Mawar

arif zainurrohman

      

     " Mawar putih mawar merah mawar hitam (emang ada mawar hitam haha) "
   Suatu ketika di suatu hari seperti biasa aku selalu usahakan untuk pergi ke suatu tempat yang ramai ketempat itu selalu selalu selalu aku usahakan lima waktu dalam satu hari. Setiap hari dalam lima kali melalui jalan yang sama tidak pernah ada rasa bosan melakukan rutinitas itu melewati taman itu, melewati rumah rumah itu, melewati tikungan tikungan itu. Suatu ketika ada sesuatu yang mencuri perhatianku di ujung sana jauh mata memandang kulihat ada sesuatu yang sangat indah itu adalah sesosok wanita dengan rok panjang, baju lengan panjang, jilbab panjang benar benar tertutup tiada celah sama sekali. Tangannya lemah gemulai menyentuhi mawar mawar itu dari tempat satu ke tempat lainnya gerakannya lembut bak gerakan gerakan mawar mawar itu yang tertiup hembusan angin. Tanpa sadar kudekati dia , ia menatapku dengan senyumannya indah sekali. Wahai dzat yang maha agung sungguh indah makhluk ciptaanmu itu mawar mawar dan wanita itu pikirku.
     Tanpa sadar ternyata ia mengucap salam kepadaku , dengan agak gemetar kujawab salam itu ia hanya tertawa kecil melihat tingkahku dan aku pun juga ikut tertawa tuk mengusir kecanggunganku. Kemudian ia pun hanya berjalan kesana kemari menikmati keindahan mawar mawar itu tanpa berbicara. Sedangkan aku hanya terdiam memandanginya, kami terdiam di tengah keramaian taman. Detik demi detik pun berlalu dan ia masih saja asyik memperhatikan mawar mawar itu. Ia memang hanya melihat lihat namun suatu ketika ia mulai memberanikan diri tuk menyentuhnya. Disela sela kesibukannya kuberanikan diri tuk bertanya menanyakan namanya. Namun memang dasar aku yang kurang beruntung sewaktu kalimat pertama belum selesai ku ucap,  ia pun berucap istighfar jarinya tanpa sengaja tertusuk duri , akupun dibuatnya terkejut , sepertinya kami sama sama terkejut. 
     Ia terkejut aku mulai berbicara sehingga jarinya pun tertusuk duri darah mengalir dari ujung telunjuknya itu, tanpa sadar kurogoh kantung celanaku dan kutemukan  sapu tanganku. Tanpa pikir pikir lagi langsung saja kuberikan padanya , ia balutkan sapu tanganku pada jarinya yang terluka, tentu saja ia balut sendiri, aku tak mungkin menyentuhnya. Kemudian kami pun duduk di bangku taman dekat kumpulan mawar mawar itu
dan tentunya dengan jarak yg cukup jauh 
      Iba aku melihatnya, nampaknya sakit sekali , darahnya keluar cukup banyak ia pun menoleh ke arahku dengan senyumannya yang indah tadi itu. Nampaknya ia sadar dengan ke khawatiranku, ya namun itulah wanita selalu bersembunyi di balik senyumannya selalu mengabarkan bahwa ia dalam keadaan baik baik saja, padahal tidak. Akupun hanya bisa mengiba saja tanpa bisa berbuat banyak, ku ucapkan permintaan maaf padanya  dan apakah perlu untuk melakukan perawatan lebih lanjut lagi, karena bagaimanapun itu terjadi  karena kalimat yang keluar dari lisanku sehingga merusak ketenangannya jiwanya sehingga terjadilah kecelakaan ini. Ya lagi lagi sifat kewanitaannya keluar ia berucap terimakasih atas perhatian yang ku tunjukkan padanya dengan senyumannya itu pastinya. Namun tetap saja aku merasa tidak tenang, namun ia menatapku dan tersenyum lagi 

