Allah juga ridha pada-Mu. Dan jika engkau setuju, biarlah adikmu Hamd, tinggal di bagian depan dari rumahmu, kemudian kuncilah pintu pemisah antara bagian depan rumahmu dengan ruangan-ruangan lain.”

Khalid akhirnya bisa menerima penjelasan kawannya, Shaleh. Di hadapannya, ia tidak punya pilihan selain menerima adiknya, Hamd untuk tinggal bersamanya di rumahnya.

Beberapa hari kemudian, Hamd pun tiba. Khalid menjemputnya di bandara. Mereka kemudian meluncur menuju rumah Khalid di mana Hamd akan menempati bagian depannya. Dan seperti itulah yang terjadi selanjutnya…

Hari demi hari terus berganti. Ia bergulit mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan kini kita telah berada di empat tahun setelah perisitiwa itu…

Kini Khalid telah genap berusia 30 tahun. Ia telah menjadi ayah bagi tiga orang anak. Sementara Hamd kini telah memasuki tahun terakhir perkuliahannya. Ia sudah hampir menyelesaikan kuliahnya di universitas. Kakaknya, Khalid telah berjanji untuk mengupayakan pekerjaan yang layak untuk adiknya di universitas itu, dan membolehkannya tetap tinggal di rumah itu hingga ia menikah dan pindah dengan istrinya ke rumah tersendiri.

Pada suatu malam, ketika Khalid baru saja pulang ke rumahnya dengan mengendarai mobilnya…Ia melintas di jalan yang bertepian dengan rumahnya. Tiba-tiba dari jauh ia melihat seperti dua sosok hitam di pinggir jalan. Ketika ia mendekat, ternyata seorang ibu tua dengan seorang gadis yang terbaring di tanah menangis kesakitan. Sementara sang ibu tua it uterus berteriak meminta tolong:

“Tolong!! Toloooong kami!”

Khalid sungguh heran dengan pemandangan itu. Rasa ingin tahunya mendorongnya untuk mendekat lebih dekat lagi dan bertanya mengapa mereka berdiri di pinggir jalan seperti itu.

Ibu tua itupun menceritakan padanya bahwa mereka bukanlah penduduk kota itu. Mereka baru sepekan saja berada di situ. Mereka tidak mengenal siapapun di sini, dan bahwa gadis itu adalah anaknya, suaminya sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Dan sekarang si anak itu mengalami sakit melahirkan sebelum waktunya. Anaknya hampir mati karena rasa sakit yang luar biasa itu, sementara mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat mengantar mereka ke rumah sakit.

Ibu tua itu meminta tolong dan memohon-mohon padanya sembari mengucurkan air mata: “Tolonglah, aku akan mencium kedua kakimu….bantulah aku dan anakku ke rumah sakita terdekat! Semoga Allah menjagamu, istrimu dan anak-anakmu dari semua musibah.”

Air mata ibu tua dan erangan kesakitan gadis itu membuatnya terenyuh. Ia benar-benar merasa kasihan. Dan karena dorongan untuk membantu orang kesulitan, ia pun setuju untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Ia segera menaikkan mereka ke mobilnya, dan secepatnya meluncur ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, ibu tua itu tidak putus-putusnya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Khalid dan keluarganya.

Tidak lama kemudian, mereka pun sampai ke rumah sakit. Setelah menyelesaikan urusan administrasinya, gadis itu kemudian dimasukkan ke dalam ruang operasi untuk menjalani operasi cesar, karena ia tidak mungkin melahirkan secara normal.

Karena ingin berbuat baik, Khalid merasa kurang enak jika segera pergi dan meninggalkan ibu tua itu bersama putrinya di sana sebelum ia merasa yakin betul akan keberhasilan operasi itu dan bayi yang dikandungnya keluar dengan selamat. Ia pun menyampaikan kepada ibu tua itu bahwa ia akan menunggunya di ruang tunggu pria. Ia meminta pada ibu itu untuk mengabarinya jika operasi itu selesai dan proses melahirkan itu berhasil dengan selamat. Khalid kemudian menghubungi istrinya dan menyampaikan bahwa ia akan sedikit terlambat pulang ke rumah. Ia menenangkan istri bahwa ia baik-baik saja.

Khalid pun duduk di ruang menunggu khusus pria. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok, dan kelihatannya ia sangat mengantuk. Ia pun tertidur tanpa ia sadari. Khalid tidak pernah tahu berapa lama waktu berjalan selama ia tertidur. Namun yang ia ingat betul adalah pemandangan yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selamanya…Ketika ia tiba-tiba terbangun oleh suara dokter jaga dan dua petugas keamanan yang mendekatinya, sementara si ibu tua tadi berteriak-teriak sambil menunjuk ke arahnya: “Itu dia! Itu dia!!”

Khalid sangat terkejut dengan kejadian itu. Ia berdiri dari tempat duduknya dan segera mendatangi ibu tua itu, lalu berkata: “Apakah proses kelahirannya berhasil, Bu?”

Dan sebelum ibu tua itu mengucapkan sesuatu, seorang petuga keamanan mendekatinya dan bertanya: “Anda Khalid?”

“Iya, benar,” jawabnya.

“Kami ingin Anda datang sekarang juga ke ruang kepala keamanan!” ujar petugas itu.

Semuanya akhirnya masuk ke ruang kepala keamanan dan mengunci pintunya. Ketika itulah, ibu tua itu kembali berteriak dan memukul-mukul badannya sendiri. Ia mengatakan: “Inilah penjahat keji itu!! Aku harap kalian tidak melepaskan dan membiarkannya pergi! Duhai malangnya nasibmu, wahai putriku!”

Khalid hanya bisa terkejut penuh kebingungan, tidak memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Ia tidak sadar dari kebingungannya kecuali setelah polisi itu mengatakan:

“Ibu tua ini mengaku bahwa engkau telah berzina dengan putrinya. Engkau telah memperkosanya hingga hamil. Lalu ketika ia mengancammu untuk melaporkan ini pada polisi, engkau berjanji akan menikahinya. Namun setelah melahirkan, kalian akan meletakkan anak bayi itu di pintu salah satu mesjid agar ada orang baik yang mau mengambilnya untuk membawanya ke panti sosial!”

Khalid benar-benar terkejut mendengarkan ucapan itu. Dunia menjadi gelap di matanya. Ia tidak lagi bisa melihat apa yang ada di depannya. Kalimat-kalimatnya tertahan di kerongkongannya. Hingga tiba-tiba saja ia terjatuh, tidak sadarkan diri.

Tidak lama kemudian, Khalid tersadar dari pingsannya. Ia melihat dua orang petugas keamanan bersama di dalam ruangan itu. Seorang polisi khusus yang ada di situ segera mengajukan pertanyaan untuknya:

“Khalid, coba sampaikan yang sebenarnya. Karena kalau kami melihat sosokmu, nampaknya engkau adalah seorang yang terhormat. Penampilanmu menunjukkan bahwa engkau bukanlah pelaku yang melakukan kejahatan seperti ini.”

Dengan hati yang sangat hancur, Khalid mengatakan:

“Tuan-tuan, apakah seperti balasan untuk sebuah kebaikan? Apakah seperti ini kebaikan itu dibalas? Aku adalah seorang pria terhormat dan baik-baik. Aku sudah menikah dan punya tiga orang anak: Sami, Su’ud dan Hanadi. Dan aku tinggal di lingkungan baik-baik…”

Khalid tidak bisa menguasai dirinya. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Kemudian ketika ia mulai tenang, ia pun menceritakan kisahnya dengan ibu tua dan putrinya itu secara lengkap.

Dan ketika Khalid selesai menyampaikan informasinya, polisi itu berkata padanya:

“Tenanglah! Aku percaya bahwa engkau tidak bersalah. Tapi persoalannya adalah semuanya harus berjalan sesuai prosedur. Harus ada bukti yang menunjukkan ketidakbersalahanmu dalam masalah ini. Perkaranya sangat mudah dalam kasus ini. Kami hanya akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium medis khusus yang akan menyingkap hakikat sebenarnya.”

“Hakikat apa?” potong Khalid. “Hakikat bahwa aku tidak bersalah dan seorang yang terhormat? Apakah kalian tidak mempercayaiku?”

Keesokan paginya, selesailah pengambilan sampel sperma milik Khalid untuk kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan diteliti. Khalid duduk bersama polisi khusus di sebuah ruangan lain. Ia tak putus-putusnya berdoa dan meminta kepada Allah agar menunjukkan apa yang sebenarnya telah terjadi!

