Pengetahuan dan Jiwa (Maulana Rumi)



Hanya dengan “pengetahuan” saja, jiwa tidak dapat diuji;
Pengetahuan berlimpah, jiwa yang lebih agung pun abadi

Jiwa kita melampaui milik si bukan-insani;
Sebab, kian pengetahuan, ia makin dipahami.
Meski malaikat meyandang jiwa yang lebih mulia;
Sebab mereka serba kamil nan tak memendam rasa.

Penguasa snubari tetap punya jiwa;
Lampaui milik para malaikat! Tinggalkan amalan hina!
Itulah mengapa Adam pantas beroleh hormat
malaikat;
Jiwanya, telah Tuhan tinggikan, ungguli jiwa mereka.

Sebab, bagaimana mungkin Tuhan yang Arif berfirman palsu:
Yang lebih tinggi hormati yang rendah?
Tidakkah Keadilan dan Kasih Tuhan menentang.
Seutas onak tanpa harkat dipuja sekuntum mawar?
Apakah jiwa itu? Kesadaran akan baik buruk,
tak suka kerusakan, gandrung kebaikan.

Dan, sebab hakikat jiwa damba kesadaran,
Yang lebih sadar, lebih agung jiwanya.
Sepotong jiwa agung menembusi segala batas,
Semua jiwa lain memuja dan menaatinya.

Jiwa manusia dan malaikat, burung dan ikan;
Sebab jiwanya mengangkas sedang jiwa lain merana.
Dan karena kesadaran-ia damba,
Dan ini tidak mencipta kesan kecuali pada wilayahnya.

Jiwa yang lebih sadar, lebih kemilau;
Dan lebih karib mereka akan Tuhan, ilahi.
Sebab jiwa itu suatu keseluruhan yang bisa dikenali;
Mereka yang tanpa wawasan tanpa jiwa.


syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

Orang Mukmin itu Satu (Maulana Rumi)



Orang-orang Mu’min itu banyak,
namun Iman itu hanya satu; 
tubuh mereka itu beraneka-ragam, 
namun jiwa mereka hanya satu.
Selain pengertian dan jiwa yang juga
dimiliki sapi dan keledai.

Manusia memiliki akal pikiran dan jiwa
lain.
Lagi pula, pada diri pemilik nafas Ilahi,
ada jiwa lain yang lain dari jiwa manusia.

Jiwa bintang tak
memiliki kesatuan:
jangan pula mencari kesatuan dari ruh halus itu.

Jika pemiliknya memakan roti,
tetangganya tak merasa kenyang;
tetangganya pun tak merasa terbebani,
jika dia memikul beban;
Bahkan senang atas kematian
tetangganya dan mati lantaran iri melihat
tetangganya sejahtera.

Jiwa serigala dan anjing bercerai-berai;
jiwa Singa-singa Tuhan berpadu
menjadi satu.

Jiwa yang kubicarakan
tentu saja jiwa mereka yang banyak,
karena Jiwa yang tunggal itu ratusan kali banyaknya kalau dihubungkan dengan badan.

Sama seperti tunggalnya cahaya matahari di langit,
menjadi ratusan kali banyaknya bila
menyentuh halaman rumah yang
disinarinya;

Namun apabila kau pindahkan dinding-
dinding,
seluruh cahaya yang berpendar itu satu dan sama juga.
Apabila rumah jasmani tak memiliki
fondasi yang tersisa,
Orang- orang Mu’min tetap satu jiwa.

JALALUDIN RUMI, Masnawi. IV, 408


syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

SAJAK-SAJAK FAKHRUDIN `IRAQI


terjemah : Abdul Hadi W. M.