      Kamipun kembali terdiam duduk di bangku taman suara suara tawa candaan orang orang di taman terasa tidak mengganggu kami sama sekali. Terdiam membisu seribu bahasa menikmati keindahan taman merasakan hembusan angin yang sangat sejuk sekali, sejuk sekali karena memang itu terjadi di sore hari. Ada rasa aneh di dalam hatiku, kenapa ia hanya diam saja, bukankah wanita itu cerewet, tapi ia hanya diam . Mulai kucoba memberanikan diri tuk melihat wajahnya, wajahnya seperti menengadah ke atas menatap langit
matanya terpejam, kerudungnya bergoyang goyang tertiup hembusan angin, indahnya makhluk ciptaan ar rahman ini.
         Tapi hatiku bergejolak ini salah ini salah ini salah aku tak mungkin memandanginya lebih lama lagi. Ini tidak boleh akhirnya pun kualihkan pandanganku ke arah depan. Kemudian akupun terkaget, ia tertawa kecil sekali kecil sekali akupun jadi ikut tertawa juga. Ia kemudian tersenyum dan berhenti tertawa kemudian ia pun menatap kumpulan mawar mawar itu dan mulai berbicara 

"mawar itu indah ya" katanya
"ya" kataku
"mawar merah mawar putih lalu adakah mawar hitam mawar biru dan mawar mawar lainnya ? " tanyanya
"aku hanya pernah melihat mawar merah dan sesekali mendengar tentang mawar putih, kalau mawar hitam aku tak tau" kataku
"mawar hitam ya"katanya sambil menatapku dengan senyumannya
"kau pernah melihat mawar hitam" tanyaku
"belum pernah , mungkin tidak ada , mungkin itu hanya sebuah perumpamaan saja" katanya sambil tersenyum lagi
"oh aku pikir kau pernah melihatnya" kataku sambil tertawa kecil
"tidakkah kau sadar kumpulan mawar mawar itu sama seperti kumpulan wanita wanita ?  " tanyanya
"maksudmu ? " tanyaku penasaran
"perhatikanlah mawar putih itu, mawar putih itu menggambarkan seorang wanita , putih bersih indah terjaga    sekali, kelopak bunganya ibarat kerudungnya yang menjaga kepala menutupinya namun tidak mengurangi       keindahannya atau kecantikannya, duri durinya ibarat pakaiannya yang menutup tubuh secara menyeluruh      dengan rapi tanpa celah namun tetap menyenangkan  pandangan mata, tangakainya kokoh berdiri tega          tertiup angin lemah gemulai gerakannya, namun mereka tetap saja perempuan, mawar putih itu adalawanita    yang dengan keikhlasan hati menjaga kesucian dirinya sejak lahir dididik oleh orang tuanya agar tetap        selalu bersih putih menutup diri namun tetap anggun, benar begitukan ?" katanya menatapku sambil    tersenyum dan akupun juga tersenyum membalas senyumannya
"kemudian lhatlah mawar merah itu" katanya sambil menunjukkan letak kumpulan mawar merah padaku

"mawar merah itu menggambarkan , mawar merah itupun juga sama, mungkin warnanya memang merah tapi     tetap saja bukan berarti ia berlumuran darah" katanya sambil agak cemberut
"mungkin itu lebih kepada kematangan seorang wanita yang telah menemukan cintanya, atau mungkin bisa disebut wanita yang telah mempunyai gelar "istri", ya istri dari seorang laki laki yang bisa menjaganya,mendidiknya,mengayominya, dan apapun yang baik baik untuk wanita" katanya dengan senyuman khasnya

"setelah menjadi istri pun wanita itu tetap menjaga kesuciannya, memberikan pengabdiannya secara tulus pada sang suami" lanjutnya
"kemudian mawar hitam" katanya  agak lama ia terdiam dengan raut wajah yang agak sedih, kemudian ia pun melanjutkannya lagi