Kurang lebih dua jam kemudian, datanglah hasil pemeriksaan tersebut. Hasilnya sungguh mengejutkan. Pemeriksaan itu menunjukkan bahwa Khalid sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Itu sepenuhnya adalah tuduhan dusta. Khalid tak kuasa menahan rasa gembiranya. Ia bersujud kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukurnya karena Ia telah menunjukkan ketidakbersalahannya dalam kasus itu. Petugas polisi itupun meminta maaf atas gangguan yang mereka munculkan. Kemudian si ibu tua dan putrinya itupun ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, Khalid berusaha untuk berpamitan kepada dokter spesialis yang telah melakukan pemeriksaan tersebut, karena telah menjadi sebab kebebasannya dari tuduhan keji itu. Ia pun pergi menemui sang dokter di ruangannya untuk berpamitan dan berterima kasih. Namun dokter itu justru memberikan kabar kejutan padanya:

“Jika Anda berkenan, saya ingin berbicara dengan Anda secara khusus beberapa menit…”

Dokter itu nampak agak gugup, lalu seperti berusaha mengumpulkan keberaniannya ia berkata:

“Khalid, sebenarnya dari hasil pemeriksaan yang telah saya lakukan, saya khawatir Anda mengidap sebuah penyakit! Tapi saya belum bisa memastikannya. Karena itu saya harap Anda berkenan untuk melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk istri dan anak-anak Anda agar saya bisa memastikannya dengan yakin…”

Dengan perasaan dan raut wajah penuh keterkejutan dan kekhawatiran, Khalid pun berkata:

“Dokter, tolong kabarkan pada apa yang sedang kuderita…aku rela menerima semua takdir Allah bagiku. Yang paling penting bagiku adalah anak-anakku yang masih kecil. Aku siap mengorbankan apa saja untuk mereka…”

Lalu ia menangis tersedu-sedu. Dokter berusaha untuk menenangkannya dan berkata:

“Sebenarnya saya tidak bisa mengabari Anda sekarang sampai saya benar-benar yakin dengan hal itu. Boleh jadi keraguanku tidak pada tempatnya. Tapi segeralah bawa ketiga anakmu ke sini untuk pemeriksaan.”

Beberapa jam kemudian, Khalid pun membawa istri dan anak-anaknya ke rumah sakit itu. Selanjutnya mereka diperiksa dan diambil sampel-sampelnya yang dibutuhkan untuk pemeriksaan laboratorium. Setelah itu, ia membawa mereka pulang lalu ia kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui dokter itu lagi. Ketika mereka berdua sedang mengobrol, tiba-tiba telefon genggam Khalid berbunyi. Ia mengangkatnya dan berbicara kepada orang yang menelponnya beberapa menit.

Kemudian setelah selesai, ia kembali melanjutkan pembicaraannya dengan dokter yang mendahuluinya dengan pertanyaan: “Siapa orang yang padanya kau sampaikan untuk tidak membongkar pintu apartemen itu?”

 “Ia adikku, Hamd. Ia tinggal bersama kami dalam satu apartemen. Ia telah menghilangkan kuncinya dan memintaku untuk segera pulang agar dapat membuka kunci pintu yang tertutup itu,” jawab Khalid.

“Sejak kapan ia tinggal bersama kalian?” tanya dokter heran.

“Sejak empat tahun yang lalu,” jawab Khalid. “Saat ini, ia sedang menyelesaikan tahun terakhirnya di universitas.”

“Bisakah engkau menghadirkannya pula besok untuk juga diperiksa? Kami ingin memastikan apakah penyakit ini keturunan atau bukan?” tanya dokter.

“Dengan senang hati, besok kami akan hadir ke sini bersama,” jawab Khalid.

Pada waktu yang telah ditentukan, Khalid dan Hamd, adiknya, hadir di rumah sakit. Dan akhirnya selesai pula pemeriksaan laboratorium terhadap sang adik. Dokter kemudian meminta Khalid untuk menemuinya satu pekan dari sekarang untuk mengetahui hasil akhirnya…

Sepanjang pekan itu, Khalid hidup dalam kegalauan dan kegelisahan. Pada waktu yang dijanjikan, Khalid pun datang pada minggu berikutnya. Dokter menyambutnya dengan hangat. Ia juga memesankan segelas lemon untuknya agar ia lebih tenang. Dokter mengawali penjelasannya dengan mengingatkan Khalid betapa pentingnya bersabar menghadapi musibah, dan memang demikianlah dunia itu!

Khalid memotong pembicaraan dokter itu dengan mengatakan:

“Tolong, Dokter, Anda jangan membakar tubuhku lebih lama lagi. Aku sudah siap untuk menanggung penyakit apapun yang menimpaku. Ini telah menjadi takdir Allah untukku. Apa yang sebenarnya telah terjadi, Dokter?”

Dokter itu menganggukkan kepalanya lau berkata:

“Seringkali, hakikat yang sebenarnya itu begitu menyakitkan, keras dan pahit! Tapi harus diketahui dan dihadapi! Sebab lari dari masalah tidak akan menyelesaikannya dan tidak akan mengubah keadaan.

Dokter itu terdiam sebentar. Lalu ia pun menyampaikan yang sebenarnya:

“Khalid, mohon maaf, sebenarnya Anda itu mandul dan tidak bisa punya anak…, Ketiga anak itu bukan anak Anda. Mereka adalah anak adik Anda, Hamd.”

Khalid tidak mampu mendengarkan kenyataan pahit itu. Ia berteriak histeris hingga teriakannya memenuhi penjuru rumah sakit. Lalu ia jatuh tak sadarkan diri.

Dua minggu kemudian, barulah ia sadar dari ketidaksadarannya yang panjang. Namun ketika ia sadar, ia telah menemukan hidupnya hancur berkeping-keping.

Khalid mengalami stroke di setengah bagian tubuhnya. Kewarasannya hilang akibat berita yang menyakitkan itu. Ia akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa untuk melewati hari-harinya yang tersisa.

Adapun istrinya, maka ia telah diserahkan kepada Mahkamah Syariat untuk membenarkan pengakuannya lalu dihukum dengan hukum rajam hingga mati.

Sedangkan adiknya, Hamd, ia sekarang berada di dalam penjara menunggu keputusan hukum yang sesuai dengan kejahatannya.

Sedangkan ketiga anak itu, mereka dipindahkan ke panti sosial untuk akhirnya hidup bersama anak-anak yatim dan mereka yang dipungut dari jalanan. Begitulah, sunnatullah berlaku: “Ipar itu adalah maut.”

‘Dan engkau tak akan menemukan perubahan pada ketentuan Allah.”

sumber : Chicken Shoup for muslim  penerbit sukses publishing Halaman 105-122
              http://bloghidayah.wordpress.com/2011/09/26/kisah-nyata-ipar-itu-maut/

Note by Penerbit Shafa Publika

akhukum fillah arif zainurrohman

Curahan Kasih Sayang yang Mengharukan…


Penaku selanjutnya akan mengajakmu berkunjung ke negeri Mesir di zaman Fir’aun. Dialah seorang raja yang memerintahkan pengawalnya untuk membunuh seluruh bayi laki-laki yang lahir saat itu. Maka ibunda Musa khawatir akan putranya yaitu nabi Musa kecil nan mungil. Lalu, Najiyah, ibunda musa menuliskan kalimat-kalimat pada setiap pojok peti berbentuk kubus yang didalamnya berisi musa kecil. Peti itu akan dihanyutkan di sungai guna menyelamatkan anaknya.

Di sisi pertama ia menulis: “duhai Rabb, kuletakkan sambungan jiwaku dalam peti ini, seperti yang Kau perintahkan.”

Di sisi kedua ia menulis: ”ya Rabb, kuhanyutkan buah hatiku ke sungai, seperti yang Kau perintahkan.”

Di sisi ketiga ia menulis: ”ya Rabb, arus sungai akan membawa jantung hatiku ke tepian, seperti yang Kau perintahkan.”

Pada sisi keempat ia menulis: ”ya Rabb, kembalikanlah dia kepadaku, seperti yang Kau perintahkan.”

Selanjutnya pada sisi penutup peti, ia menulis: ”ya Rabb, jadikanlah ia rasul-Mu, seperi yang Engkau janjikan.” Lalu berlinaglah air mata cinta. Berdukalah hati yang tengah tersayat. Duh penaku tak sanggup lagi berkisah.

Saudariku,

Lihatlah Najiyah, ibunda Musa, dengan perasaan keibuannya yang begitu tinggi, ia rela menghanyutkan sang putra di sungai agar selamat dari kekejaman Fir’aun. Tentulah gesekan-gesekan gelombang cinta dalam jiwanya sedang berkecamuk untuk menolak tindakannya itu. Namun apalah daya. Akankah naluri keibuannya tega melihat leher putranya mengalirkan darah??? Tidak, tidak, tidak.. Musa kecil harus seger diselamatkan.