DUNIA CINTA
Mana ada hati yang tak menyemburkan luka bila tertusuk cinta
Mereka yang tak pernah merasakan sakit cinta
Adalah lumpur yang tak berjiwa
Palingkan dirimu dari dunia,
belokkan kaki kelanamu dari sana
Songsong kerajaan cinta dan rasakan lezatnya

HATI NANAR
Lagi hati nanarku mengambil anggur cinta
Dan bersandar di dada cinta:
Lagi jiwaku menyerahkan diri padanya
Tenteram dalam buaian cinta
Ke dalam otak yang gundah anggur dituang
Buih mendidih berkat puji-pujian:
Beri aku anggur, sebab sekali lagi
Akan kutunjukkan kepala murungnya
Dalam pesona wajah-Mu molek
Sampailah jiwaku, masuklah kalbuku
Dalam hatiku, cinta yang lain tak punya
Tempat lagi, riang sudah datang
Burung cinta melayang ke dalam hatiku
Menyampaikan pesan Pencintaku
Dengan senang aku pun mati untuk-Nya
Dan hidup kekal bersama-Nya

HATI YANG RINDU
Hatiku yang rindu telah hampir pada-Mu
Tulang belulangku jauh di dalam penjara:
Mengapa Kau sembunyikan wajah-Mu dariku?
Namun cinta tak kenal rintangan
Kau lintah, aku sakitnya
Kau sedih, aku senang:
Kilau kencana-Mu, bagaikan anak panah
Tembus menusuk kalbuku
Walau anggur tak pernah nyentuh bibirku
Oleh rindu aku pun mabuk;
Di laut pedih-pedihmu
Kapal hidup dan harapku karam
O Kau yang senantiasa
Menyinarkan matahari baru di langit
Dalam gurun cinta-Mu
Aku tinggal dan mengembara

MANUSIA SEMPURNA DALAM CINTA
O Musafir, nyanyikan lagu keluh kesahmu
Kuingin nada lembutmu menyentuh jiwaku:
Bagi sembilan rupa cinta yang lembut
Tunjukkan rahasia hati pencinta ini
Sejenak tercerai dari Sahabat, aku mati:
Bangkitkan kembali kalbuku dengan gelombang hidupmu
Biar aku dapat menjejakkan kaki dalam lingkaranpara pencinta

Dan kucium cincinnya. Sejenak
Biar kulupa dunia, sejenak saja
Tak kuacuhkan nafsuku: hapus
Dan biar aku pindah segera
Ke dunia mabuk dan seperti mabuk
Akan kucipta tari, bangkit menjeritkan
Cinta penuh damba – sungguh akan kujeritkan
Cinta pada Kekasihku – dan berdiri tegak akudi puncak luhur cita.
Sayap kukepakkan
Seperti burung suci, terbang
Dari lamunan hampa ke hakekat murni
Kemudian, akan kuceritakan satu persatu
Keindahan Sahabat, cinta para pencinta.

(Terjemahan Abdul Hadi W. M.)


syukron pak https://www.facebook.com/hamdi.akhsan.7

akhukum fillah arif zainurrohman

FENOMENA PARA MUJTAHID DADAKAN BERMAZHAB QUR`AN DAN SUNNAH


[Silahkan dibaca baik-baik dan mari kita renungkan bersama]

Jika kita melihat fenomena umat Islam sekarang, kita akan terkejut dan ‘bangga’ karena menduga bahwa ada kemajuan yang luar biasa dalam agama kita. Terkejut, karena setiap orang ngotot ingin bicara masalah agama. Setiap orang ingin berkomentar tentang suatu perbuatan yang ditinjau dengan gaya atau perspektif agama. Lebih hebatnya lagi, banyak sekali orang-orang yang baru kemarin belajar agama bisa berdalil langsung dari Al Qur`an dan sunnah. Karena mazhab mereka Al-Qur`an dan Sunnah, seolah tidak perlu mazhab yang empat !

Melihat kenyataan ini, fikiran kita pun langsung tertuju kepada tokoh-tokoh besar semisal Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi`i, Imam Ahmad bin Hambal, dll. Mungkin hati kecil kita berbisik seraya bertanya-tanya, "..di zaman seperti ini ternyata masih ada mujtahid mutlaq seperti mereka dan jumlahnya lebih banyak ? ..lalu kenapa di masa sahabat, tabi`in, tabi` tabi`in, dan generasi salaf, ko’ tidak sebanyak itu mujtahid yang ada seperti sekarang ini ya ? ..seharusnya di masa mereka jumlahnya lebih banyak, karena mereka paling dekat dengan masa diturunkannya Al-Qur`an ?.." ..lho, ko’ terbalik, ya ?

Dengan banyaknya para mujtahid baru itu, fikiran kita akan kembali tergelitik, "..mestinya umat Islam jaman sekarang tidak akan kebingungan lagi menjalani roda kehidupan ini, semua aspek kehidupan manusia akan berjalan seiring dengan tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah karena banyak yang akan menjelaskannya.., ‘tanya saja’ kepada para mujtahid baru itu.