"mawar hitam menggambarkan ketulusan seorang wanita yang telah di sia siakan, mawar hitam ini seharusnya tidak ada, namun baik mawar putih maupun mawar merah bila tidak di rawat dengan baik makan akan menjadi kotor seiring berjalannya waktu, akan menjadi lemah seiring dengan tiupan tiupan angin yang berlalu, perlahan lahan akan rapuh dan mungkin mati, patah dari tangkainya, tertiup angin kesana kemari tanpa arah tujuan, terkotori debu debu, bakteri bakteri sehingga warnanya berubah menghitam, terhempas ke jalanan taman tidak ada yang mempedulikan, terinjak injak, terkoyak koyak, terpisah pisah bagian satu dengan bagian yang lainnya, kemudian hilang tertelan waktu, tak berbekas sama sekali, hanya kenangan yang tersisa, namun siapa yang akan mengingat sisa sisa kenangan yang menghitam itu" katanya tampak ada beberapa butir air mata yang menetes dari matanya tanpa dapat berbicara apa apa dadaku rasanya sesak , namun tetap saja egoku sebagai laki laki tetap muncul , kutahan air mataku mengalir agar tak di anggap cengeng , namun untunglah ia kembali tersenyum menatapku

"namun tidak semua mawar menghitam dan terbinasakan, yang namanya hidup ada suka ada duka, kita harus tetap optimis apapun yang terjadi jangan kalah dengan kehidupan, jangan mau menukar akhirat yang kekal dengan dunia yang semestara ini" ujarnya menatapku dengan  senyuman yang mengembang

"oh indahnya dibuatnya terpesona diri ini oleh sosoknya, cantik,anggun,cerdas, dan aku rasa masih banyak lagi kelebihannya" pikirku iapun berdiri dari duduknya dan menawariku " apakah kau mau memetiknya, akan kupetikkan satu untukmu" ujarnya
"jangan" kataku cepat menanggapinya agar ia tak memetiknya, ia kemudian tersenyum
"kenapa" katanya agak heran dengan sikapku
"aku tidak ingin memetiknya karena aku tidak ingin merusak keindahannya" ujarku berbangga diri , ia tertawa kecil
"kenapa tertawa ? lucukah" tanyaku heran sedikit kesal
"memang suatu hari nanti kamu tak ingin menikah ? " tanyanya 
"ya ingin menikah tapikan tidak ada hubungannya dengan mawar itu, biarlah ia tetap disana" ujarku
"mana bisa kamu menikah kalau begitu, tampaknya kamu terlampau baik" ujarnya sambil tersenyum padaku lalu berjalan ke arah mawar merah
"kog ?" tanyaku heran
"sadarilah kumpulan mawar mawar ini, bayangkan ini adalah wanita yang kau sukai dan ini ayahnya , ini ibunya, ini ini ini dan ini dan ini saudara saudaranya" katanya sambil menunjuk nunjuk mawar mawar, banyak sekali yang ia tunjuk hingga membuatku bingung

"begini, semisal kamu menyukai seorang wanita dan kamu ingin menikahinya, dan itu berarti setelah menikah nanti wanita yang menjadi istrimu itu akan ikut kemanapun engkau pergi, meninggalkan apa yang istrimu punya selama ini, meninggalkan ayahnya, ibunya, adiknya, kakaknya, saudara saudaranya, begitulah mawar mawar disini ketika kamu memetiknya kamu akan membuatnya terpisah dari mawar mawar lainnya yang berada disini, kamu bilang tidak ingin memetiknya, namun kamu ingin menikah bukan, bagaimanapun suatu saat nanti kamu akan memetiknya dan akan membawanya pergi memisahkannya dengan mawar mawar lain yang ada disini" ujarnya dengan tersenyum

"lalu aku harus bagaimana" tanyaku
"ambillah pohonnnya lalu tanam dan rawat baik baik di dalam rumahmu" ujarnya dengan senyumnya 
ia berdiri memandangku dengan tegak kedua  tangannya melipat di perutnya di terpa angin roknya yg panjang tertiup kerudungnya tertiup
wajahnya tersenyum , indah sekali , anggunnya

Tanpa sadar hari telah sangat sore, setelah mengucap salam kamipun berpisah saling memberi terima kasih , sama sama tertawa kecil melihat tingkahku yang grogi.