Itulah salah satu luapan sisi emosional kaummu yang Allah anugerahkan dengan porsi yang dominan daripada kaum kami.

Penggalan Tulisan

"Mama Jangan Benci Aku"

Kisah Nyata yang Mengharukan,Mama Jangan Benci Aku


Kisah ini benar adanya dan saya menulisnya dengan hati yang dalam supaya kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua supaya jangan terjadi dan cukuplah pengalaman hidup ini saya sendiri yang menjadi contoh hidup,

20 tahun yang lalu tepat jam 2 dini hari saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya tampan namun sepertinya terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang mental. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan bahkan asal jangan saya lihat lagi didepan aku.

Namun Sam suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan  terpaksa saya membesarkannya juga. di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.

Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan yang terkenal. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya.
Sambil tersenyum ia berkata,
"Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!"
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar di kepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tempati beberapa tahun lamanya dan Eric.. Eric...

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun!
Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata saya mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. .. Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!"
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"
Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., Mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...

"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. Tuhan,maafkanlah dosa hambamu ini


KISAH NYATA, CERITA CINTA DARI ORANG YANG SUDAH MENINGGAL ...

Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Kisah ini merupakan kisah nyata yang saya alami, saya punya pacar ketika saya Kuliah semester pertama di bangku kuliahku teknik arsitektur, kami begitu dekat, dia seorang yang sangat baik.

Seorang wanita yang sangat saya sayangi, begitu juga dia kepada saya, berselang 2 Tahun kemudian, ketika diperjalanan menuju sebuah kota, dia pergi sendirian menggunakan motor bebek yang sering dia pakai kemana-mana.



Sebelum berangkat dia sempat sms "aku pergi ya, jaga diri baik-baik" nanti aku kabarin kalo udah sampe sana, ternyata hari itu dan sms itu merupakan sms terakhir dia untuk saya.

Hari naas itu terjadi pada dirinya, tidak lama dari berangkat sekitar 30 menit diperjalanan dirinya kecelakaan, sebuah mobil melaju kencang menyerempet, dia terseret sekitar 10 meter dan terdapat luka besar dibagian kepala, saya pun tidak tau itu terjadi, dengan tenangnya saya masih sempat sms dia setelah kecelakaan, dengan bercanda, "iya aku tunggu kamu sampai, hati-hati dan baik, jangan lupa kasih kabar ya".

Sudah larut malam tidak ada kabar sedikitpun dari dirinya, saya bingung harus melakukan apa, saya coba main belakang, itu karena rasa prustasi saya yang sudah berlebihan.

Keesokan harinya saya mencoba menelponnya pagi-pagi buta, handphonenya masih saja tidak aktif, saya pasrah kemudian saya berpikir mungkin chargenya tertinggal.

Dia yang waktu itu sudah dibawa kerumah sakit terdekat blom sadarkan diri, disaat saya bertanya dimanakah dia ?

Siang itu menjelang, saya mencoba jalan-jalan untuk refreshing, tidak lama kemudian ada suara sms di handphoneku, yang berisikan "adik imam, reina sudah pergi",. itu merupakan sms dari kakaknya yang sudah akrab dengan saya.

saya pun menjawab sms itu dengan simple "iya mbak aku sudah tau kok, kemeren kan dia pergi".

disaat saya sedang duduk bersama teman teman, tidak lama handphone kembali bersuara, ada sms balesan dari kakaknya, "imam reina sudah pergi, dan dia pergi untuk selamanya". saya kemudian lemas dengan harapan kalo pergi untuk selamanya bukan meninggal melainkan pindah rumah.

saya langsung menelpon, ketika diangkat tidak ada sedikitpun percakapan, selain saya mendengar raung tangisan yang sejadi jadinya. tidak lama saya pingsan.

saya pun sudah sadar ketika saya sudah dirumah, saya tidak tau apa yang terjadi, yang saya tau hanya saya ingin bertemu reina, saya langsung pergi kerumahnya malam itu, saya melihat sudah ramai orang orang berpeci, saya masih sempat bingung apa yang terjadi, ketika saya masuk, saya melihat sebujur mayat di tengah tengah ruangan tamu rumah itu.

Saya terhenyak, dan saya dengan sekejab mendekat,saya bertanya kepada orang-orang, siapa yang

meninggal, dan mereka mengatakn reina,saya berteriak sejadi-jadinya, saya melihat wajah reina yang terdapat goresan-goresan luka, saya tidak bisa membayangkan lemahnya saya saat itu.

Seseorang yang sudah sangat lama saya kenal pergi untuk selamanya,saya sadar kematian bisa kepada siapapun, saya, anda dan siapapun, sesuai kehendak dan waktunya.

3 Tahun berselang, saya berulang kali mimpi tentang dirinya, terakhir 5 hari yang lalu tepat tanggal 15 oktober saya kembali bermimpi, mimpi yang menyadarkan saya betapa sayang dia kepada saya, dan menyadarkan saya bahwa apa yang harus kita lakukan di dunia ini lebih baik.

dalam mimpi itu, saya bermimpi seperti nyata dan benar-benar terlihat nya, kami bertemu di depan kampus, saya bercerita-cerita, didalam mimpi itu saya sadar bahwa dirinya sudah meninggal, saya bilang sudah lama kita tidak bertemu ya, "iya sudah hampir 3 tahun ini" jawabnya, saya kangen kamu timpal kembali jawaban saya.

Saya bertanya, selama 3 tahun didalam kubur apa yang kamu lakukan, Dia menjawab dengan santai, tapi ternyata ini adalah peringatan besar untuk saya, dan anda, jawabannya sangat sederhana " mam kalo saya ceritakan apa yang terjadi kepada saya selama 3 tahun didalam kuburan, tidak akan ada lagi kejahatan di dunia".

Siksaan dan hukuman yang tidak pernah dibayangkan orang yang masih hidup, dan kamu berbuat sebaik mungkin sebelum ajal dan meninggal seperti aku.
Aku pengen hidup sehari saja untuk memperbaiki semua kesalahan aku.
itu kalimat ucapan reina yang membuat jantung saya langsung berdetak.

Tidak lama dalam mimpi itu dia mau pamit dan pergi, dan yang saya sangat herankan seperti sebuah kenyataan, ini seperti reka ulang 3 tahun yang lalu, dia pamit seperti disaat saat kematiannya, dia bilang baik-baik ya, jaga diri, dia pergi menggunakan motor dan pakaian yang sama pada saat kecelakaan, aku bilang, aku mau ikut, aku tidak mau kamu pergi, gak usah ikut aku. tidak lama dia pergi, aku kejar dan dia telah menghilang.

saya tersadar dari tidur dan disaat saya tersadar, tubuh langsung merinding, tapi sangat segar tidak seperti biasanya, saya berpikir mungkin mimpi itu membawa saya kedalam alam lain, karena konon 1 hari di dunia, perbandingannya sekian kali lipat di alam sana.

Sampai saat ini saya masih saya masih sangat terpikir dengan pesan-pesannya, bahwa betapa menyesalnya kita bila kita tidak berbuat sebaik mungkin di dunia, karena kita tidak tau ketika kita sudah meninggal, apa yang akan terjadi dialam sana, semoga dengan cerita saya ini bisa menggugah kita.

Mari kita menabung amal ibadah kita dari sekarang, karena ketika kita mati sudah tidak ada kesempatan lagi.


Wallahua’lam bish Shawwab...


Kisah Nyata :SEMUA MENINGGALKAN-KU SETELAH AKU BERHIJAB (JILBAB)

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... "Ya Allah, akhirnya dengan hijab ini aku dapat merasakan lezatnya nikmat iman."

Diakui atau tidak, baik atau buruknya perilaku seseorang itu, juga tergantung dengan siapa ia bergaul. Ketika sahabatnya adalah orang-orang yang memiliki akhlakul karimah (akhlak yang mulia), maka, secara tidak langsung ia telah ikut merasakan langkah sahabat-sahabatnya yang mulia.

Begitu pula sebaliknya, ketika yang mejadi teman gaul itu adalah sekelompok orang yang jauh dari cahaya Allah, kita pun akan mengikuti mereka sedikit demi sedikit. Sebab itu, kita perlu mewas diri dengan siapa kita bersahabat, sehingga tidak menyesal di kemudian hari.



Mungkin, karena kecerobohan saya dalam memilih teman itulah, yang telah menjerumuskanku ke jalan yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam.

Dua puluh tahun lalu, tahun 90-an, mengamen di kampus-kampus, terminal-terminal, telah menjadi pilihan gaya hidupku. Padahal, di lain pihak, orangtuaku termasuk orang yang berada (berkecukupan), untuk membiayai kuliah, kos dan sanguku.