Namun entah mengapa, ruh agama justru terasa semakin jauh dari kehidupan ?.." Fenomena kemunculan para mujtahid baru tadi malah menimbulkan kegoncangan di dalam tubuh umat Islam. Dimana-mana terjadi fitnah ! Terjadi perang argumen, adu otak, menghina ulama fulan, saling menuding sesat dan kafir, bahkan menghalalkan darah orang-orang yang sama-sama berkiblat ke Ka`bah, atau minimal terjadi perang dingin ! Umat pun jadi terpecah-pecah ! lalu untuk apa para ‘mujtahid’ baru itu bermunculan ?

Kenapa dengan munculnya para mujtahid ini justru realita umat Islam semakin buruk karena semakin banyak kekacauan ? Sesama umat Islam malah terpicu ‘perang’ secara internal. Beberapa kali saya katakan; musuh Islam yang sebenarnya akan senang bila sudah terjadi perpecahan umat Islam seperti ini. Seharusnya kehadiran para mujtahid ini membuat permasalahan agama bisa diselesaikan dengan mudah dan mereka mampu menunjukkan Islam yang rahmat kepada umat. Permasalahan-permasalahan agama yang kerap diributkan dewasa ini sebenarnya adalah masalah yang umumnya sudah diselesaikan oleh ulama beberapa abad lalu. Tinggal kita memahami apa yang mereka ijtihadkan, mengkritisi ijtihad mereka dan menyesuaikan dengan tuntutan zaman, lalu saling bersikap toleransi dalam perbedaan. Bila tidak paham atau tidak setuju dengan mereka, kenapa mesti menghina dan menuduh mereka macam-macam ? Dan ternyata, kesalahan itu tidak melekat pada diri para ulama, akan tetapi aib yang ada pada diri mujtahid baru tadi ! Ulama itu banyak dan para mujtahid dari dulu juga bermunculan, kenapa tidak ‘memperluas dada’ saja untuk mengkaji ijtihad mereka yang memang layak untuk berijtihad ? ..duh, kesombongan.., engkau datang ‘terlalu awal’ menyapa para mujtahid dadakan ini. Walaupun saat ilmu mereka ‘mumpuni’, apakah kesombongan ini harus ‘merajai nafsu’ jalan dakwahnya ?

Ketika kita menukikkan pandangan lagi, kita akan dapati realita yang terasa miris dihati. Para mujtahid baru itu sibuk untuk menyalahkan ulama ini dan itu. Sibuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah sekehendak mereka. Padahal pada tataran realita umat Islam, masih banyak hal yang belum tergarap oleh ulama kontemporer ! Pelbagai kemajuan teknologi belum terjawab, solidaritas muslim dalam setiap aspek kehidupan seperti perekonomian, kesehatan dan pendidikan. Mempersiapkan segala pertahanan dari musuh Islam yang sebenarnya sedang mengintai dan berusaha menghancurkan Islam dari dalam. Mempersatukan umat dalam ikatan ukhuwwah yang kuat, dan lain sebagainya, seharusnya menjadi prioritas utama dibanding meributkan kembali fanatisme golongan dan masalah furu’. Melihat realita ini, kita semakin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya ini ?

Tapi, sudahlah. Kita tidak usah terlalu memikirkan para mujtahid dadakan itu. Yang dengan mudahnya diberi gelar ‘Al-Ustadz’ dalam tempo ‘dua minggu’ atau hapal Qur’an dan Hadits sebanyak ‘dua puluh biji’. Toh, konsekwensinya akan mereka rasakan sendiri. Jika pola pikir mereka tetap stagnan, kaku, tekstual, menggunakan konsep satu arah atau ‘kacamata kuda’, menolak ilmu dan informasi yang sudah jelas kebenarannya dari dulu, taqlid buta terhadap buku dan syeikhnya, serta selalu melakukan pembenaran sepihak, maka mereka bisa menjadi kaum jumud dan enjoy dalam alam dzulumatnya sendiri..

Wallahua'lam

syukron 
https://www.facebook.com/wijayaelda

akhukum fillah arif zainurrohman