akhukum fillah arif zainurrohman




sebuah surat untuk istri

assalamu'alaikum
duhai istriku
ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan

aku hanya ingin memberi tahu bahwa
saat aku melamarmu, aku bukan mencari pelayan yang tugasnya melayani suami saja
aku mencari pendamping, sebaik-baiknya perhiasan yang aku miliki
maka selayaknya perhiasan, aku akan menjagamu sebaik-baiknya

saat aku melamarmu, aku bukan mencari seorang pemuas nafsu yang tugasnya hanya menjadi bulan-bulanan nafsu syahwatku belaka
sungguh aku mencari calon ibu terbaik bagi anak-anakku
maka akan aku perlakukan dirimu sebaik-baiknya
karena jika aku menyakitimu
itu akan terasa sama seperti aku menyakiti ibuku sendiri

saat aku melamarmu, aku bukan mencari pembantu yang tugasnya mengerjakan ini itu dengan upah minim
aku mencari ustadzah dalam rumahku
jadi takkan kubiarkan engkau kerjakan semua pekerjaan rumah sendiri
aku takkan malu membantumu dalam hal ini
tentunya kau ijinkan kita berbagi pahala atas hal ini bukan?

kewajibanku mendidik anak-anak kita
kewajibanku mendidikmu
maka apabila ada salah dalam tindakanku
tegurlah......benahi laku ku yang salah
agar aku dapat menjadi imam yang terbaik....yang memberi tauladan bagimu dan anak-anak kita
dan kita akan bertemu di surga kelak

Memang itulah ujian laki-laki mas

Laki-laki kadang tidak rasional jika berhadapan dengan keinginan untuk melindungi perempuannya.

Pendahuluan

Setiap kita pasti memiliki dan menjalani ujian. Dan setiap kita memiliki ujian yang khas. Kita yang laki-laki memiliki ujian yang khas dan kadang kurang dimengerti oleh perempuan. Begitu juga sebaliknya. Orang kaya memiliki ujian yang khas yang kadang tidak mudah dimengerti oleh kaum dhuafa. Dan sebaliknya dan semacamnya.

Ini kisah tentang ketidakmengertian perempuan yang saya dapatkan dari anak-anak selama liburan kemarin.

Begitulah perempuan, mas

Salah satu agenda gadisku adalah ketemuan dengan teman2 sepondoknya ketika SMP. Mereka sekarang tersebar di SMA, MAN dan beberapa pondok. Kami ijinkan Inas datang ke acara itu. Dan siang itu Inas berangkat. Dia kirim sms untuk pamit. saya balas dengan doa dan memintanya untuk berhati-hati.

‘Im, aku berangkat ya?’, pamit Inas kepada Zaim. Zaim yang sedang bermain mengiyakan dan menyambut uluran tangan kakak perempuannya. ‘Naik apa, mbak?’. ‘Ngebis’. ‘Ke lapangan naik apa?’. ‘Jalan kaki…’. ‘Aku antar po, mbak?’, tanya Zaim sekaligus menawarkan jasanya. ‘Naik apa, Im?’. ‘Sepeda’. ‘Ada jalunya po?’, tanya Inas kepada Zaim terkait tawarannya. Jalu adalah sebutan anak-anak kampong kami untuk pijakan kaki yang bisa dibongkarpasang. ‘Nggak ada sih, mbak. Aku pasang dulu po, mbak?’. ‘Nggak usah, Im. Sudah ya, Im? Aku berangkat,.,.. Salamualaikum,.,.,.’.

‘Nggak papa, mbak. Di daerah ini banyak preman, mbak. Mbak Inas harus hati-hati.’, kata Zaim menanggapi protes sang kakak ketika menemaninya menuju lapangan Ringin untuk mencegat bus. Rupanya mas Zaim tidak tega dan sanggup meninggalkan teman bermainnya untuk mengawal sang kakak cantiknya. Inas diam saja. Ini juga daerah Inas. Inas sebenarnya juga cukup hafal daerah di seputar rumahnya. Dan memang tidak ada bahaya yang berlebihan di sekitar rumah kami. Tapi Inas tak kuasa menahan aksi sang adik.