Bahkan, beliau termasuk pengurus salah satu organisasi Masyarakat Islam terbesar di Indonesia, yang mana, jam terbang dakwahnya cukup tinggi. Namun, sekali lagi, karena salah pergaulan, justru jalan setan inilah yang menjadi pijakanku, sebelum akhirnya hidayah merasuk ke dalam sanubari.

Pengalaman buruk itu bermula dari aku menjadi mahasiswi di sebuah universitas di Malang. Aku sendiri lahir dari Sidoarjo. Karena jauhnya lokasi rumah dan kampus, maka saya lebih memilih untuk mengekos di lokasi yang tidak jauh dari kampus.

Terus terang, sejatinya aku menjalani proses perkuliahan itu dengan setengah hati. Tidak ada keseriusan di dalamnya. Oleh karenanya, untuk mencari hiburan, aku mendaftarkan diri untuk masuk group theater. Di sini, meskipun tidak sering, kami kadang-kadang diundang untuk mengisi beberapa acara.

Seiring dengan terus berjalannya waktu, tumbuh keinginan untuk mengikuti profesi beberapa temanku, yaitu mengamen. Bedanya, kalau mereka mengamen untuk memenuhi biaya hidup, sedangkan aku, menjalaninya hanya untuk mencari kepuasan dan kesenangan diri semata.

Gayung bersambut, ternyata teman-temanku itu sangat responsif terhadap keinginanku tersebut. Sejak itulah, karir sebagai penyanyi jalanan di mulai.

Kampus-kampus terbesar di Malang seperti; IAIN (yang kini berubah menjadi UIN), IKIP, UNIBRAW, adalah diantara target kami. Namun, tidak jarang juga kami melebarkan sayap jangkauan kami, ke daerah Batu, karena memang di sini tempat para wisatawan luar negeri, yang mana jika mereka memberi, relatif lebih besar dari pada orang-orang pribumi.

Dari hari ke hari, aku benar-benar dimabuk cinta oleh aktivitas baruku ini. bisa dibilang saat itu aku sudah 'gila', 'gila' ngamen.

Bayangkan, meskipun statusku sebagai mahasiswi, namun, intensitas dalam mengamen, dan jauhnya jangkauan yang harus ditempuh, bisa dibilang, mengalah-ngalahi, mereka yang memang berprofesi sebagai pengamen sejati, sekalipun mereka itu cowok. Aku dan beberapa teman tidak lagi mengamen di kampus-kampus, namun juga sudah menuju terminal-terminal.

Disergap Satpol PP ...

Pernah pada suatu hari, ketika sedang asik melantunkan sebuah lagu di terminal Arjosari, Malang, kami disergap oleh Satpol PP Karena kelihaian kami bersilat lidah, akhirnya, kami dilepaskan, "Pak, kita ini para mahasiswi yang sedang praktek lapangn, yang meneliti tentang kehidupan para pengamen," jelas kami waktu itu yang langsung dipercayai.

Tapi pengalaman itu rupanya tak pernah menyurutkan ku menghentikan kebiasaan gila ini.

Tak puas hanya berkutat di daerah Malang saja, akhirnya kami beranikan diri untuk memperluas daerah jangkauan. Tidak tanggung-tanggung, daerah yang kami tuju adalah Lumajang, bahkan, karena saking kuatnya tekat untuk mengamen, kami berani mengamen hingga ke Madura, Banyuwangi, bahkan Bali sekali pun. (Astaghfirullaha 'Adziim, semoga Allah mengampuni masa laluku).

Aktivitas yang demikian ini, terus aku jalani hingga aku duduk di semester enam. Meskipun demikian liarnya pergaulanku saat itu, orang tuaku tidak pernah mengetahuinya. Dan Alhamdulillah-nya, meskipun tidak terlalu baik, setiap kali ujian semester, aku selalu lulus. -mungkin- hal inilah, yang membuat orang tuaku tidak curiga dengan aktivitas saya.

Tapi memang di balik itu semua, terlihat keinginan mereka agar aku bisa memperbaiki kostum pakaianku. Memang pada saat itu, baju yang ketat dengan bawahan seperti jeans, menjadi pakaian favoritku. Ditambah lagi dengan rambut yang terurai bebas.

Datangnya Hidayah ....

Senikmat apapun hidup di tengah kegelapan cahaya Allah, tetaplah itu semua kenikmatan semu, yang tidak akan pernah mencapai kenikmatan hakiki yang mengarah kepada ketenangan jiwa, dan kesejukan hati.

Semakin hawa nafsu itu dituruti, sejatinya jiwa ini semakin haus, rindu akan siraman ketenangan. Namun, karena hawa nafsu begitu dominan, yang terjadi hanyalah pengingkaran, pengingkaran jeritan hati. Sehingga, meskipun ia terluka, mulut masih bisah tetap tertawa dengan sumringahnya.

Begitu pula dengan diriku. Sejatinya hatiku menjerit, mengakui kekeliruan jalur yang aku pilih. Hingga terjadilah suatu pristiwa, yang cukup menggugah diriku, yang kemudian menjadi titik awal kembalinya saya ke fithrah
Ilahiyah.

Hari itu (akhir dari tahun 1993), tersebutlah salah satu teman kosku yang baru saja menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Pada dasarnya, ia juga termasuk tipe orang yang kurang memperhatikan hijab, termasuk aurat (jilbab).

Tapi, karena tempat PKL-nya di sekolah Muhammadiyah, maka ia pun "terpaksa" menggunakan hijab tersebut. Di tengah-tengah ia merapihkan pakaiannya, saya tertegun melihat jilbab yang sedang ia lipat.

Seketika itu saya memberanikan diri untuk memintanya, "Mbak, jilbabnya saya ambil aja yah," ujarku kala itu. "Untuk apa?" timbalnya "Ya, mungkin suatu hari nanti aku akan memakainya. Sekalian buat kenang-kenangan. Mbak kan sudah mau selesai kuliahnya," ujarku. Akhirnya jilbab itu ia berikan juga.

Setelah ia menyerahkan jilbab itu, saya langsung menjoba mengenakannya. "Wah mbak cantik juga kalau pakek jilbab," ujar beberapa teman mengomentari ulahku. Ada rasa nyesss, tatkala aku bercermin dan melihat penampilanku berjilbab saat itu. Sepertinya setes embun telah membasahi hatiku. Rasanya sejuk sekali. Maka mulailah aku berfikir untuk menggunakan jilbab.

Meski demikian, masih terngiang dengan jelas di benakku, bagimana reaksi kedua orangtuaku nanti? Diam-diam aku pulang dengan penampilan baru, berjilbab. Tapi tetap saja, itu hanya bagian atas. Sebab, pakaian bawah, masih standar jahiliyah, menggunakan jeans.

"Nah, beginilah nak seharusnya seorang muslimah berbusana," puji orangtuaku dalam raut wajah cukup kaget dan linangan air mata. Mungkin karena suka nya, mereka mengajakku memborong pakaiaan muslimah. Alhamdulillah, sejak saat itu, tekad ku menggunakan jilbab semakin kuat.

Terror dari Segala Penjuru ....

Namun, perjalanan ini rupanya tak semulus yang aku kira. Yang ada justru jalan terjal, lagi berbatuan. Akan tetapi, justru jalan yang demikian inilah, yang kemudian hari akan menghantarkan seseorang merasakan manisnya perjuangan, indahnya keimanan.

Setibanya di kampus aku diselimuti keraguan untuk menggunakan jilbab. Penyebabnya, tentusaja mempertimbangkan reaksi teman-temanku, yang sepertinya mereka fobia terhadap jilbab. Maka, untuk menghindari itu semua, aku pun 'kucing-kucingan' bersama mereka.

Kalau kuliah malam hari, saya mengenakan jilbab, kalau siang, akupun melucutinya alias bongkar-pasang. Pekerjaan ini berjalan hingga lima bulan. Tapi, lama-kelamaan, aku sendiri tidak kuat dengan permainan ini. Sebab itu, aku beranikan diri untuk berkata jujur kepada mereka, bahwa aku ada aku yang sudah dengan penampilan baru.

Apa yang saya kuatirkan sebelumnya benar-benar terjadi. Teman-temanku mencemooh dan mengkerdilkanku, "Apa kamu ingin menjadi pocong dengan pakai jilbab!". "Kalau kamu pakai jilbab, kamu tidak akan bebas.Kamu akan selalu terkekang," ujar yang lain. Semua itu, sangat mengiris-iris hatiku.

Tidak cukup dengan omongan saja mereka berperilaku buruk (yang sebelumnya sangat-sangat akrab), mereka juga dengan serempak menjauhiku. Seorang memboikot penampilanku, mereka hilang satu-persatu.

Jadilah aku "sebatang kara". Melihat kondisi kampus yang tidak kondusif ini, saya bermusyawarah dengan orangtua mengenai permasalahanku. Akhirnya diputuskan, pulang-pergi sebagai alternatifnya, sekalipun itu sangat jauh Malang-Sidoarjo.

Ternyata harapan untuk menggunakan hijab dengan mudah di rumah sendiri, tidak semudah membalik telapak tangan. Di sini pun aku dikucilkan oleh beberapa saudara.

"Perilaku masih kayak gitu kok pakai jilbab."

"Nanti saja makai jilbabnya. Kamu itu masih belum menikah. Entar gak laku melihat penampilanmu yang aneh ini," ujar sebagian dari mereka.

Akan tetapi, sebesar apapun angin dan badai hinaan menghantam, aku telah bulatkan niat untuk tetap menggunakan jilbab. Agar pengetahuan agamaku semakin bertambah, maka, akupun melahap buku-buku agama, yang aku beli di toko-toko buku.

Karena membaca pengalaman betapa sukarnya berjalan di jalur yang diridhai Allah, setiap kali melaksanakan shalat, aku senantiasa berdo'a kepada-Nya.

"Ya Allah, sudilah kiranya Engka memberikanku pendamping hidup yang mendukung apa yang aku yakini sebagai kebenaran ini," begitu doaku.

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do'a-do'a hambanya. Melalui perantara kedua orangtuaku, aku akhirnya dijodohkan dengan seorang aktivis dakwah yang sebelumnya tak pernah aku kenal.

Aku sangat bersyukur berdampingan dengannya. Selain ia sebagai figur suami yang baik, ia juga merupakan sosok pembimbing yang senantiasa mengarahkan ke pada jalan yang benar, yang diridhai oleh Allah. Yang sangat membahagiakanku, ia adalah seorang yang sangat mengerti agama dan seorang dai.

Saat ini, kami telah dianugerahi dua putra dan dua putri. Selain sibuk mengurusi rumah tangga dan mendidik anak-anak, aku juga aktif di organisasi muslimah yang berada di bawah naungan salah satu harakah Islam.

"Ya Allah, kini akhirnya aku dapat merasakan lezatnya nikmat iman ini."

"Wahai para Muslimah, gunakanlah hijab sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh agama (Islam) yang indah dan mulia ini. Dengan hijab itu identitas kalian akan lebih jelas. Tanpanya, bukan hanya keimanan kita saja yang kurang nampak, namun, keislaman kitapun patut dipertanyakan."

[kisah ini diceritakan langsung oleh Ibu Fina kepada hidayatullah.com/Robin Sah/hidayatullah/dg sedikit perubahan]


Harapan itu.. keajaiban itu.. dan. Luka itu..

“Aaaaaaaaaaaa..... Pangeran Ramdanku, tolong selamatkan aku...”. Genggaman tanganku pada ranting kayu itu semakin melemah. Dibawah sana, buaya – buaya yang lapar sedang membuka mulut lebar – lebar untuk menyambut makananya.
“Iya Putri Ochaku, aku akan menyelamatkanmu.. Cepat genggam tanganku erat – erat..!!”. Kata sang pengeran sambil mengulurkan tangannya pada sang putri.
“Tidak pangeran aku takut”.
“Ayo cepat putri, genggam tanganku.. !!”. Pangeran terus berusaha untuk meraih tangan sang putri.
“Tidak pangeran.. A... a.... aaaaaaaaaaaaaaaa”. Aku tidak berhasil meraih tangannya dan...
Gdubrakkkkkkkkkk..
“Arghhh.. sakit.. hmm.. lagi - lagi mimpi tentang dia. Kenapa sih?? Hakh..” Ujarku sambil memegang jidatku dan berusaha untuk naik ke tempat tidur lagi.
‘Sepertinya kepalaku benjol’ Gerutuku dalam hati.
“Ocha.. Ayo bangun.. Shalat dulu.. ” Panggilan bunda terkasih memalingkanku dari mimpi aneh itu.
“Iya bunda..”
‘ hemm.. jam berapa sekarang?? Hakh.. udah jam lima.. aduh.. bentar lagi waktu subuh lewat.. o.. tidak bisa.. aku harus bergegas’. Ucapku dalam hati sambil mengambil handuk yang tergantung di pintu dan bergegas menuju ke kamar mandi.

Pukul enam tepat. Suasana jalan raya masih hening seperti biasanya. Baru ada beberapa orang yang memulai aktifitasnya. Aku memalingkan pandanganku ke sebelah kanan jalan. Disana ada Bu Prapti, seorang tukang bersih – bersih jalan yang sedang mulai menyapu dan memungut sampah di pinggir jalan. Dia adalah seorang perempuan yang sebaya dengan Bundaku. Dia seorang janda yang memiliki tiga anak yang masih kecil – kecil. Di tengah kerasnya kehidupan ibu kota ini, tentu saja ia harus bekerja dengan keras agar dapat memenuhi kebutuhannya dan ketiga anaknya.
“Kak Ochaaaaa....” Sebuah suara anak kecil memalingkanku dari bayanganku tentang bu Prapti itu.
“Halo Jajang.. Sedang apa kamu di sini?” Ucapku pada anak yang aku kira berusia tujuh tahun itu.
“Ini kak, saya sedang membantu ibu saya membersihkan jalan. Kak, nanti sore kakak akan mangajarkan saya dan teman – teman membaca dan menulis lagi kan? Iya ya kak, mau ya?”. Ucap anak itu, sambil tangannya yang hitam dan kasar menarik – narik tanganku. Wajahnya yang chubby, lucu dan menggemaskan membuatku iba dan gemas ingin mencubitnya. Dia adalah salah satu anak bu Prapti yang paling besar.
“Iya dik.. insya Allah kalau kakak tidak ada halangan, kakak pasti datang ke tempat biasa”. Kataku padanya.
“Hore.. terimakasih ya kak.. saya dan teman – teman pasti akan mengharapkan kedatangan kakak”. Katanya sambil meloncat – loncat kegirangan.
“Iya insya Allah.. Kalau begitu, kakak berangkat sekolah dulu ya.. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam.. ditunggu ya kak.. hati – hati di jalan..”
Aku tersenyum padanya sambil berlalu untuk kembali melanjutkan perjalananku ke sekolah.

Suasana SMKN 1 Jakarta masih hening. Rupanya belum ada yang datang. Akupun duduk di balkon depan kelas sambil menghirup segarnya udara di sekolahku tercinta, yang sudah dua tahun lebih aku menimba ilmu di sini. Suasananya nyaman, asri dan selalu bersih karena peraturannya sangat ketat yang memerintahkan siswanya untuk peduli terhadap lingkungan. Hijaunya pepohonan di depan kelas, membuat hatiku tenang.
“Ekhmm..” Suara seseorang yang sudah tidak asing lagi ku dengar mengagetkanku.
“Eh, kirain siapa. Tumben jam segini udah dateng? Biasanya juga lima menit mau bel baru keliatan.” Kataku aneh.
“Ya.. kan mau latihan dulu buat nyanyi. Hehe..” Jawabnya asal seperti biasa.
“Heh.. ada juga aku lah yang latihan dulu.” Kataku dengan alis naik sebelah.
“Yey.. kamu kan ngikutin aku dari dulu juga.” Katanya sambil menunjuk – nunjuk hidungku.
“O.. tidak bisa.. kamu yang ngikutin aku.” Jawabku sengit.
“Ya bisa lah.. kan aku guru kamu.” Dia semakin menjadi – jadi.
“Yeh.. aku yang guru kamu. Kan dari kelas satu juga kamu yang ngikutin aku. Mulai dari penyanyi favorit, jenis musik, sampe cara nyanyi juga ngikutin aku. Huh.. dasar..” Kataku lebih sengit.
“Enggak lah.. kamu yang ngikutin aku..” Dia tetap bersikeras.
“Hemmm.. udah lah.. gini caranya gak akan pernah selese..” Jawabku sambil pergi ke obade.
“Hahaha.. huh.. kalah ya....” Katanya sambil meledek.