Menunggu bus rupanya cukup lama dan itu memicu timbulnya aksi laki-laki bagi lelaki kecil kami. ‘Haus, mbak. Aku belikan minum…’, tawarnya tanpa menunggu persetujuan Inas. Dia mengayuh sepedanya ke warung es jeruk. Dia ingin memesankan 2 porsi untuknya dan untuk mbak Inas. ‘Berapa 1 gelas, bu?’, tanyanya. Jawaban ibu warung membuatnya urung memesan 2 gelas. Uang Zaim kurang. Dia bergeser ke warung sebelah. Agak jauh dan agak memakan waktu. Dia pesan es teh instan dalam kemasan. Harganya lebih murah sehingga dia dapatkan 2 bungkus. Dia bawa 2 bungkus itu dan kembali ke tempat Inas menunggu bus.

Inas sudah tidak ada. Inas sudah di bus. Tanpa pemberitahuan. Dan itu membuat Zaim pulang dan menyimpan es teh itu di lemari es kami. ‘Mbak Inas menginap di pondok koq, Im’. ‘Nggak papa’, jawabnya tanpa ekspresi sedih.

Terhadap kisah ini, gadis-gadisku tertawa-tawa. ‘He2,.,.,. Zaim ditolak… Zaim dicuekin cewek…’, begitu mereka meledek. Saya Cuma tersenyum melihat kedekatan mereka. Mereka memang sudah memberi hal manis dalam hidupku.

‘Mas, memang laki-laki harus peduli. Laki-laki itu harus terus memberi meski perempuannya agak tak berterima kasih, mas’, kataku membuka pembicaraan ketika semua cerita ini disampaikan kepadaku. ‘Perempuan memang kadang tak mengerti ujian kita, mas’, kataku menatapnya. ‘Wuu,.,.,. Ngajak perang nih…’, kata para gadisku di belakang punggungku. saya menyengaja menyampaikan hal ini di hadapan perempuan-perempuanku. saya tersenyum dan bersyukur. saya memang sedang mengajari, mengajari lelaki kecil kami dan mengajari kaum perempuan itu.

Perempuan rawan situasi ini. Perempuan mudah melupakan jasa-jasa laki-lakinya. Ada banyak celah dari lelakinya yang bisa digunakan untuk tidak berterimakasih.

"Alloh tidak memandang seorang wanita yang tidak berterimakasih kepada suaminya, padahal dia butuh kepadanya".
(HR. An Nasa-i, dengan sanad yang shohih).

Saya tidak sedang melecehkan perempuan dan membanggakan laki-laki. Karena sebenarnya yang terjadi tidak sepihak. Laki-laki juga bisa saja menemukan alasan untuk tidak berterimakasih. Tetapi saya Cuma sedang memberikan penekanan pada kisah anak-anak itu. Dan pantasnya, saya mengambil sudut pandang itu. Maka jangan anggap saya melecehkan perempuan dan membanggakan laki-laki.

Penutup

Kisah itu bukan kisah hebat. Bahkan, sebenarnya, saya masih heran terhadap beberapa bagian dari cerita itu. Termasuk bagaimana Zaim sanggup meninggalkan kawan bermainnya ‘hanya’ untuk menemani Inas. Padahal adzan-pun kadang tak membuka telinganya ketika bersama kawan-kawannya. Cerita itu juga mungkin dicibir oleh anda pandai dalam soal makanan anak-anak karena ada es jeruk, es teh dan semacamnya. Cerita itu cerita biasa.

Tapi meski cerita biasa, saya ingin mendapatkan hal istimewa dan memberikan sesuatu buat mereka. Dan karena saya juga ingin berbagi dengan anda, maka saya tuliskan kisah itu di sini. Terima kasih. 


Curahan Hati Seorang Istri

Curahan Hati Seorang Istri



Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan"
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya:
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan
saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu.Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya. "Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.