Dukkk.. Jantungku bergetar. Entah kenapa setiap dekat dengannya, jantungku selalu berdegup dengan kencangnya. Tapi tak bisa dipungkiri, dua tahun terakhir ini aku selalu dekat dengan dia, dan aku selalu merasa senang. Ya, walaupun selalu memperdebatkan hal yang tidak penting, tapi itulah yang mendekatkan aku dengan dia.
Dia adalah Ramdani. Teman sekelasku sejak kelas satu SMK. Kami sama – sama suka bernyanyi kapanpun dan dimanapun kami berada. ‘Duo fals’ itulah julukan kami berdua. Di setiap guru tidak hadir dan tidak memberi tugas, dia selalu mandekati bangkuku dan mengajaku untuk bernyanyi. Dia juga orang yang tadi malam hadir di mimpiku. Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Entahlah sepertinya iya. Selama dua tahun ini aku tidak pernah menceritakan perasaanku ini pada siapapun.
Teeeeeeeeeeettttt... Waktu istirahat pertama. Siswa – siswi berhamburan keluar untuk beristirahat. Ada yang menuju katin, ada yang menuju mesjid untuk shalat dhuha, ada juga yang tetap diam di kelas. Kalau aku lebih memilih memanfaatkan waktu istirahat pertama ini untuk shalat dhuha. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional. Untuk itu, disamping belajar lebih giat, aku juga harus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Agar aku mendapatkan yang terbaik.
“Jul, Ikut aku bentar yuk.. Kamu lagi syaum kan?” Ucapku sambil menarik tangan July yang baru selesai melipat mukena.
“Mau kemana? Iya insya Allah. Tapi bentar, aku mau nyimpen mukena ini dulu”.
“Aku mau curhat nih.. Sini biar aku simpen sekalian”. Kataku sambil mengambil mukena mesjid dari tangan july dan meletakannya di lemari mesjid bersama dengan mukena – mukena yang lainnya.
“Disini aja yuk cha.. lumayan sepi ko”. Kata July sambil duduk di teras mesjid.
“Hemm.. Jul, kamu pernah ngerasa dek – dekan gak kalo lagi deket sama seseorang?”. Ucapku sambil duduk di samping July.
“Ya pernah dong.. Itu namanya kamu lagi jatuh cinta. Hayo.. kamu pasti lagi jatuh cinta ya? Sama siapa cha? hehe”. Kata July menggodaku.
“Mmmm.. tapi kamu harus janji ya.. jangan cerita ke siapa – siapa. Soalnya ini bener – bener rahasia”.
“Iya cha Insya Allah aku bisa dipercaya ko.. Siapa dong? cepet.. aku penasaran”.
“Hemmhh Sini aku bisikin..”. Kataku sambil mendekatkan mulutku ke telinga July.
“Haaaaaaaaaa??? Beneran Cha? Masa? Sejak kapan?”. Kata July sambil berteriak kaget.
“Sutttttt.. jangan rame gitu dong... akh... hmm sebenernya sejak dari kelas satu”. Ujarku sambil membungkam mulut nya.
“Haha.. oke.. oke.. tapi ko selama ini aku kan liat kamu deket banget sama dia, terus kamu bersikap biasa aja ko sama dia”. Ucap July aneh.
“Ya itulah aku tidak bisa menampakannya. Kalau ditampakkan, nanti bisa heboh dong seantero jagad raya SMK kita. Hehe”.
“Huekkk.. Lebeh.. Kayaknya Ramdan juga suka lho sama kamu”. Ucap July menggoda.
“Hmm.. Gak mungkin akh.. Eh Jul, janji ya jangan bilang siapa - siapa”.
“Siph.. Insya Allah.. Hehe.. Mulutku di kunci..”. Kata Juli sambil tangannya menirukan retsleting.
Tetttttttttttt.... Waktu istirahat pertama habis. “Ya udah kita masuk kelas yuk..”. Ucap July sambil menggamit tanganku untuk masuk ke kelas tercinta.
***
Bau busuk di pembuangan sampah terakhir Bantar Gebang merebak masuk ke hidungku. Membuat makanan di perutku berlomba – lomba untuk menyelamatkan diri dari lambung, dan air mataku berdesakan untuk membuncah dari kelopak. Aku mendekap hidungku rapat – rapat dengan kerudungku untuk mengurangi kemungkinanku untuk muntah. Tapi hal ini tidak menggoyahkan semangatku untuk mengajarkan anak – anak pemulung disini. Mereka adalah anak – anak dari keluarga miskin yang tidak mampu untuk bersekolah. Setiap harinya mereka memungut sampah di Bantar Gebang. Mereka memungut sampah yang laku untuk di jual. Seperti sampah pelastik, karton, logam, atau kaca. Alhamdulillah Kegiatan kami sudah berjalan hampir genap satu bulan. Walaupun tidak mendapatkan keuntungan, tapi insya Allah aku ikhlas.
“Assalamu’alaikum...” Ucapku sambil memasuki sebuah gubuk derita yang hanya dibangun dari kardus bekas oleh ku dan lima anak – anak baik ini, untuk kami jadikan sebagai ruangan kelas. Biarpun bau busuk sampah itu juga ikut masuk dan belajar. Tapi itu tidak mengurungkan semangat mereka untuk menimba ilmu di gubuk ini.
“Wa’alaikumussalam kak Ocha....”. Jawab mereka serentak.
“Halo adik – adik.. bagaimana kabar kalian?”.
“Alhamdulillah kak masih bisa melihat, mendengar, berjalan, dan mencium bau busuknya sampah – sampah”. “Hahahahahahha”. Jawab seorang anak kurus kering. Rambutnya gimbal tak terurus, pakaiannya lusuh seperti tak dicuci berbulan – bulan. Namanya Joko.
“Kak Ocha, apa kami bisa seperti anak – anak di film Laskar Pelangi itu? Sepertinya kami mulai putus asa untuk meraih cita – cita kami. Sepertinya mimpi kami ini terlalu tinggi untuk diraih”. Ucap salah seorang muridku yang perempuan, mengheningkan suasana yang tadinya ramai.
“Hei.. kalian tidak boleh berfikiran seperti itu. Sekarang ini yang perlu kalian lakukan adalah, belajar dan berdo’alah dengan sungguh – sungguh. Hidup kita ini berawal dari mimpi. Gantungkanlah yang tinggi agar semua terjadi. Allah SWT. Pasti sudah merancang rencana yang indah untuk kita semua. Yang wajib kita lakukan hanyalah terus berusaha tanpa henti. You can, if you think you can. Kamu pasti bisa jika kamu berfikir kamu bisa. Oke adik – adik? Are you ready? ”. Ujarku untuk memberi semangat pada mereka.
“Yes i am..” Kata mereka serentak.
***
Matahari mulai memasuki singgasananya kembali untuk beristirahat setelah seharian menyinari semua makhluk di bumi ini. Sambil menunggu adzan maghrib tiba, aku membuka
diaryku dan mulai mencoret – coret di atasnya.
‘Di atas kefanaan dunia kini aku berpijak. Di tengah kemolekan rasa kini aku berdiri dalam diam. Diam yang memiliki beribu makna yang tak dapat diungkapkan dengan kata – kata. Diam itu mulai mendesak dan bertanya – tanya. Namun, pertanyaan itu tidak dapat ku jawab sendiri. Kini aku mulai bertanya pada -Nya. Ya Allah.. haramkah aku bila aku jatuh cinta ? Bolehkah aku mencintai ? salahkah aku jika aku terus memikirkan seseorang yang bukan mahramku untuk menjadi mahram?
Aku hanya ingin cinta yang halal Ya Rabb.. di mata dunia juga di mata –Mu. Biarpun aku sakit, hampa, dan dikatakan basi oleh orang lain, tapi aku tahu engkau selalu menyayangiku.
Ya Allah.. Jika aku jatuh cinta, tolong jatuhkanlah cintaku pada Ikhwan yang juga melabuhkan cintanya pada –Mu. Ya Rabb.. Jika aku jatuh hati, tolong biarkanlah aku mengetuk pintu hati yang jalannya menuju kepada keridhaanmu. Kini aku menyerahkan cinta tulusku ini kepada takdirku yang pasti telah –Kau atur dengan pantas’.
***
Connection failed.. Huh, maklum Facebook gratisan. Jadi harus berkali – kali login agar bisa masuk. Alhamdulillah.. Akhirnya bisa masuk juga. Aku ketik namanya di form pencarian. ‘Ramdani’. Duk.. dadaku terasa sangat sesak ketika aku melihat dindingnya. Dia sedang saling mengirim pesan dinding dengan seseorang. Kulihat profil orang itu. ‘Nana Kinara Nurazizah’ namanya. ‘SMKN 1 Jakarta’10’. O.. Rupanya dia anak kelas satu. Dadaku terus terasa semakin sesak. Tapi aku lihat dia seperti merasa gembira. Aku terus berusaha untuk ikhlas dan menata perasaanku agar tidak terus tercabik – cabik. Entah kenapa aku ikut merasa senang karena melihatnya bahagia. Inikah ketulusan? Semoga hatiku bisa menerima.
Suasana kelas riuh seperti biasanya. Guru – guru sedang rapat untuk mempersiapkan ulangan semester ganjil. Ketika Ramdan menghampiri tempat dudukku.
“Heh ocha.. Ada lagu baru gak?? Aku pengen nyanyi nih..” Katanya sambil mengacak – acak isi binder laguku.
“Ada tuh.. bukan lagu baru sih.. tapi kata aku sih enak didenger..” Kataku sambil menyeruput sisa es jerukku.
“Yang mana gitu? Lagunya kakaku bukan” sambil terus mengacak – acak.
“Heem.. Noh yang Cemburu menguras hati” Kataku malas.
“O”.
“Heh.. O.. O.. terus..”.
“He,”.
“Ramdan...!!! Hufttt.. sini aku nyanyiin”. Kataku mulai kesal, sambil merebut binderku yang sudah habis diacak – acak oleh dia.
Dan kamipun mulai bernyanyi seperti biasa. Aku tidak pernah berani menatap matanya karena aku tidak mampu menata perasaanku disetiap ada dia. Tapi jujur, aku sudah cukup senang dengan keadaan seperti ini. Walaupun dia tidak tahu perasaanku, tapi aku bahagia karena setiap saat dia selalu ada di dekatku.
Setelah shalat ashar, aku meluruskan kakiku sejenak di rumah –Nya yang indah ini. Di seberang sana aku melihat dia sedang berbincang – bincang dengan siswi kelas satu. Sepertinya, itu gadis yang ada di FB. Dadaku kembali terasa sesak. Tapi aku terus mencoba untuk mengubur rasa sesakku ini dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. Dari tatapannya, sepertinya dia tertarik pada gadis itu. Pria mana yang tidak akan tertarik jika didekati lebih dulu oleh wanita. Aku tahu seperti apa Ramdan itu. Dia tidak akan mendekati lebih dulu, jika tidak ada yang lebih dahulu mendekatinya. Hei.. Ocha sudahlah...
“Cha, kamu udah tahu belom? Si Ramdan lagi deket sama anak kelas satu?”. Kata July mengagetkanku dari rintihan hatiku.
“Iya Jul, aku udah tahu semuanya. Seisi sekolah termasuk guru – guru juga udah rame ngegosipin mereka”.
“Sabar ya Cha..”.
“Iya Jul, kamu tenang aja. Aku udah biasa sakit ko dari dulu”.
“Ocha...”. Ucap July memelukku.
“Lihat Pak.. tuh si Ramdan lagi pacaran tuh Pak”. Teriak salah seorang teman sekelasku pada guruku yang paling humoris.
“Wah Ramdan sudah besar rupanya.. ah.. dia itu kasmarannya telat.. Ayo kita kepung mereka”. Kata guruku konyol seperti biasanya. Namanya Pak Sukma. Dia adalah guru komputer di Jurusanku. Dia juga adalah pelatih di eskul paduan suara. Selain lihai di bidang komputer, beliau juga pandai bermain keyboard. Suatu saat aku ingin sepertinya.
Mendengar kekonyolan Pak Sukma, Ramdan dan Nana langsung berhenti berbincang -  bincang dan kabur. Semua tertawa melihat kekonyolan itu. Sepertinya hanya aku yang tertawa dalam rintihan.
“Cha, Bapak lihat kamu kemarin sedang mangajar anak – anak pemulung ya di Bantar Gebang?”. Ujar Pak Sukma seraya duduk disebelahku.
“Iya Pak, Alhamdulillah sudah satu bulan”.
“Kenapa kamu tidak masukan mereka ke SD saja Cha?”.
“Wah Pak, Saya belum mampu kalau harus membiayai mereka semua”.
“Kamu belum tau cha? Kan sekarang sudah ada program BOS (Biaya Operasional Sekolah), semua biayanya ditanggung oleh pemerintah. Jadi kamu hanya tinggal membelikan mereka seragam. Dan kalau untuk seragam, kamu bisa meminta bantuan kepada siswa – siswi dan guru – guru di sini untuk menyumbangkan sebagian rizkinya”. Papar Pak Sukma panjang lebar.
“O, iya ya Pak.. Nanti sore saya akan coba bicarakan pada mereka. Dan kalau mereka mau, Bapak bersedia kan untuk membantu saya memasukan mereka ke sekolah ?”. Ujarku penuh harap.
“Iya Cha, Insya Allah Bapak akan membantu kamu”.

Akhirnya semua anak – anak didikku bisa masuk sekolah seperti anak – anak lain pada umumnya. Dengan bantuan Pak Sukma, mereka bisa masuk ke SDN Bantar Gebang. Dengan bantuan teman – teman, mereka bisa memakai seragam yang pantas. Pagi – pagi sampai siang hari mereka bisa belajar di sekolah. Sore harinya mereka bisa tetap memulung seperti biasa, untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
“Kak, terimakasih ya selama ini sudah mengajari kami. Sekarang kami bisa sekolah juga karena Kakak”. Ucap Shanty.
“Hei.. kalian gak boleh bicara begitu. Sesama muslim, harus saling tolong – menolong bukan? Ini juga berkat bantuan Pak Sukma. Ayo bilang terimakasih sama Pak Sukma”.
“Terimakasih Pak Sukma”. Ucap Anak – anak itu serentak.
“Ah.. tidak juga.. kebetulan saja Bapak tahu, dan bisa menolong”. Kata Pak Sukma merendah.
Alhamdulillah.. Sekarang aku tidak perlu mencemaskan mereka lagi, dan aku bisa lebih fokus untuk menghadapi Ujian Nasionalku.

Kegiatan Pengayaan sudah dimulai. Pihak sekolahpun terus menggalakan kepada siswanya agar terus semangat belajar. Untuk itu ditambahlah kegiatan baru, yaitu mentoring siswa. Karena itu kami semua harus rela walaupun harus pulang sore. Aku baru selesai merapikan bukuku sore itu ketika July menarik tanganku.
“Cha, cepetan sini ikut aku ! Kayaknya Ramdan tadi pergi sama Nono”. Kata July tegang.
“Memangnya kenapa? Nono itu siapa?”. Kataku bingung.
“Nono itu Pacarnya si Nana yang ngedeketin si Ramdan. Kayaknya si Nono marah soalnya dia nganggep kalo Ramdan yang ngedeketin Nana duluan. Padahal kan sebenernya Nana yang ngedeketin Ramdan duluan. Udah deh, cepeten ayo. Aku takut Ramdan dipukul sama Nono”. Kata July tergesa dan akupun diseret – seret olehnya.
Ternyata benar dugaan July, wajah Ramdan sudah lebam dipukul oleh Nono. Kancing bajunyapun terlihat lepas. Ketika aku dan teman – teman sekelas menggerebek mereka, mereka langsung kabur begitu saja. Hatiku seketika membara melihat keadaan Ramdan. Ingin rasanya aku membalas pukulan yang dilayangkan Nono pada Ramdan.
“Ram, kamu gak papa?”. Kataku khawatir.
“Enggak ko, gak papa udah kalian gak usah khawatir. Dan aku harap, gak boleh ada orang lain lagi yang tahu hal ini”. Ucap Ramdan sambil berlalu pergi.
Setelah kejadian itu, aku melihat Ramdhan tidak seceria biasanya. Dia lebih sering terlihat murung. Tapi untungnya dalam belajar dia masih tetap semangat. Kami selalu belajar bersama untuk manghadapi UN. Dia sering memberikan soal padaku dan kamipun berlomba untuk mengerjakan soal itu.
Alhamdulillah.. Semua rangkaian ujian telah selesai. Dimulai dari Ujian Praktek, Ujikom, dan terakhir ditutup dengan Ujian Nasional. Dan kini kami tinggal menunggu hasil. Dalam penantian yang lamanya satu bulan itu, kami gunakan untuk membebaskan diri dari kekangan. Kami berleha – leha, menonton film bersama, atau main game.
                                
27 April 2011. Setelah shalat maghrib, akupun meraih ponselku. Apa yang anda pikirkan? Aku lalu mengetik di form status untuk meluapkan perasaanku.
“Hufttt.. baru latihan tadi, eh sekarang udah lupa lagi.. hehe”. Ketiku.
‘Ramdani mengomentari starus anda‘. Terlihat link pemberitahuan di dindingku.
“Ikutan dong..”. Komentarnya.
“Hem.. boleh.. eh jadi gug duet wat perpisahan teh?”. Aku menunggu komentarnya kembali. Tapi tidak muncul juga. Tapi setelah sekian lama aku menunggu, ternyata dia malah mengirimiku SMS.
“Lagu apa ya?? Gimana kalo Bunga – Bunga Cinta??”. SMSnya.
“Haha.. boleh.. boleh... tapi awas lho.. jangan tegang.. kan ini baru pertama kamu nyanyi di depan khalayak banyak.. hehe”. Balasku.
“Haha.. semoga bisa.. eh aku mau ngomong sesuatu”. Dia kembali membalas SMSku.
“Aminn.. Mau ngomong apa?”.
“Mmm... 3 tahun sudah berjalan dan kita telah lalui bersama suka maupun duka... Awalnya ku anggap engkau sahabat tapi seiring waktu berjalan aku mulai merasa ada yang berbeda setiap dekat kamu... ternyata aku mulai menyukaimu....”.
Bagaikan ada bom yang meledak di atas kepalaku. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku menceritakan hal ini pada July. Satu – satunya orang yang mengetahui perasaanku saat ini. Dia mencoba menenangkanku. Aku hanya mampu mengetik..
“Maksudnya?”  Lalu dia membalas..
“Mmm.. Aku suka ma kamu... mau gak taarufan ma aku... untuk mengenal satu sama lain lebih dekat lagi... mungkin caranya kurang jentel mengatakan hal ini lewat kata-kata”
Akupun semakin bingung, karena aku sangat kaget dengan keajaiban yang baru saja menimpaku. Aku memang selalu berdoa pada Allah SWT. Jika dia memang jodohku semoga kami didekatkan sedekat – dekatnya dan jika bukan maka jauhkanlah kami berdua. Dan kini Allah mendekatkan kami. Dan aku menanyakan pendapat July. Tapi aku masih tetap bingung. Diapun mengirimkan sms itu lagi dan lagi. Akhirnya aku hanya mampu mengetik dua kata...
“Insya Allah” Ya hanya itu.. dan diapun membalas..
“Aku hanya ingin kamu tau perasaan aku ke kamu bagaimana... takutnya gak bisa ketemu lagi.. jadi gimana taarufannya??”
Aku semakin bingung disini. Aku tidak bisa menutupi perasaanku. Aku juga sangat menyukainya dari dulu. Dan aku paling tidak bisa melihat dia sakit. Dan aku juga tau bahwa dia baru sembuh dari sakitnya. Walaupun ragu, tapi akhirnya aku manjawab...
“Ya makasih kamu udah suka sama aku. Walaupun aku merasa banyak kekurangan... kalau Allah mengidzinkan... apapun bisa terjadi”
Ya.. kata-kata itu secara halus telah menjelaskan kalau aku mau taarufan dengannya. Walau sebenarnya aku takut harus bagaimana besok jika bertemu dengannya. Aku takut akan jauh dan canggung jika aku mau. Tapi aku kesampingkan perasaanku asalkan dia bahagia. Kebahagiaannya juga kebahagiaanku. Siapa tahu aku bisa mengobati rasa sakitnya.

Satu bulan hampir berlalu. Ta’arufan kami berjalan baik. Hanya beberapa orang yang menetahui hubungan kami berdua. Tapi ternyata kekhawatiranku benar terjadi. Kami malah canggung jika bertemu dan semakin jauh. Aku merasa lebih baik seperti dulu. Biarpun aku tidak memiliki hatinya, tapi aku bisa tetap dekat dengan dia. Duet kami di perpisahan juga aku batalkan karena pasti sangat sulit untuk kami latihan. Karena pasti akan sangat canggung. Akhirnya kamipun bernyanyi sendiri – sendiri. Pada malam perpisahan itu aku merasa sangat dekat dengannya. Aku terus menenangkannya agar tidak nervous saat bernyanyi nanti. Dia menyanyikan lagu Bukan Cinta Biasa – Afgan. Ketika temanku menyanyikan lagu Bukan Cinta Biasa – Siti Nurhaliza, dia ikut bernyanyi dan sambil melihat kearahku yang ada di belakang panggung. Mungkin tanpa ia sadari sebenarnya aku juga sedang menatap kearahnya. Terlintas dibenaku..
‘Ya Rabb.. seandainya waktu dapat berhenti, aku ingin engkau menghentikannya sekarang juga’. Kata hatiku sambil meneteskan air mata. Tapi waktu tidak mungkin bisa dihentikan.

25 Mei 2011. Seharian dia tidak memberi kabar apapun padaku. Akhirnya ku tinggalkan ponselku di kamar, lalu asyik menonton TV bersama keluargaku. Pukul 14.00. Aku melirik ke arah ponselku. Ternyata sudah ada 3 pesan masuk darinya. Dia mengabari bahwa dia sedang sibuk mempersiapkan syarat – syarat untuk beasiswanya. Tapi aku menanggapinya dengan bercanda seperti biasa. Aku tidak tahu kalau dia sedang serius. Dan dia lalu mengatakan hal yang tidak aku duga sebelumnya..
“Cha, sebentar lagi kita akan berpisah. Sepertinya kita akan sulit untuk berkomunikasi lagi. Sepertinya aku juga pengen sendiri dulu. Aku harap kamu gak kecewa dengan keputusan aku ini dan bisa tetap jadi sahabat”.
“Iya aku juga ngerasa sama ko.. lebih baik kita fokus dulu meraih cita – cita kita.. :)”.
“ :’) ”.
“Kenapa? Gak usah sedih gitu dong..”.
“Iya hehe.. Nanti kita juga bisa ketemu lagi kan..”. Balasnya.
“Insya Allah...”. Jemariku bergetar ketika mengetik kalimat terakhir.
Awalnya aku juga memang merasa hal yang sama dengan dia. Tapi entah mengapa tiba – tiba air mataku menetes dengan sendirinya. Aku merasa ada bagian jiwaku yang hilang. Sahabatku menceritakan padaku kalau sesungguhnya dia takut menyakiti aku kalau ta’arufannya dilanjutkan. Dan sahabatku juga bilang kalau Ramdan itu ingin balas dendam dengan Nana, atas semua yang telah dilakukan Nana padanya, tapi dia takut aku sakit jika kami masih berTa’aruf. Tapi hatiku tetap terasa sakit sampai saat ini. Dan sepertinya tidak akan pernah sembuh sampai kapanpun. Karena aku sudah jatuh berkali – kali karena harapanku padanya. Tapi semoga aku bisa cepat sembuh.
Setahun.. Dua tahun.. ?? Tidak !! Lebih dari itu. Ya, bertahun – tahun harapan itu telah bersarang di hatiku. Awalnya hanya setitik harapan itu. Tapi, detik demi detik mengiringi langkah asaku. Titik itu terus melebar hingga seluas samudera. Bahkan lebih luas dari itu. Ya, entah seluas apa. Aku tidak dapat mengungkapkannya. Aku sempat bertanya.. Apakah harapan itu mungkin ku raih? Batinku berkata.. Kemungkinan itu hanyalah setitik dari samudera harapan yang telah kau ukir.. Hanya setitik! Tapi entah mengapa bodohnya aku terus mengharapkan setitik kemungkinan itu. Padahal titik itu sedikit demi sedikit terus menyayat – nyayat hatiku hingga hatiku telah koyak karenanya. Tapi aku terus mencoba menjahit koyakan itu dengan senyuman harapanku yang terus ada di dekatku walaupun aku tidak dapat menggenggamnya. Ya, harapanku tersenyum dalam genggaman tangan lain. Sesungguhnya hatiku merintih.. tapi rintihan itu telah aku kubur dengan senyuman itu.. bahagia itu.. Ketika harapanku menangis, jahitan hatikupun ikut terlepas oleh tangisan itu. Setiap hari dalam sujudku, aku terus berdo’a agar harapanku bisa terus tersenyum. Karena senyumannya bisa membuat hatiku tersenyum juga meski dalam rintihan.
Suatu malam di tahun terakhir aku bersama harapanku.. Hatiku bergetar hebat.. darahku berdesir dengan derasnya.. jantungku terus berdebar hebat tanpa henti. Keajaiban datang menghampiriku. Membawa harapanku selama ini. Yang diantar oleh alunan do’a yang kupanjatkan bertahun-tahun lamanya. Bahagia.. aku bahagia.. lukaku seketika mengering malam iu.. ya hanya malam itu saja. Ternyata hal itu tidak sesuai bayanganku. Harapan itu telah ku genggam, namun genggamanku semakin menjauh.. Dan samudera harapan itu ternyata lebih mencabik-cabik hatiku hingga membuat hatiku hancur berkeping-keping.
Kini samuadera harapan yang sempat pasang itu telah surut tak berbekas, membawa hatiku bersamanya hingga tak tersisa lagi sekepingpun. Membuat aku jera akan harapan. Trauma aku akan harapan !! Dan kini aku tidak akan lagi mencari dan menghampiri harapan itu sebelum ada harapan yang datang menghampiriku dan membawa hatiku seutuhnya tanpa luka setitikpun’.





sumber : http://jeritanhatiseorangwanita.blogspot.com/


akhukum fillah arif zainurrohman